Ketika Belum Mampu Melamar

Saya tahu sih beberapa lelaki ada yang ingin memperbaiki diri, mempersiapkan mental, fisik, jiwa, raga, bahkan keuangan hingga akhirnya ia berani melamar seorang gadis untuk menjadi istrinya. Itu sungguh hal yang mulia menurut saya ketimbang lelaki itu dengan mental abege cuma berani ngajak pacaran.

Lelaki yang seperti itu menurut saya lelaki yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga terhadap calon istrinya siapapun itu. dan lelaki seperti ini tentu saja digilai perempuan kan? Okeh deh. Saya deh saya. kalau saya pasti tergila-gila dengan lelaki seperti ini.

Kebanyakan dari mereka sebenernya tengah naksir dengan perempuan idaman. Dengan perempuan yang untuk dirinyalah segela persiapan menuju kematangan dan kemapanan diri ia persiapkan agar kelak pantas untuk meminang gadis itu. Sementara gadis itu pun juga tahu kalau sang lelaki menaruh hati padanya hanya saja tak juga berani diutarakan.

Lelaki tak berani mnegutarakan karena faktor dirinya yang belum matang dan mapan baik secara batin maupun keuangan.

Menurut saya nih ya, kenapa lelaki itu tak meminta sang gadis untuk menunggu?

Saat belum mampu berkata, maukah kau menikah denganku?, kenapa tidak bertanya, maukah kau menungguku?

Resikonya sama saja kan? Bakal diterima atau ditolak. Bakal diiyakan atau ditidakacuhkan.

Sama.

Tapi akhirnya dengan bertanya bersediakan perempuan itu menunggunya maka si perempuan tahu kalau ia tak bertepuk sebelah tangan. Bahwa ia tak sedang digantung. Meskipun belum pasti tapi bukankah ini salah satu bentuk kepastian ditengah-tengah ketidakpastian?

Perempuan manapun menginginkan kepastian. Diminta untuk menunggu menurut saya juga sebuah kepastian. Maka dari situ kita bisa tahu kalau sang lelaki begitu menginginkan si gadis dan tak ingin si gadis bersama yang lain. karena dirinya belum siap maka ia meminta diberi waktu.

Nah, tinggal hati si gadis saja. Kalau ia memang menyukai dan juga menginginkan si lelaki pasti ia mau menunggu.

Saya deh saya.

Kalau ada lelaki yang dengan sungguh ingin menjadikan saya istrinya namun masih ada hal yang harus ia lakukan sebelum ia bisa melamar saya, saya mau kok menunggunya. Tentu saja bila ia meminta.

Karena menikah kan gak bisa asal-asalan kan yak. Butuh persiapan. Kalau emang hati udah cucok dan hanya diminta menunggu ya kenapa tidak?

Tapi kebanyakan dari lelaki yang mendekati saya sih gak pernah menyuruh saya demikian. Cuma selalu bilang sama saya, ‘andai aku udah punya kerjaan bagus, pasti berani deh lamar kamu, Tan,’ dengan nada pesimis.

Padahal nih ya, kalau ia berani membuat suatu janji sama saya lalu meminta saya menunggu ada kemungkinan loh saya mau menunggu.

Kemungkinan loh yak. Hehehehe..

Karena menurut saya permintaan itu juga merupakan sebuah keputusan akan kepastian. Supaya kelak gak ada yang menyesal. Supaya kelak gak ada yang namanya terlambat datang. Supaya semuanya menjadi jelas bahwa posisi kita ada di mana pada hati satu sama lain.

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Belum Mampu Melamar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s