Single but…

Seorang nasabah yang berniat modus pernah bertanya sama saya, “Punya pacar gak, Bu?”

Saya jawab tidak sambil menyunggingkan senyum.

Seorang teman pernah mengirimi saya sebuah sms dan bertanya, “Kamu masih berhubungan sama pacarmu, kan?” dengan nada khawatir akibat status saya yang terlihat kayak abis patah hati. Status palsu itu mah.

Saya membalas sms-nya dengan kalimat, “Loh, aku emang gak punya pacar.”

Seorang teman di perantauan bertanya, “Ciyeee… kado buat pacar yak? Udah ada pacar sekarang?”

Saya jawab, “tidak” sambil nyengir.

Ya saya tidak punya pacar. Tidak berdusta. Tapi semua pertanyaan di atas ada sambungannya.

Tidak punya pacar. Calon suami ada,” ucap saya kepada nasabah yang ingin menjodohkan saya dengan anaknya.

Loh, aku emang gak punya pacar. Adanya tuh calon suami.” Balasan sms saya.

Bukan kok. Bukan buat pacar. Buat calon suami,” jawab saya kepada teman di perantauan.

Ya saya memang gak punya pacar. Saya punyanya calon suami. Saya single emang, tapi gak available.

Nah loh.

Bingung emang gimana mesti menyebut lelaki yang tengah dekat dengan saya ini dengan sebutan apa. Awalnya di blog saya ini saya menyebutnya Lelaki yang datang di bulan Agustus. Tapi lalu saya sering menyebutnya lelaki yang tengah dekat dengan saya. tapi lalu akhirnya saya memberanikan diri menyatakan Calon Suami. Ya biar ringkas saja sih.

Karena bila dikatakan pacar kami tidaklah pacaran. Menyebut kekasih saya ogah, karena saya takut entar dipanggil keterima (inspiration by tweet someone who I follow but I forgot who is the one). Dibilang gak ada hubungan apa-apa yang mengarah spesial sih gak juga. Soalnya kami punya rencana mulia ingin bersatu di pelaminan menyempurnakan separuh agama (Ebuset…. Bahasanya…)

Jadi meskipun gak pacaran dan memang gak seperti orang pacaran pada umumnya dikarenakan faktor jarak (lagi dan lagi) maka saya memutuskan untuk menyebutnya calon suami.

SAH!

Kadang saya manggil dia juga gitu. Etapi bukan calon suami, melainkan calon bupati. Ya saya punya kisah tersendiri kenapa menyebutnya calon bupati untuk menggantikan kata calon suami. Dia memanggil saya calon wakil bupati. Eaaaa… itulah hal paling unyu-unyu dan manis yang bisa kami lakukan bersama selama menjalani hubungan ini.

Gak usahlah ditanya asal muasal kata calon bupati dan wakil bupati itu. Entar kalau sempat saya cerita (kayak ada yang pengen tau aja).

Nah, jadilah saya punya calon suami dan bukan punya pacar. Lagian seperti yang pernah saya katakan duluuuu banget: Pacar adalah mantan yang tertunda. Dan karena saya gak pengen lelaki ini berakhir menjadi mantan makanya saya ogah menyebutnya pacar. Saya menyebutnya calon suami karena berharap di tahun depan dia beneran bisa jadi suami saya. Perkataan adalah doa, bukan? maka berkatalah yang baik-baik, itu yang saya percaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s