Bagaimana Bisa Mencintai yang Telah Mati

Dalam film, novel dan dongeng selalu saja dikatakan bahwasanya yang sudah tiada masihlah bersama dengan kita.

Saya tidak percaya.

Pernah kan mendengar kalimat, “Kamu jangan nangis, dia pasti tak ingin kamu bersedih,”

Atau

Tersenyumlah dan kembalilah menikmati hidup, nanti dia juga akan bahagia di sana.”

Sejak almarhum pacar saya akhirnya meninggal saya sadar dan teramat yakin kalau akhirnya hubungan kami benar-benar terputus. Dia tak lagi mampu mendengar suara saya. Dia tak lagi melihat saya. Bahkan saya rasa dia tak tahu berapa banyak air mata yang mengalir ketika dia pergi tanpa sedikitpun aba-aba untuk saya.

Juga, dia tak lagi bisa membaca tulisan-tulisan saya untuknya. Dia tak lagi tahu betapa rasa rindu saya begitu buncah untuknya. Dia tak tahu.

Alam kami sudah berbeda.

Yang saya yakin adalah dia tak sempat memikirkan saya yang telah ditinggalnya karena dia sendiri tengah sibuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah ia lakukan semasa hidup.

Mungkar-Nangkir menghampirinya. Memberikan pertanyaan-pertanyaan.

Meski begitu saya tetap merinduinya, saya tetap menulis untuknya, yang seakan-akan berharap ia tahu meskipun saya tahu ia tidak.

Lalu kenapa saya tetap menulis begitu? Itu hanya berupa percakapan diri saya kepada kenangan tentangnya yang masih terus ada di hati saya. Meski saya tahu ia tak lagi ada saya hanya ingin membuatnya ada. Saya hanya ingin memulihkan jiwa saya atas kepergiannya.

Bodoh?

Yah.. cinta tak lepas dari kebodohan. Dan saya pernah bodoh. Pernah mencintainya.

Pernah.

Sekarang tidak.

Karena saya tak mencintai orang yang telah mati. Saya mungkin masih mencintai kenangan yang pernah ada ketika bersamanya. Namun bukan orangnya yang telah tiada kini. Karena saya masih cukup waras untuk mencintai orang yang telah mati.

Tulisan saya kasar dan seolah membuyarkan pikiran indah orang-orang yang masih berharap pada yang telah mati? Maaf. Maaf sebenar-benar maaf. Bukan ingin merusak khayalan. Hanya saja setau saya begitulah adanya orang-orang yang telah mati. Terputus semuanya dari dunia ini kecuali 3 hal: ilmu yang bermanfaat, doa anak yang sholeh, dan sedekah jariyah.

Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia sepeninggal orang yang telah mati tak ada kaitannya dengannya. Karena kita hidup untuk kita sendiri sementara dia telah mati dan mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah ia perbuat semasa hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s