Beristikharahlah

Galau, saya curhat pada sahabat saya. saya menceritakan perihal siap dan tidak siapnya saya menikah. Perihal siap-tidak siapnya saya menikah dengan lelaki yang tengah dekat dengan saya sekarang. Perihal siap-tidak siapnya saya menikah dengan lelaki yang tengah dekat dengan saya sekarang pada tahun depan.

Kali ini menurut saya galau saya ini tidak sederhana. Karena saya sendiri bingung apa maunya saya dan ada apa dengan mood saya. Terkadang saya pengen aja gitu menikah secepatnya yang kalau bisa sih bulan depan. Terkadang pengen aja gitu si dia melamar saya dengan cincin emas putih berhiaskan berlian berwarna putih bening sempurna, dengan ukuran 3 carat, dengan tingkat kejernihan flawless, plus gosokan berlian yang very good. Namun terkadang saya meragu, apakah saya mampu bersanding dengan lelaki cuek-kaku yang tingkat kecuekannya 11-11.5 ama saya. Berhadapan ama dia seperti bercermin. Terkadang juga ngerasa apa iya saya pantas menjadi seorang istri.

Begitulah kira-kita curhat galau saya sama sahabat-sahabat saya, yang akhirnya mendapat celetukan dari seorang sahabat, “Shalat istikharah aja, Tan.”

Kening saya mengernyit, lalu saya menjawab, “Lah, aku kan gak sedang memilih di antara 2 orang. Yang deket ama aku sekarang lakinya satu. Jadi gak milih sih.”

Lah, istikharah tu bukan hanya untuk memilih diantara dua pilihan semisal bingung milih lelaki A atau lelaki B. Istikharah juga berguna meminta petunjuk pada Allah agar hati menjadi mantap. Gak meragu. Dan akhirnya keputusanmu bener. Bener menikah ama dia atau tidak.”

Hooo… otak dangkal saya selalu mengira istikharah itu kalau kita bingung milih lelaki A atau lelaki B untuk kita nikahi kala lamaran datang hampir bersamaan.

Bego siy saya yak. Hobi makan udang siy.

Tapi setelah mendapat saran itu saya malah kembali meragu dengan melontarkan pertanyaan, “terus kalau aku shalat dan dapet jawabannya gimana nih? Gimana kalau jawabannya bukan yang aku inginkan?”

Mereka tertawa. Sahabat-sahabat saya tertawa.

Itulah gunanya istikharah oi,” dia tak sabar

Tahu sih. Cuma kan, aku takut juga istikharah.”

Takut kenapa?”

Takut kalau jawabannya adalah aku gak boleh nikah sama dia,”

Lah.. berarti kamu beneran pengen nikah ama dia, kan?”

Hela nafas saya hembuskan berat, “gak tahu. Kadang pengen kadang enggak.”

Saya labil emang.

Makanya istikharah, Tan. Agar hati kamu mantap. Agar tak ada keraguan.”

Ya… lalu akhirnya saya beristikharah juga. Harap-harap cemas dengan ketentuannya. Meminta agar hati tak terus meragu dan bimbang.

Dia juga saya minta untuk istikharah.

Maka setelah ini saya berharap setiap rakaat-rakaat istikharah yang kami lakukan menemukan jawaban atas pilihan yang membawa kepada keputusan.

Aamiin…

One thought on “Beristikharahlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s