Ketika Positive Thinking Membawa Mudharat

Jangan terlalu positif lah, entar hamil.

Saya ini hobi tidur. Tentu saja selain hobi makan. Kalau dipilih mana yang lebih hobi sih kayaknya tidur. Soalnya saya bisa tidur di mana saja, kapan saja dan dalam situasi apapun.

Salah satu kondisi yang tepat ketika saya memejamkan mata adalah ketika sedang dalam perjalanan. Terutama perjalanan dengan kendaraan umum pasti bikin saya ngantuk.

Awal mula saya sadar hal ini adalah ketika sempat bermukim sementara di Jakarta. Saat naik bus Trans Jakarta, saya kerap tidur tenang di dalamnya. Hal ini tentu saja kalau saya naiknya ya bareng temen atau bareng alm pacar saya. saya tidur tenang, mereka yang jagain saya. Etapi kalau kebagian tempat duduk ya, kalau berdiri mah gak bisa tidur saya.

Bekerja di Kabupaten Bireuen menuntut saya selalu naik bus juga setiap kali pergi ke kantor. Ya soalnya saya tinggal di kota Bireuen, tapi ngantornya di kecamatan Kutablang. Jaraknya mungkin 15-16 kilo lah. Kalau naik bus makan waktu 30 menit.

30 menit yang berharga kalau dipake Cuma buat bengong liatin jalanan yang pemandangannya pohon-pohon atau sawah mulu. Jadi demi memanfaatkan waktu saya tidur. Gak lelap banget kok, masih nyadar-nyadar juga.

Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandai saya tidur dalam bus pasti akan ketiduran yang bikin kelewatan juga.

Beberapa hari lalu. Jadilah saya kelewatan hingga 5-7 kilometer dari tujuan sebenarnya. Udah nyasar ke kecamatan yang berbeda di negeri antah berantah yang tak pernah saya jejaki.

Saat di dalam bus saya sempat terbangun. Lalu sadar ini masih setengah perjalanan saya tidur lagi. nah pas bangun kedua kalinya saya mulai berasa ada yang aneh. Pemandangannya tak biasa. Rumah-rumah yang dilewati tak lagi familiar. Lahan-lahan kosong yang meski berisi pohon yang sama tapi tak menunjukkan ingatan yang sama. Dalam hati saya udah curiga kalau saya kelewatan nih. Namun saya POSITIVE THINKING aja, berpikir saya belum lewat karena ketika saya melihat jam, waktu tempuh saya masih 20 menit. Biasanya sampai tujuan 30 menit. Gak mungkinlah 20 menit udah kelewatan begitu pikir saya.

Masih saya cermati jalanan yang dilewati bus yang saya naiki. Pemandangan kian tak akrab dengan bola mata dan ingatan saya. Gong-nya adalah ketika saya melihat adanya sebuah pom bensin. Tapi dasar saya suka POSITIVE THINKING saya masih mikir, “Ah.. mungkin selama ini saya selalu tertidur ketika di jalan jadinya gak ngeh kalau ada pom bensin di daerah ini,” yang padahal sebelumnya mikir, “sejak kapan Kutablang ada pom bensin?”

Mata masih awas. Jalanan kian aneh. Saya lalu mulai mencari-cari toko yang bisa saya baca ini kalau saya tengah berada di mana. Tapi daerah pertokoan belum juga muncul. Yang ada hanya rumah, tanah serupa hutan, tanah serupa hutan, tanah serupa hutan, rumah, rumah, tanah serupa hutan, tanah serupa hutan, tanah serupa hutan, dan toko. Akhirnya saya menemukan toko. Saya gak peduli nama toko tersebut dan apa yang dijual yang saya mau tahu adalah alamat toko tersebut yang ditulis di bawah nama tokonya.

Kec. Gandapura, Kab. Bireuen.

Gandapura. Saya bernafas lega. Kabupaten Bireuen. Saya tambah lega. Masih di Bireun toh. Belum masuk ke wilayah Kota Lhoksemawe, begitu pikir saya.

Saya anteng lagi sambil mengingat-ingat kecamatan Gandapura di mana. Seingat saya kecamatan ini sebelum kecamatan Kutablang kalau dari arah Bireuen, tempat saya tinggal.

Yap. Saya POSITIVE THINKING kalau kecamatan Gandapura adalah sebelum Kutablang. Jadi saya belumlah kelewatan. Hore. Hore. Ho….

Tapi tunggu.

Pasar?

Bus sudah memasuki daerah yang ramai. Ini daerah pasar.

Mulailah saya pucat pasi. Saya memang kelewatan. Gak mungkin lagi saya berpositif thinking kali ini.

Cepat-cepat saya menelepon rekan saya,

Gandapura itu sebelum Kutablang atau setelah Kutablang?”

Setelah Kutablang.”

Jawaban itu membuat petir menggelegar dan hujan turun dengan deras. Ya meskipun nyatanya pagi itu suasana cerah ceria.

Buru-buru saya turun. Buru-buru pun setelah si rekan nyuruh turun ketika dia tahu saya udah kelewatan. Turunlah saya dari bus. Dan saya bengong.

Dengan tampang bego saya sadar saya kelewatan. Dan lalu dengan aktivitas pasar yang rame tetiba saya pening seketika. Lalu lalang orang-orang membuat tampang bego saya makin bego. Saya nyasar, saya bingung dan untung gak pake diperkosa segala (bukan ngarep).

Setelah tanya dengan seorang bapak muda ganteng yang sedang menggendong anaknya (ya saya sengaja nanya ama bapak itu alih-alih ama bapak setengah baya yang nongkrong di warung kopi) saya dapati informasi bahwa bus yang biasa saya naiki masih akan lalu lalang. Jadi saya gak perlu panik gak ada angkutan. Dan bapak muda ganteng itu juga menginformasikan bahwa kutablang tak terlalu jauh dari situ. Hanya 15 menit.

Tapi nunggu bus-nya yang lama.

20 menit saya berdiri mengenakan heels 5 cm barulah itu si bus datang. Lengkap dengan penuh sesaknya isi bus. Lalu saya teringat akan pesan dia yang selalu melarang saya pake heels. Katanya mau tebar pesona sama siapa pake heels kalau kerjanya di daerah terpencil begitu. Iya, kalau pegel gegara capek berdiri saya selalu inget nasehatnya. Tapi kadang saya bandel, lagian kasian sepatu-sepatu saya itu kalau hanya teronggok di kamar.

Setelah dapat bus dan putar haluan. Saya lalu sibuk menjaga-jaga pandangan saya agar tak kelewatan lagi. Kali ini mata saya harus lebih positif dari pikiran saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s