Kalau-kalau Mandul

Taraaaaaaaaaaaa.. saya muncul lagi dengan ulasan yang diangkat LAGI-LAGI dari karena sebuah novel/film berjudul Test Pack.

Huehuehehehe…

Telat kayaknya saya heboh sama tema ini yak? Tapi yah tiba-tiba aja siy kepikiran tentang Test Pack, mandul dan sebagainya.

Jadi, saya dan calon suami membahas soal mandul-mandulan itu.

Okeh. Kenapa saya sebut calon suami? Karena saya ngarep banget dia jadi suami. Jadi semakin sering disebut ya jadi semacam doa gitu kan yaaaa?

Kami membahas tentang bagaimana kelak bila salah satu dari kami mandul. Saya sih lebih memposisikan diri saya yang mandul. Lalu dengan santainya dia menjawab.

Eh bukannya bagus ya itu? Maksudnya ambil hikmahnya aja deh. Kalau emang itu kejadian jadinya kan kita bakal romantis terus gitu?” komentarnya membuat kening saya mengernyit.

Lah, kok romantis? Bukannya kalau gak punya anak entar hubungan jadi hambar dan nanti pasti akan saling menyalahkan?”

Gini loh, kalau kita belum punya anak juga pastinya kita akan terus berusaha untuk punya anak sampai berhasil kan? Nah ketika berusaha itu ya… tahu sendirilah kita harus ngapain, nah bukannya semakin sering kita berusaha semakin sering pula kita beromantis ria dan semakin mesra kitanya?”

Tapi kalau jenuh karena gak kunjung punya anak gimana?”

Yah, balik lagi kayak di awal-awal omongon abang ke Intan pas baru kenal. Tentang mencari pasangan dan berusaha mencintai kekurangan pasangannya. Karena kalau mencintai kelebihan itu mah semua orang juga bisa, tapi ketika menikah tugas kita juga adalah mencintai kekurangan pasangan kita. Gak bisa punya anak ya kekurangan. Ambil aja hikmah. Mungkin kalau itu terjadi sama kita hikmahnya adalah kita bisa terus-terusan pacaran kayak abegeh.”

Penghulu mana penghulu????

 

Sumpah, ketika mendengar pernyataannya barusan tetiba saya pengen nyari penghulu aja bawaannya. Pengen langsung nikah saat itu juga sama dia.

tapi alih-alih nyari penghulu saya malah berusaha tenang dan gak GR lalu kembali bertanya, “Mungkin gak kalau nanti abang nikah lagi supaya tetep bisa punya keturunan?”

Hmmm…” kali ini ia tampak kesulitan menjawab. Tak selancar sebelumnya.

Abang gak tahu ya, Tan. Itu sesuatu yang belum terjadi, abang gak bisa janji apa-apa. Takutnya kalau abang bilang ‘iya’ malah jadi ‘gak’, atau sebaliknya. Abang takut janji sama sesuatu yang gak pasti. Dan semua hal di masa depan itu gak pasti.”

Mendengar jawabannya saya bukannya kecewa. Saya malah senang. Karena dia bukanlah tipikal lelaki pengumbar janji. Saya sendiri juga tak suka diberi janji. Karena bila berjanji saya akan menagihnya suatu saat tepat persis seperti janjinya. Ya saya orangnya seperti itu. Dengan dia menjawab dengan level aman kayak gitu saya cukup senang, karena kelak saya gak mesti kecewa bila ia tidak menepati janjinya.

Yah.. ini kan ceritanya kalau-kalau lah ya…

Saya inikan orangnya suka mikir yang gak jelas. Makanya topik ini timbul. Ya mudah-mudahan saja tidak ada diantara kami yang mandul dan kami bisa punya anak sampai 4 🙂

Meski begitu sebenarnya saya tetap saja penasaran loh. Apakah rahim saya sehat? Apakah saya mampu punya anak? Dan anehnya pikiran ini sudah muncul bahkan ketika saya SMA. Dan saya bertanya-tanya apakah bisa kita mengecek kalau kita mandul atau tidak pada saat kita belum menikah? Pernah ada yang menjawab tidak bisa. Ada yang tahu jawaban pastinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s