Menolong Ibarat Investasi

Saya punya seorang teman. Saya mengaguminya diam-diam. Temen tempat saya bertukar pendapat. Temen tempat saya mengadu kala susah. Temen tempat saya minta bantuan. Bahkan temen tempat saya minjem duit saat kepepet. Dan semua bantuan yang dia berikan selalu dengan sigap, tanpa komplen, tanpa penolakan, tanpa pamrih, tanpa rasa gak ikhlas.

Tulus. Itulah satu kata yang mampu saya gambarkan tentang teman perempuan saya ini. Jarang sekali saya temuka orang seperti dia. bahkan sahabat-sahabat saya yang sudah bertahun-tahun menjadi dekat dengan saya tak seperti dia. tak pernah ada ‘excuse’ terhadap apapun bentuk pertolongan yang saya perlukan.

Perempuan itu sebenarnya gak tergolong sahabat dekat saya. Bukan tempat saya mengadu dari urusan beli baju sampai cinta. dia tak sedekat itu. tapi bantuan darinya mengalir kepada saya melebihi bantuan teman dekat saya yang lain. tanpa segan, tanpa sungkan.

Lambat laun, banyak kisah yang saya ceritakan padanya. Tapi kebanyakan hal serius. Untuk hal sepele dan remeh temeh tetap bukan dia tempat saya cerita. Dia sosok yang mendengarkan dan memberi solusi. Mengajarkan dan memberi tahu. Dan saya selalu kagum dengan perempuan itu.

Suatu ketika saya akhirnya jatuh hati sama dia adalah ketika dia selesai cerita kalau kemarinnya dia donor darah. Pengalaman pertama makanya dia ceritakan. Ketika saya tanyakan donorin kepada siapa lalu dia ceritakan kepada Ibunya seorang temen di kampus yang sama.

Sejujurnya gak bisa dikatakan temen. Perempuan itu hanya tau orang yang dia bantu itu adalah seorang mahasiswi di Fakultas yang sama. Jurusan berbeda dan bahkan tak kenal banget. Dia tau si mahasiswi itu membutuhkan donor untuk Ibunya dari broadcast BBM. Mengetahui golongan darahnya cucok dia segera mencari tahu keberadaan si Ibu Mahasiswi dan langsung mendonorkan darahnya tanpa ba-bi-bu.

Saya kaget.

Tak kenal maka tak sayang?

Sepertinya tak berlaku bagi perempuan yang saya kagumi ini.

Dia memang gemar menolong. Siapapun dan kapanpun. Selain ini banyak kisah yang saya dapatkan dari dia. Sering saya komplen tentang betapa sibuknya dia, tapi lalu dia berikan alasan dia sibuk karena nolong orang ini nolong orang itu. Tanpa bermaksud pamer, hanya menjelaskan. Dan lagi saya takjub.

Dia juga gemar membantu teman-teman yang masih nganggur. Menghubungi mereka dan menawarkan pekerjaan. Tanpa diminta. Inisiatif sendiri. Super.

Lalu selayaknya fans, tentunya fans itu ingin mengikuti jejak langkah sang idola. Itulah yang tengah saya usahakan. Menolong siapapun, kapanpun, tanpa pamrih, dengan tulus.

Karena akhirnya pada suatu hari saya menemukan fakta bahwa menolong layaknya investasi. Hari ini kita menolong suatu saat kita juga akan mendapatkan manfaat dari pertolongan orang lain. Orang lain itu bisa adalah orang yang sama yang telah kita tolong, atau malah orang lain. Karena siklus pertolongan itu sebenarnya tak berujung pangkal.

Jadi marilah menolong tanpa itung-itungan.Soal itung-itungan biar menjadi urusan Malaikat pencatat amal baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s