Mau Duda yang Kayak Gimana?

Beberapa tahun yang lalu saya dan dua sahabat saya terlibat sebuah percakapan konyol tentang lelaki berstatus duda. Awal mula percakapan terjadi karena salah satu sahabat bercerita tentang ia yang pernah diminta (red: dilamar) sama lelaki berstatus duda. Bukan sekedar duda, melainkan DUREN MAPAN. Iya, duda keren, mapan, dan masih muda. penyebab kedudaannya adalah karena ia bercerai.

Saya dan sahabat saya satunya menggoda teman kami ini,

Bukannya enak ya ama duda?kan udah pengalaman?” celetuk saya sotoy sesotoy-sotoynya sambil menghirup kuah bakso yang masih panas di mangkuk saya.

Aih… pengalaman kek, apa kek males ah ama dua.” Komen si sahabat yang dilamar ama duda.

Tapi kan masih muda. Kata kamu juga ganteng. Jadi kenapa gak mau?” tanya sahabat saya satunya lagi.

Pokoknya gak mau ama duda.” Balas si perempuan itu setengah sewot.

Iseng, saya mengajukan pertanyaan, “Nih ya, andai-andai nih ya, kalian harus milih antara dua. Pilih duda karena istrinya meninggal atau duda karena bercerai?”

Keduanya tampak berpikir sejenak sambil terus menyantap bakso di hadapan masing-masing.

Mending yang cerai deh. Eh gak ding. Mending yang meninggal istrinya. Eh.. gak taulah. Bingung.” Si temen bingung sendiri. Saya senyum.

Emang kamu milih apa, Tan?” tanya si temen yang membuat topic ini terjadi.

Aku milih duda yang karena istrinya meninggal. Alasannya karena kalau yang bercerai kita punya kemungkinan diceraikan juga. Jadinya pernikahan kita kelak akan 50-50. Antara sukses atau tidak. Bila ia pernah menyerah karena suatu masalah dengan istri pertama, gak menutup kemungkinan dia akan menceraikan aku juga kalau ada masalah sama aku, kan?” jelas saya berikut asumsi-asumsi.

Tapi yang duda karena istrinya meninggal juga bahaya loh. Gimana kalau ia cinta mati ama istri pertamanya dan sulit melupakan istri pertamanya (saat percakapan ini terjadi kata ‘move-on’ belumlah populer)? Gimana kalau entar pas nikah dia terus membanding-bandingkan kita dengan istri pertamanya? Gak enak banget, kan?”

Eh iya juga yak?” saya jadi bego sendiri. “Jadi gimana ya bagusnya? Apa ya yang lebih bagus?”

Udah. Bagusan ama yang lajang. Biar belum pengalaman kan bisa sama-sama belajar,” ucap si temen yang dilamar duda menengahi dua sahabatnya.

Ah iya.. lebih baik ama yang lajang,” batin saya sebelum menghabiskan suapan terakhir kuah bakso yang pedesnya luar biasa itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s