Pasutri Tanpa Anak

Sebenarnya ketika saya menulis tulisan ‘Tentang Bagian Cerita Test Pack’ awalnya niatnya saya bukan menulis tentang itu. Tapi karena kalimat pembuka yang salah hingga membuat saya ngalor ngidul jadilah saya bercerita hal lain di sana ketimbang inti yang pengen saya ceritakan.

Mencegah hal serupa terjadi dua kali saya akan lanjut aja ke topik yang ingin saya ulas. Tentunya masih tentang Novel/Film Test Pack.

Singkat cerita novel itu menceritakan tentang sebuah keluarga yang tak memiliki keturunan. Lebih spesifik lagi suami yang mandul.

Ada beberapa pasang orang yang saya kenal yang memiliki kisah serupa. Yaitu tak memiliki keturunan. Beberapa yang saya temukan adalah seumuran dengan orang tua saya. Lalu setiap kali mengetahui ada pasangan yang belum memiliki keturunan tapi masih bersama dan saling setia satu kata yang terbersit di hati saya: hebat.

Saya takjub sama pasangan yang seperti itu. Mereka saling mengerti kekurangan masing-masing. Dan lebih dari itu, mereka menerima kekurangan pasangannya. Tentu saja salah satu dari mereka ada yang mandul atau apapunlah itu penyakit yang menghambat mereka untuk mempunyai keturunan, tapi pasangan lainnya yang sehat mau mengerti dan tetap menjalani bahtera rumah tangga berdua. Kadang mungkin mereka iri ketika melihat pasangan lain menggendong anak sementara mereka tak bisa merasakannya. Tetap bertahan pada pasangannya dengan tidak menceraikan pihak yang mandul atau tidak menikah lagi itu benar-benar luar biasa menurut saya. keren.

Maka dari itu ketika melihat sepasang pasutri yang telah berumur banyak masih bersama meski tanpa anak saya selalu terharu.

Tentunya hal itu menjadi pikiran juga buat saya, kelak ketika menikah dan saya mandul (semoga tidak ya Allah) akankah suami saya masih mau menerima saya menjadi istrinya atau satu-satunya istrinya?

Tentu harapan saya adalah jawaban IYA.

Makanya saya berencana banget calon suami saya nonton film itu, agar bila hal buruk terjadi (semoga tidak ya Allah) dia bisa pikir-pikir lagi tentang kenapa akhirnya kami memutuskan menikah.

Lalu bagaimana bila yang mandul adalah suami saya? apakah saya akan menceraikannya?

Bohong kalau saya bilang saya gak kecewa. Bohong kalau saya bilang saya gak menginginkan anak. Gila, saya lebih pengen punya anak ketimbang punya suami (setidaknya ini pikiran dua tahun lalu). Saya benar-benar ingin merasakan fitrah sebagai perempuan. Hamil, melahirkan dan menyusui. Saya pengen melalui fase itu.

Lalu bagaimana bila tidak bisa? Bagaimana bila suami mandul?

Untuk sekarang saya gak tahu pasti apa yang akan saya lakukan. Tapi kalau bila yang mandul adalah saya dan saya ingin suami tetap mampu menerima saya apa adanya, tentu saja saya harus melakukan hal yang serupa. Dan saya benar-benar memohon pada Allah agar bila hal itu terjadi pada saya, maka saya diberi keikhlasan dan kesabaran luar biasa.

Karena pernikahan memang tak semata-mata punya anak. Kalau Allah belum/gak ngasih ya berarti memang itulah yang terbaik bagi pasutri itu. Hikmahnya mungkin kita diuruh menyantuni anak yatim. Allah maha tahu.

Yaaah… ini kalau-kalau lah ya…

*dalam hati berharap banget bisa menjadi Ibu bagi 4 orang anak 

2 thoughts on “Pasutri Tanpa Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s