Mengendalikan Hormon Sindrom PMS

Mungkin karena saking cueknya, saya bahkan gak mengenali tanda-tanda perubahan fisik dan perilaku saat saya akan datang bulan. Maka itu saya selalu merasa tak ada kendala apapun ketika saya datang bulan. Abis kalau mau meneliti gejalanya pun itu sesuatu yang random dan tak pasti. Semisal nih ya, bulan ini ketika mau datang bulan akan ada minimal satu jerawat besar di wajah saya, tapi lalu bulan depan tidak begitu adanya. Bulan depan bisa jadi perut saya mules seketika, lalu bulan depannya lagi tidak dan tahu-tahu ketika saya pipis saya udah aja gitu kelabakan nyari pembalut.

Sampai dua bulan lalu.

Kayaknya Intan mau datang bulan nih,”

Sok tau ih”

Iya abis emosinya beda gini.”

Tadaaaaaaaaaaaa…

Benar saja dua hari kemudian saya kedatang si bulan.

Mendapati fakta tersebut saya jadi curiga sama orang yang menebak saya akan datang bulan, jangan-jangan… jangan-jangan… jangan-jangan…

Ah entahlah. Abaikan soal itu kalau kamu gak pengen tulisan ini beralur kemana-mana hingga fokus saya hilang.

Jadi gini, akhirnya sejak saat itu saya mulai lebih perhatian sama gejala akibat ketidakstabilan hormone saya menjelang haid. Daaaaan… benar. Saya merasa gelisah dan jadi cepat marah akan segala sesuatu yang sepele.

Iya, saya memang gampang marah orangnya. Tapi rasa-rasanya semenjak lulus kuliah saya lebih bis mengontrol emosi saya. Gak segitu labilnya kayak dulu.

Nah, saya kaget mendapati ternyata saya seperti perempuan pada umumnya juga. Gampang marah kalau lagi atau menjelang haid. Malah marahnya untuk hal sepele-lepe. Ya, salahkan hormone yaaa…

*kikir kuku*

Tapi lalu juga gak mau terperdaya oleh yang namanya hormone sialan perusak hubungan dan interaksi social saya ini. Sebisa mungkin saya kenali ia dan saya jinakkan.

Saya terbiasa mencatat siklus bulanan saya. Hanya untuk menjaga-jaga kapan harus saya membawa pembalut ke dalam tas saya akibat kondisi fisik saya tak jelas dalam menentukan tanda-tanda haid. Dari catatan tersebut saya jadi tahu kapan kira-kira di bulan berikutnya saya akan datang bulan lagi. lalu, ketika mendapati emosi saya yang gak nentu dan gelisah yang berlebihan saya tinggal cek catatan tersebut dan… langkah selanjutnya adalah mengendalikan hormone tersebut.

Saya gak mau dikuasi oleh hormone yang memang tengah tak stabil itu. Tak mau emosi berlebihan saya merusak hubungan saya ketika berinteraksi dengan orang lain. Maka ketika saya ingin marah pada seseorang saya selalu mengulang-ulang kalimat ini:

Tenang, Tan. Kamu hanya sedang terlibat gelaja hormone yang berlebih. Sebenarnya masalahnya sepele kok. Kamu aja yang emosinya gak terkontrol. Jadi menjauhlah dari hal-hal yang akan merusak hari dan hubunganmu entah dengan siapapun itu.”

Berhasil?

Kadang-kadang siy. Soalnya saya masih belajar juga. Beberapa hal berhasil saya jauhkan dari ledakan emosi saya, tapi kemarin saat saya memarahi kasir saya karena dia terlalu cepat mencetak laporan harian saya kebablasan juga.

Saya tipikal yang gak bisa tenang sebelum mengeluarkan uneg-uneg saya. Saya akan katakana A ketika harus katakan A, masabodo apakah ketika A itu menyakitkan orang yang denger atau malah membuatnya senang. Saya terbiasa terus terang. Tapi ketika si hormone menguasai saya hal itu menjadi sulit saya lakukan. Karena saya tahu ketika saya PMS (Pre Menstruasi Syndrom) segala hal menjadi tak objektif di mata, telinga dan pikira saya. maka saya harus mengalihkannya agar dunia tak kacau karena saya.

Apa itu?

Penasaran?

Akan saya katakan kok. Tapi bentar ya saya baca sms duluh.

Siyal. Sms dari provider, kirain…. -__________________________-“

Back to topic.

Jadi saya akan berlari. Berlari dari kenyataan.

Ngerti?

Literally loh maksud saya.

Berlari sungguhan. Jogging gituh. Olahraga.

Nah, saya akan berlari sampe capek. Sampai segala emosi saya terkuras. Sampai pulang-pulang saya kelaparan dan setelah mandi hanya tidur nyenyak yang mampu saya lakukan. Bangun-bangun segala terasa lebih baik.

Atau kalau saya lagi males lari saya akan memilih bersepeda sambil dengerin lagu-lagu melalui earphone yang saya setelh kuat-kuat. Etapi rada bahaya juga siy nyetel lagu kuat-kuat kalau sampai gak ngedenger suara klakson kendaraan di belakang. Kan sepedaannya di jalan raya. Gak lucu dong jadi mati konyol hanya karena ingin melenyapkan emosi.

Atau ada lagi nih yang biasa saya lakukan kalau lagi marah, cemas atau gelisah.

Yaitu, membersihkan kamar mandi.

Ya saya galaunya mah rajin. Kalau lagi galau bersihkan kamar mandi, menguras bak, dan menyikat lantai.

Karena saya memang butuh kesibukan untuk mengalihkan emosi saya. Saya butuh rasa capek berlebih agar mengalihkan perhatian saya dari hal-hal tidak menyenangkan yang saya rasakan. Setelah capek, laper, makan dan tertidur adalah suatu hal yang lebih nyaman dilakukan ketimbang meracau dan merepet gak jelas.

3 thoughts on “Mengendalikan Hormon Sindrom PMS

    1. kamu ternyata tipikal orang yang lumayan bisa mengendalikan amarah yak. saya sering mikir kalau ketika marah seseorang memilih diam berarti dia sedang mengendalikan marahnya.
      yaaahh meskipun kadang saya kasihan ama tipikal begitu, soalnya jadinya kaya makan ati sendiri😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s