Menyimpan Kenangan di Sudut Gudang

Bisa dibilang kelanjutan tulisan sebelumnya bisa juga tidak. Toh tulisan saya tidak sederajat dengan sinetron fenomenal Cinta Fitri.

Ini tentang boneka pemberian almarhum pacar saya.

Suatu hari boneka berkepala besar itu saya bungkus rapi dengan sebuah plastik putih dan saya rekatkan dengan lakban sedemikian rupa. Melihat saya begitu semangatnya membalut boneka itu seperti orang tengah emosi, Ibu saya berujar.

Putus ama dia ya?”

Saya kaget akan pertanyaan beliau. Lalu iseng saya menjawab, “iya” sebenarnya tidak sama sekali.

Jadi segitu aja cinta kalian berdua?”

Alih-alih menjawab pertanyaannya saya malah terbahak-bahak.

Buset. Bahasa kalimat ibu saya itu loh. Saya menerka sekaligus menuduh ini pasti karena pengaruh sinetron Putri yang Tertukar yang kerap beliau tonton tiap malam.

Pertanyaan Ibu saya itu hanya menjadi sebuah panggilan tak terjawab sementara saya melanjutkan membungkus si boneka angkuh ini.

Ketika itu saya gak tengah marah sama si pemberi boneka. Boneka tersebut saya bungkus bukan untuk saya buang atau semacamnya, melainkan agar boneka putih itu tetap terjaga kebersihan dan keawetannya.

Kala itu yang saya pikirkan adalah boneka ini harus awet dalam jangka waktu yang lama. Hingga saya dan pemberi boneka ini menikah. Hingga kami mempunyai anak kelak. Nanti ketika kami telah tinggal bersama maka boneka itu akan saya simpan dalam sebuah lemari kaca lalu akan kerap saya tunjukkan kepada anak-anak saya sejarah boneka itu.

Tentang papanya yang ngotot memberikan boneka itu. Tentang mamanya yang membenci boneka. Tentang papanya yang berusaha agar boneka itu saya terima, tentang betapa malunya saya menerima boneka itu. Dan segala tentang. Tentang boneka, tentang papa mereka, tentang mama mereka.

Dan tahu sendirilah, semua skenario di atas tak kan pernah menjadi kenyataan. Karena lagi-lagi cerita hidup saya tak layaknya sinetron. Saya bukan Fitri, dia bukan Farel.

Tapi kemudian saya bersyukur telah melakban boneka itu sedemikian rupa. Menyimpannya di suatu sudut gudang.

Ketika saya pindah tugas ke Bireuen, keluarga saya juga pindah rumah. Boneka itu ikut terbawa, tapi hingga kini saya tak tahu pasti letaknya di mana. Pernah suatu ketika saya bertanya kepada Ibu saya perihal apakah boneka itu ikutan pindah atau gak. Ibu saya menjawab, ‘ikut’. Lantas saya tak juga mencarinya.

Pikir saya saat itu adalah biarlah ia tetap berada di rumah ini entah di sudut manapun itu. Biarlah ia tetap terbungkus. Biarlah ia tetap sendiri seperti itu. Saya sama sekali tak ingin mencari dan membuka bungkusan itu lagi. Tak ingin melihatnya untuk sekarang.

Biarlah kelak ketika kalender telah berganti beberapa kali tiba-tiba saja boneka itu ditemukan. Bukan oleh saya, dan juga saya berharap bukan oleh anak saya. Biarlah itu ditemukan (mungkin) oleh anak adik saya kelak atau anak abang saya kelak ketika mereka bermain di rumah neneknya. Mungkin ketika melihatnya di tangan salah satu keponakan, saya masih hafal akan rupa boneka itu. Lalu kenangan kembali terlempar. Tapi saya yakin saat itu saya tak merasakan apa-apa.

Boneka itu sayang untuk dibuang, sayang juga untuk saya berikan kepada keponakan saya saat ini. Karena saya belum siap untuk melihat boneka itu kotor dan diinjak-injak untuk usia saya sekarang. Namun demikian, nanti, kelak, beberapa tahun lagi, itu saya rasa tidaklah menjadi masalah.

IMG_3322

2 thoughts on “Menyimpan Kenangan di Sudut Gudang

  1. Ngebaca tulisan ini rasanya gimana yah mbak..😦

    ikutan nyesek ditengah malam. kelak kenangan tersebut, akan mengingatkan kita dimasa kedepannya. hanya untuk mengingat bahwa akan ada cerita tersebut.

    keep on fire, Mbak.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s