Saat Malaikat Maut ‘Lupa’ Mencabut Nyawa

Suatu pagi saya mendapati rekan kerja saya gelisah. Tidak fokus dan tampak panik. Saya dapat merasakan kalau tengah terjadi sesuatu dengannya tapi saya belum tahu itu apa. Awalnya saya tak mau tahu apa masalah yang tengah ia hadapi, tetap saja saya meminta dia melakukan apa-apa yang memang menjadi tugasnya.

Setelah nasabah tak ada lagi dan memang tak ada yang tengah diperbuat, saya perhatikan dia sibuk menelepon seseorang yang sepertinya orang yang ditelepon tak jua mengangkat panggilan telepon rekan saya ini. Semakin gelisahlah dia. Dia beranjak dari kursinya dan duduk di ruang tunggu nasabah. Menceritakan masalahnya dengan security. Saya mencuri dengar. Penasaran booook..

Dan diketahuilah akhirnya kalau ia baru saja mendapatkan kabar kalau tadi pagi pacarnya meninggal.

*tarik nafas*

Tiba-tiba jemari saya dingin seketika.

Meninggal.

Pacar rekan saya meninggal.

Ingatan saya terlempar ke moment setahun lalu. Ketika suatu sore saya dapati kabar kalau pacar saya tidak berhasil ditolong oleh dokter ketika ia tengah kritis. Ketika akhirnya jantung dan hatinya mengalami komplikasi.

Ruangan senyap. Kantor tempat saya bekerja hanyalah sebuah unit pada sebuah ruko. Sebagaimana standar unit kantor khas Instansi saya, ruangan ini kecil. Hanya kami bertiga di ruangan kecil itu dan senyap meyelimuti ruangan yag sejuk ini.

Beberapa menit kemudian seorang nasabah datang. Saya meladeni nasabah tersebut sementara membiarkan rekan kerja saya yang bertugas sebagai kasir termenung bego sendiri. Saya maklum dengan kondisinya, pasti ia tengah kacau dan tidak bisa berpikir. Maka dari itu tugas dia melayani nasabah yang ingin membayar saya handle.

Dia masih bercakap dengan security, katanya ia ingin ke Lhoksemawe untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Tapi security menyarankan agar ia mencoba menghubungi keluarga pacarnya terlebih dahulu.

Singkat cerita setelah hampir sejam kemudian rekan saya akhirnya mendapatkan kabar kalau…

Kalau…

Kalau…

Si pacar TIDAK JADI MENINGGAL.

Kenapa?

Karena barangkali malaikat maut lupa dan melewati namanya untuk dicabut nyawanya pada pagi hari itu.

-__________________________________-“

Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Singkat cerita si pacar rekan ngambek dan belagak pura-pura mati untuk mengetahui seberapa cinta rekan saya ini sama dia. Jadinya dia menggunakan telepon selular adiknya untuk mengabari pacarnya kalau dia sudah meninggal.

Bodoh?

Kampungan?

SANGAT.

Saat itu juga rasanya saya yang jadinya pengen ke Lhoksemawe lalu menemui perempuan gila itu lalu menamparnya bolak-balik biar kesadarannya kembali.

*tarik nafas*

*benerin lipstick*

*bercermin*

*senyum*

E bentar, saya minum dulu. Emosih nih.

Kematian. Dimana sih otaknya orang-orang yang mempermainkan kematian? Di mana sih perasaan mereka menjatuhkan semangat seseorang hingga sampai panik dengan berita kematian sementara dia senyum-senyum bego karena siasatnya berhasil?

Apa mereka punya otak? Punya hati?

Saya bilang tidak.

Perkara kematian itu melibatkan banyak orang. Setelah seseorang mati, maka yang merasa nelangsa itu adalah orang-orang yang ditinggalkan. Ada kepanikan di sana, ada kesedihan, kehampaan dan segala emosi negative lainnya.

Perkara kematian bagi saya bukan sesuatu yang bisa dipermainkan seperti itu. Seseorang harus berhati-hati dengan yang satu itu.

Ini bukan pertama kalinya saya mendengar lelucon kematian. Beberapa bulan sebelum ini seorang kerabat mengaku telah meninggal karena ia merasa ditelantarkan oleh keluarganya. Padahal keluarganya menelantarkannya hanya agar membuat efek jera padanya yang kelakuannya sudah diambang batas toleransi kesabaran pihak keluargnya.

Lalu seperti perempuan bodoh di cerita pertama, kerabat saya batal meninggal. Lagi-lagi, malaikat maut ‘silap’ sehingga nama mereka lolos dari orang-orang yang mati pada hari itu.

*tarik nafas*

Saya bingung bagaimana menutup tulisan ini. Saya emosi dengan perempuan bodoh itu. saya emosi dengan cara dia yang kekanakan hingga membuat rekan saya drop. Karena saya tahu persis bagaimana rasanya itu.

Mendengar kabar kematian orang terdekat, orang yang kita cintai, hari itu tentu akan menjadi hari yang buruk untuk dijalani.

 

Advertisements

One thought on “Saat Malaikat Maut ‘Lupa’ Mencabut Nyawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s