Bu, Mbak, Neng, Kak

Saat masih kuliah dulu saat harus bertransaksi di sebuah Bank ataupun tempat pembayaran rekening, saya paling sebel ama petugas kasirnya yang selalu manggil sya dengan sebutan ‘Ibu’. Emang saya udah keliatan setua itu apa? onion-emoticons-set-2-16Meskipun saya tahu itu bagian dari SOP-nya dan memang panggilan tersopan tapi tetep saya syebel. Karena di lubuk hati yang terdalam saya pengen disapa dengan sebutan nona onion-emoticons-set-2-8

*hening panjang*

 

Akhirnya terdamparlah saya hingga menjadi pegawai di sebuah BUMN yang bergerak di bidang jasa keuangan non bank. Dan saya manggil nasabah saya yang perempuan dengan sebutan ‘Ibu’ tak peduli muda atau tua. Karena memang itu panggilan standard an yang paling enak buat lidah nyebutinnya. Hanya sebagian nasabah yang akrab (ataupun sok mengakrabkan diri) saya panggil dengan sebuatn ‘Dek’ atau ‘Kak’.

Sebutan. Sejak dulu saya selalu mempermasalahkan sebutan yang disematkan untuk saya. awal karir saya adalah menjadi Finance Assistant di sebuah perusahaan bijih besi. Saat itu di awal-awal ngantor saya dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’ padahal saat itu usia saya belum genap 23 tahun. Tapi lama kelamaan mereka (temen sekantor) gak manggil saya dengan sebutan ‘Bu Intan’ lagi, melainkan dengan nama doang, ‘Intan’. Mungkin karena akhirnya mereka sadar saya ini masih muda banget onion-emoticons-set-2-61

Karir kedua adalah sebagai Auditor Junior di sebuah Kantor Akuntan Publik di Jakarta. Untuk rekan sekantor sesame auditor sih saya tetep dipanggil ‘Intan’ tapi saat di kantor klien saya kerap mendapat panggilan ‘Mbak Intan’. Emang sih itu sapaan ramah di kota itu untuk seorang perempuan. Tapi saya gak suka dipanggil ‘Mbak’. Terkesan tua onion-emoticons-set-2-3. Malah saya lebih respek sama si satpan yang selalu nyapa saya dengan sebutan ‘Neng’ setiap pagi saya melangkahkan kaki masuk kantor. Panggilan ‘Neng’ terasa lebih halus, menyejukkan dan menyenangkan.

Iya. Seperti itulah perasaan yang saya dapatkan. Perasaan berbeda ketika disapa dengan ‘Mbak’ dan ‘Neng’.

Kantor ketiga. Pegawai di sebuah Perusahaan Jasa Keuangan Non Bank. Setelah 6 bulan masa training. 2 bulan menjadi pegawai baru. Di bulan ketiga akhirnya saya dipercaya untuk menjadi Pengelola sebuah Unit.

Setelah menjadi Pengelola, karyawan (rekan kerja) di Unit saya ini memanggil saya dengan sebutan ‘Ibu’. Awalnya saya risih. Toh lebih tua mereka ketimbang saya. Tapi lalu saya biarkan saja mereka memanggil saya dengan sebutan Ibu agar mereka lebih respek dan ada rasa ‘segan’-nya sama saya. Secara saya anak baru dan ini bukan kampung saya pula. Takutnya malah entar saya yang disuruh-suruh ama mereka dan mereka lalai akan tugasnya.

Tapi si ‘tukang pegang uang’ di Unit saya rada aneh. Setelah bekerja bersama selama beberapa hari, dia mengubah panggilannya terhadap saya dari ‘Ibu’ menjadi ‘Kak’ (meskipun tua-an dia). Yang aneh adalah panggilannya yang berubah-ubah sesuai moodnya. Kalau dia marah sama saya dia akan panggil saya dengan sebutan ‘Ibu’, tapi kalau dia lagi baik-baik saja, maka dia akan panggil saya ‘Kak’. Iya. Dia orangnya mood-mood-an juga kayak saya onion-emoticons-set-2-150.

Saya sendiri gak manggil dia dengan sebutan ‘Bang’. Tapi saya langsung nyebut nama. Yaaah… lucu aja dia manggil saya ‘Kak’ saya manggil dia ‘Bang’.

One thought on “Bu, Mbak, Neng, Kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s