Saya Benci Nobita

Mungkin terakhir kali saya menyempatkan nonton serial kartun Doraemon adalah saat saya SMP. Saya lupa kapan tepatnya saya berhenti bangun pagi-pagi demi nonton Doraemon, tapi kayaknya kelas 3 SMP saya udah menjadi manusia bangun lama pada hari Minggu karena saya tak turut Ayah ke kota naik delman istimewa kududuk di muka.

Beberapa minggu lalu (saya lupa tepatnya) ketika saya pulang ke rumah Ibu saya di Banda Aceh, saya tetiba bangun cepat. Gak bisa tidur lagi saya bangkit keluar kamar dan menyalakan tipi. Begitu tipi nyala, alunan lagu pembuka Doraemon mengalun. Tak lama ceritanya pun dimulai.

Seperti biasa. Nobita selalu punya masalah dengan teman-temannya. Entah ia yang iri, entah teman-temannya yang memang selalu berlaku jahat. Pokoknya masalah selalu ada. Cerita kali ini pun begitu. Saya simak. Lalu saya muak.

Kenapa?

Saya heran juga dengan perasaan saya yang berubah. Bertahun-tahun lalu saya menyukai kartun ini, tapi kini malah saya muak. Kenapa saya muak?

Karena saya benci Nobita. Benci dengan anak pengeluh itu. Semua hal dia keluhkan. Lalu ketika saya mengingat-ingat semua cerita kartun ini saya mendapatkan benang merah yang sama. Nobita si pengeluh yang selalu minta bantuan Doraemon.

Semua hal dikeluhkan Nobita. Ia menjelma menjadi anak paling tak beruntung di dunia. Dan hal ini sangat mengesalkan bagi saya.

Saya benci pengeluh. Saya benci ketika harus berhadapan atau berteman dengan orang-orang pengeluh. Bukan berarti saya jauh dari kata ngeluh. Saya juga sering ngeluh. Tapi toh saya gak mengeluhkan segala hal di muka bumi ini. Gak melulu menyalahkan hidup dan berakting layaknya orang paling malang sedunia. Karena sejatinya manusia kayak Nobita itu pun sebenarnya gak ada di dunia ini. Mengeluh sepanjang episode.

Mengetahui hal ini tetiba saya berharap kartun Nobita segera musnah. Jangan sampai ketika saya punya anak kelak, anak saya menonton film kartun di mana khayalan begitu nyata. Pengeluh sejati yang mempunyai robot pengabul permintaan apapun.

Hal ini seperti mengajarkan kalau si pengeluh itu gak harusnya berusaha dan mandiri, karena si pengeluh selalu mendapatkan bantuan dari Robot serba bisa.

Serba bisa. Pengabul segalanya.

Mari kita simak lirik lagunya.

 

Aku ingin begini, aku ingin begitu.

Ingin ini, Ingin itu banyak sekali.

Semua…semua.. semua…

Dapat dikabulkan.

Dapat dikabulkan dengan Kantong Ajaib.

 

Saya juga seperti Nobita sejatinya. Ingin ini ingin itu banyak sekali. Tapi sepertinya saya dengan segala kekurangan saya gak melulu mengeluh. Bagaimana mungkin saya mengeluh ketika saya sudah seperti ini. Sudah berhasil menyelesaikan kuliah. Sudah punya kerjaan. Punya tampang cantik (boleh abaikan kalimat ini). Punya teman yang baik-baik. Punya orangtua lengkap. Ada sih saya mengeluh. Tapi gak MELULU.

Saya ingin ini… ingin itu banyak sekali.

Semua.. semua… semua…

Dapat dikabulkan.

Dapat dikabulkan oleh Allah swt.

Minggu itu terasa indah. Saya gak mau hari saya menjadi muram karena perasaan saya ama Nobita udah berubah. Saya benci dia. Saya benci Nobita pengeluh. Saya matikan saja tipinya. Kembali ke kamar dan melanjutkan tidur. Sepertinya bangun pagi di hari Minggu memang gak bagus buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s