Satu-satunya Alasan

Dalam semua aktivitas rutin dan padatmu, saya sungguh tak ingin mencuri perhatianmu. Saya ingin kamu dengan tenang bekerja.

Saya tak pernah mau mengganggumu, dalam setiap sibuknya kamu hingga larut yang turut menemani lelahmu, saya tak pernah mau rewel dan minta di nomorsatukan.

Namun, ada kalanya, saat pagi menyapa. Saat kamu tengah buru-buru ke kantor, saya ingin sedikit saja mengusikmu. Mengatakan selamat pagi.

Lalu sekali lagi saat kamu makan siang. Di tengah santapanmu yang lahap saya ingin sekali menyunggingkan senyummu sedikit di tengah hari lelahmu. Hanya agar kamu tahu, sesibuk apapun kamu, sesibuk apapun saya, kamu tetaplah dalam ingatan saya.

Bahwa sesusah apapun komunikasi kita berdua akibat waktu yang tidak memihak, saya tetaplah ingin menjadi satu-satunya alasan senyummu tersungging saat penat menyergapmu. Karena begitulah saya dibuat olehmu selama ini.

2638487

Advertisements

3 thoughts on “Satu-satunya Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s