Calon Suami Yang Beresiko

Sedikit tergelitik akan tulisan seorang teman dengan judul Menikah Itu…. sebelum memulai tulisan, banyak harapan dan doa saya lafalkan teruntuk yang Maha Mendengar agar perempuan Kalimantan itu kali ini berhasil menikah dengan seorang lelaki baik-baik yang telah menjadi pilihan atas yakinnya hatinya.

Saya tentu saja juga akan menikah seperti dirinya… tapi… err… tahun depan siy (masih berupa harapan pula ini). Tulisan kali ini mungkin agak sedikit terlihat sotoy bagi para perempuan yang telah lebih dulu menikah, atau mungkin dipandangn klise dan gak penting amat. Tapi bodo aja. Saya nulis ini Cuma ingin berbagi. Terutama bagi yang belum nikah.

Suatu siang di dalam ruang kelas dan tengah menunggu dosen masuk, saya dan seorang sahabat bertukar cerita. Lalu entah angin apa tetiba dia mempertanyakan (ter-vicky ) pada saya suatu hal.

“Gimana caranya kita yakin kalau seseorang itu jodoh kita ya,Tan? Gimana kalau akhirnya kita nyesal karena apa yang telah kita pilih.”

Saya senyum. Sebenarnya perempuan ini termasuk kategori bijak. Cuma sepertinya itu urusan pernikahan dan cecintaan dia ini masih ijo banget. Kayak yang nulis ini udah pro aja.

“Bukannya kamu pernah bilang, gak ada pilihan yang salah? Yang ada tuh hanyalah resiko akan kita pilih.”

Perempuan itu diam. Dia masih ingin mendengarkan kelanjutan saya.

“Gini ya, La. Aku dulunya emang kepengen punya suami yang sesuai kriteria aku. Yang putih, tinggi, kurus, gak suka bola, gak minum kopi, gak ngerokok, gak maksa aku untuk bisa masak, seorang penulis, dan seorang piatu dengan alasan aku parno sama Ibu mertua.

Tapi lalu aku sadar. Bahkan ketika aku menginginkan kriteria itu aku langsung sadar kalau hal seperti keinginan aku tuh gak mungkin terwujud sedetil dan sesempurna itu. Makanya lalu aku diam-diam dan dalam hati mengkriteriakan hanya dua hal: agamanya bagus dan menikahi aku karena cinta.”

Sampai di sini apakah saya udah keliatan sebagai perempuan yang rendah hati dan baik hati lalu pantas dijadikan menantu idaman?

“Jadi kamu siap terima orang itu apa aja dan gimana aja?”

“Itu namanya resiko. Contohnya gini, ketika aku memutuskan untuk menikah dengan Z (saya menggunakan abjad terakhir ini alih-alih A karena mudah-mudahan saya emang berjodoh dengan lelaki berinisial Z), berarti aku udah harus siap dengan resiko yang akan aku hadapi. Resiko itu berupa ketidaksukaan aku terhadap apa saja yang menjadi kebiasaan buruknya.

Sebaliknya, ketika aku memutuskan menikah dengan A (dan saya gak berharap menikah dengan inisial ini) maka aku juga harus udah siap dengan resikonya. Intinya siapapun lelaki yang aku pilih untuk nikahi, maka aku harus siap dengan kekurangannya yang menjadi resiko pilihan aku.

“Semudah itu?”

“Itulah yang tengah aku lakukan.”

“Sama Si Gam itu?”

“Iya. Kamu kan tau aku gak kenal sama dia sebelumnya. Dan aku langsung mengiyakan perjodohan ini. Lagian, setelah dikenal toh dia bukan psikopat atau teroris.”

“Yeee…”

“eh iya. Tau apa. Meskipun perkenalan kami disengaja oleh kedua orang tua kami, tapi kami sama sekali gak terpaksa. Malah justru senang. Tau apa kamu? Kami malah saling berpikir ‘kenapa gak dari dulu aja minta dijodohin’.

Saya tertawa.

Iya. Saya dan lelaki beriinisial Z ini adalah dua orang yang sudah begitu letih untuk bermain-main dengan cinta lagi. Lalu kami meminta orangtua kami mencarikan jodoh buat kami. Lalu siapa sangka, ternyata kami sangat menyukuri perjodohan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s