Ceritanya Saya Trauma

“Kak, jangan makan mie ya. Nanti mati loh!”

Kalimat tersebut semakin sering saya denger sekarang inih terlontar dari mulut adik saya. sebuah perhatian emang. Namun saya yang mendengar semacam absurd. Kalimat perhatian tapi ujungnya gak ngenakin onion-emoticons-set-2-54

Kenapa dia bisa bilang begitu tentu ada alasannya.

Beberapa Minggu lalu, seorang teman seperjuangan kala saya kuliah -dan karena suatu takdir kami mendapatkan dosen pembimbing yang sama- meninggal dunia. Asam lambung yang menjadi penyebabnya. Mendengar itu saya sontak kaget. Saya juga penderita asam lambung. Tingkat parah malah. Saya sempat diopname gegara penyakit ini. Dan penyakit ini sudah bertahun-tahun saya idap.

Tak lama setelah kabar duka cita saya dapatkan, saya memanggil tukang pijat ke rumah untuk mijitin saya. dan ketika si kakak tukang pijat menekan perut saya, dia langsung memvonis kalau saya ini penderita asam lambung tingkat parah. Malah dia tau saya udah mengidap penyakit ini sejak SD.

Dua hal tersebut membuat saya ngeri. Saya ceritakan hal ini pada adik dan Ibu saya. dan kemudian saya dikecam untuk tak makan mie lagi.

Mie.

Suatu makanan yang saya gemari. Dari mie Aceh, mie ayam, mie kocok, mie pangsit, mie caluk, sampai mie instant adalah semuanya kegemaran saya. dalam sehari saya pasti makan salah satu mie tersebut. Pasti.

Penderita asam lambung gak boleh makan mie. Begitu katanya. Apalagi pedes-pedes. Nah, saya ini kalau udah makan mie pasti pedesnya level setan deh. Semua makanan yang masuk mulut saya harus pedes (kecuali kue-kue-an yak), makan mie dengan kuah yang pedes lebih utama bagi saya. selayaknya haram hukumnya bila makan makanan berkuah tak pedes. Nah, inilah penyebab bertahun-tahun asam lambung mampir sama saya.

Tapi karena berita duka itu saya tobat. Belum nasuha sih. Tapi ini beneran tobat. Setiap kali saya hampir lap ences kalau inget pengen makan mie. Tapi juga setiap kali saya kukuhkan niat untuk gak makan. Singkat cerita saya trauma. Saya masih pengen hidup. Saya belum kawin euy onion-emoticons-set-2-46

Nah, adik saya yang tetiba jadi perhatian sama saya. dia selalu ingatkan kalau saya gak boleh makan mie lagi setiap kali saya ngeluh saya bosan makan di Bireun ini. Yah, saya memang akan bosan kalau setiap kali dan setiap hari makannya nasi terus. Tapi ragam aneka makanan memang tak bisa dibilang banyak di Bireuen ini. Jadilah saya terpaksa makannya nasi saja. Terkadang diselingi sate. Itu saja.

Trauma. Semakin tua, rasa-rasanya semakin banyak yang saya takuti. Kalian ngerasa gitu juga gak sih? Parno di mana-mana dan kemana-mana dan ngapa-ngapain? Gak ya?  onion-emoticons-set-5-17Tapi saya gitu ding.

Cerita lainnya tentang keparnoan saya adalah menyangkut (lagi-lagi) kematian. Almarhum pacar saya itu meninggal akibat katup jantungnya bocor. Pas dia mau meninggal sih, konon katanya komplikasi hati dan jantung. Dua organ tubuhnya itu rusak. Penyebabnya? Tentu saja rokok. Dia penghisap rokok kelas kakap. Sudah sejak lama dia hidup dengan menjadi pemuja rokok dan manusia nocturnal. Hidup gak beres. Setahun sebelum kenal saya dia sudah berhenti merokok. Insyaf katanya. Tapi tetep saja, hal yang sudah menimbun bertahun-tahun tidak serta merta hilang. Akibatnya dia menderita sakit jantung yang akhirnya membawa dia pergi dari hidup saya dan dari dunia ini.

Saat ini, saya tengah dekat dengan seseorang. Hemmm… mari kita sebut dia sebagai Lelaki Agustus. Dia punya kebiasaan yang membuat trauma saya dateng. Dia pemuja rokok juga  onion-emoticons-set-2-133. Bahkan menurut pengakuannya, dia telah merokok sejak SD. Ebuset… anak macam apa itu ngerokok sejak SD? onion-emoticons-set-5-51

Tapi udahlah, saya gak mau menggurui masa lalunya. Toh, sekarang dia saya nilai sebagai sosok bertanggung jawab yang perlahan-lahan telah membuat hati saya merekah lagi.

Pola hidupnya memang tak seberantakan almarhum pacar saya. tapi tetep saja, terkadang dia bisa lembur kerja sampai tengah malam atau bahkan gak tidur-tidur. Seperti minggu lalu. Setiap harinya ia hanya mampu memejamkan mata selama 2 jam saja.

Saya perempuan yang tak suka dengan lelaki perokok. Saya perempuan pengagum lelaki non perokok. Saya perempuan yang akan migren dan menderita gangguan tenggorokan kalau sudah menghirup asap rokok selama 2 hari berturut-turut meski gak intens. Namun, saya tak pernah melarang lelaki merokok terutama untuk menghentikan kebiasannya merokok. Saya merasa belum dalam kapasitas itu. Maka dari itu ketika saya pernah berpacaran dengan lelaki perokok saya biasa saja. Tak melarangnya bahkan ketika dia merokok di depan saya. namun saya berpikir, kelak ketika saya telah menikah dengannya maka jangan pernah berpikir akan sebebas ini lagi.

Si Lelaki Agustus pernah berkata, “Intan boleh minta apa aja sama Abang, asal jangan minta abang berhenti meokok.”

Ketika dia ucapkan kalimat itu, saya gak tengah melarang dia sebenarnya. Saya hanya mengeluh ketika dia memberitahu baru saja dari mini market untuk beli rokok. Lalu dengan jelas saya sebutkan ketidaksukaan saya dan saya katakana itu akan membunuhnya.

Seperti lelaki perokok kebanyakan, dia tentu saja membantah kalau rokok dapat membunuh seseorang. Ajal di atur sama Tuhan.

Saya tak mau berdebat. Sungguh saya tak mau jadi perempuan cerewet yang menyuruh pasangannya berhenti merokok. Apalagi dalam status saya yang belum resmi menjadi pasangannya.

Lalu, dalam hati saya hanya mampu berucap, “Gimana kalau sebaliknya, Bang? Intan gak akan meminta apapun, kecuali satu hal. Berhentilah merokok. Hiduplah sehat. Dan hiduplah terus bersama hingga tua.”

Saya trauma. Ketika almarhum pacar saya meninggal saya lalui hidup dengan kacau dan berantakan. 4 bulan pertama saya lalui dengan rembesan air mati membanjiri muka saya. jarang mandi dan males makan. Enggan keluar rumah dan males nongkrong sama temen. Uring-uringan dan tidur seharian. Karena takut ketika mata terbuka yang ada air mata yang terus mengalir.

4 bulan selanjutnya tahap berusaha move on. Susah payah. Akibat kesibukan saya dengan pekerjaan baru yang mengharuskan saya diklat dan membuat saya super sibuk. Sedih saya teralihkan. Namun tetap saja ada momen-momen di mana saya galau lagi.

4 bulan penghujung satu tahun sejak kepergiannya. Saya berusaha ikhlas. Saya berusaha menata hidup dengan lebih baik. Mencoba membuka hati lagi. mencoba riang dan gembira lagi. Dan memang akhirnya berhasil.

Nah, untuk semua yang telah saya alami. Saya gak mau kalau sampai itu terjadi lagi. saya gak mau untuk menjadi terpuruk lagi akibat kepergian seseorang. Bila ia pergi, maka pergilah saja dari hidup saya, tapi jangan sampai orang itu juga ikut pergi dari dunia ini. Pergi meninggalkan dunia ini begitu cepat jelas akan membuat saya down lagi. Terlebih karena ia adalah seseorang yang ada di hati saya.  Orang yang mampu membuat hati saya kembali hangat.

Yah.. trauma. Untuk ditinggalkan saya trauma, maka dari itu saya ingin dia berhenti merokok. Untuk meninggalkannya juga saya tak tega, maka itu saya berusaha menahan keinginan saya memakan mie. Saya usahakan akan menguranginya sekurang-kurangnya.  Begitu juga dengan makanan pedas. Lalu berharap hidup kami sehat dan bersama hinggal tua. Hingga usialah yang membuat kami saling meninggalkan.

4 thoughts on “Ceritanya Saya Trauma

  1. Anggap saja sudah terbiasa makan mie ya, setiap nemu mie bawaannya pengen makan mie saja, nah mie itu kita anggap sebagai tanda, dan rasa pengen itu dinamakan ngidam. Setelah makan mie sensasinya luar biasa, apalagi mie ny pedes sekali sesuai dengan selera. sensasi itulah yang disebut ganjaran.

    Sejatinya sebuah kebiasaan itu bekerja sesuai siklus dari [tanda-ngidam-ganjaran] nah sangat sulit untuk menghilangkan siklus tersebut. Untuk itu, lebih arif kita timpa saja kebiasaan makan mie itu dengan mengganti tandanya.. Bisa saja dengan mengganti tandanya itu dengan air putih.. setiap keinginan makan mie muncul, ganti dengan minum air putih sembari menciptakan “sensasi” dan rasa “ngidam” akan air putih dalam pikiran. intinya mengubah kebiasaan itu bagaimana kita mengontrol pikiran saja.

    ribet juga ya contohnya …. heheheheh😀 untuk lebih jelasnya baca buku charles duhigg berjudul the power of habit… http://garammanis.com/2013/05/09/memahami-bagaimana-kebiasaan-bekerja/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s