Lelaki yang Pergi di Bulan Agustus

Sehabis lebaran adalah janji yang kamu buat untuk datang berkunjung ke kota saya. Perkiraannya adalah di bulan Agustus.

Saya sudah tak sabar rasanya ingin memperlihatkan padamu bagaimana kota tempat saya tinggal, tumbuh dan besar. Saya akan memperkenalkan kamu pada keluarga saya.  saya juga akan mengajak kamu ke tempat makan favorit saya. Nanti bila kita melewati suatu jalan yang mempunyai kenangan bagi saya, akan saya ceritakan padamu kalau di tempat itulah saat saya pernah ketabrak pohon yang menyebabkan saya trauma mengendarai motor.

Lalu akan saya tunjukan juga tempat saya sekolah kala SD. Tempat saya mengaji. Tempat saya sering nongkrong bersama sahabat-sahabat saya. Tak lupa, kamu harus mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman. Landmark-nya Banda Aceh.

Menunggu Agustus semenjak Juli bukanlah hal yang mudah. Saya tak sabar. Saya ingin segera janjimu terpenuhi agar kita kembali bertemu dalam sunggingan senyum yang tak terlupakan. Sebab di dalamnya merupakan arti dari sebuah kerinduan akibat jarak.

Bahkan saat Agustus telah tiba. Gejolak dalam diri saya semakin menjadi. Semakin tak sabar rasanya. Semakin ingin mempercepat laju waktu agar kita segera bersua.

Lalu..

Angan tinggallah angan.

Agustus mendekati akhir. Dan kamu tidak datang.

Lebih tepatnya tidak pernah datang dan tidak akan datang. Baik di bulan Agustus meski saya menunggu sampai tanggal terakhir ataupun di bulan-bulan selanjutnya.

Sebab kamu pergi. Kamu pergi meninggalkan saya di bulan Agustus bahkan sebelum kita sempat bertemu.

Saya gagal memperlihatkan padamu sekolah saya dan di mana saya pernah belajar naik sepeda. Saya gagal mempertemukanmu dengan keluarga saya. sebab kamu pergi.

Kamu pergi. Menjelang akhir Agustus kamu pergi. Benar-benar pergi.

Kini setahun sudah berlalu sejak kepergianmu. Masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana saya menangis sampai muntah ketika mendengar kabar kepergianmu. Tapi setelah setahun saya kini telah baik-baik saja. Sangat baik. Jauh lebih baik.

Kamu. Selamat jalan. Beristirahatlah dengan tenang. Mungkin ini kali terakhir saya menulis tentangmu. Bukan melupakanmu. Kamu tetap punya tempat di hati saya dan bagaimanapun tak mungkin saya bisa melupakanmu. Namun, kehidupan saya yang pernah mati telah sirna. Kini saya telah kembali hidup dan hidup harus berlanjut.

Kamu, lelaki yang pergi di bulan Agustus. Saya rapalkan doa-doa agar tempatmu beristirahat di sana menjadi nyaman.

 

One thought on “Lelaki yang Pergi di Bulan Agustus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s