Ini Aku. Si Masa Lalu.

Tok..Tok…Tok…. terdengar suara pintu diketuk. Ragu, aku tak langsung membukanya.

“Siapa?” tanyaku dengan nada lirih. Entah kenapa ada perasaan curiga akan sosok di seberang pintu yang tak dapat kulihat parasnya.

Suara di seberang tak menjawab. Suara ketuka pintu terdengar lagi sebanyak dua kali. Aku kembali bersuara, “siapa di luar?”

“Ini aku. Masa lalu.”

Deg. Spontan detak jantungku berdetak cepat. Sepintas  bayangan tempo dulu terulang. Dengan kaki yang kukuatkan jejaknya di tanah. Dengan tangan yang kucoba redam getarannya. Dengan suara yang kucoba atur agar terdengar normal. Aku kembali bersuara. “Kenapa kamu datang ke sini?”

“Menyapamu. Telah lama tak kulihat wajahmu.”

Aku terdiam. Hembusan nafasku memburu.

“Tidakkah kamu mau membuka pintu? Agar aku bisa masuk ke dalam. Agar aku bisa melihar rupamu.”

“Tidak. Aku tidak mau membuka pintu ini.”

“Kenapa?”

“Karena aku tak ingin melihatmu lagi.”

Hening beberapa saat. Suara bergeraknya detik jam dinding yang berada di belakangku terdengar begitu nyaring. Seperti palu godam memukul-mukul. Sosok di balik pintu masih juga bungkam, aku apalagi.

“Hanya sekali ini saja, tak bisakah aku masuk? Aku takkan lama. Hanya ingin melihat wajahmu sepintas lalu pergi.”

“Tidak bisa,” aku mencoba tegas. Di balik pintu sebelah sini aku genggam kedua tanganku erat. “kamu tak perlu masuk.Terlebih lagi, kamu tak perlu melihat rupaku sekarang. Saat ini aku tak bisa memberimu waktu untuk masuk. Maaf.”

“Kenapa? Bisa beritahu aku alasannya?”

“Kalau aku beritahu alasannya, bisakah kamu pergi saat itu juga?”

“Iya. Aku janji.”

Aku tarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, “Aku tengah menunggu masa depanku.”

Sedetik. Dua detik. Tiga bahkan sampai detik ke dua puluh sosok di seberang kembali bungkam. Aku juga bungkam sambil mencoba mengatur nafasku.

“Baiklah,” akhirnya dia bersuara. “Aku pergi. Selamat tinggal.”

Dia pergi. Aku lega. Aku bisa tersenyum sekarang. Dalam hitungan 5 menit dari sekarang, aku rasa pintu itu akan kembali diketuk. Oleh sosok yang berbeda. Oleh si masa depan. Tentu saja aku akan membukanya, aku tengah menunggu sejak tadi.

door

2 thoughts on “Ini Aku. Si Masa Lalu.

  1. Hai Intan.. Suka deh cerita-cerita kamu. Sangat menyenangkan untuk dibaca. Hmm, mengenai postingan kamu, bagaimana caranya supaya tulisannya tampil dengan font agak besar gitu? Apa bawaan dari theme wordpressnya ya? Saya pernah nyoba copas dari word dengan font besar, namun tetap saja terpublish menjadi ukuran biasanya (kecil). Bagi-bagi tipsnya boleh dong Tan.. Hehe, salam kenal😉

  2. Ini bawaan dari themes kok.
    tapi emang aku kadang pernah bikin yang tulisannya besar untuk tulisan jenis quote, nah itu aku pilihnya di pengaturan past mau posting. letaknya dibawah button untuk BOLD atau ItALIC, ntar milihnya Heading 1. gede deh jadinya.
    tapi untuk tulisan di postingan ini emang bawaan themes-nya🙂

    makasih ya udah mampir🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s