(Tidak) Kosong

“Kalau saja kamu bisa jadi pacar saya,” ia bersuara kala saya tengah fokus dengan eskrim dengan remahan oreo di atasnya. Demi mendengar kalimat barusan saya mendongak memandang wajahnya.

“Kenapa gak jadikan saja?” saya menantang. Dia membalas dengan senyuman. Lalu sekarang malah dia yang asyik dengan eskrim rasa duriannya.

“Alangkah baiknya jika kamu jadi pacar aku,” saya melanjutkan.

Hening sejenak sebelum ia mendongakkan kepalanya.

“Kamu percaya kalau saya ini perempuan yang kuat, kemarin saat saya lemah dan ketika kamu percaya kalau saya mampu menghadapi ini, tiba-tiba saya kembali merasa kuat. Kamu itu kayak doping tau gak?”

Dia tertawa. Ada bekas eskrim di sudut bibirnya. Saya tidak membantu membersihkannya, melainkan mengambil tissue dan memberikan padanya sambil memberi isyarat agar ia membersihkan sudut bibirnya.

Setelah ia mengelap bibirnya. Dia kembali berujar, “kalimat kamu barusan manis, loh. Tapi sayang kamu mengakhirinya dengan kata ‘doping’.

Saya senyum.

“Kamu tau kita sama-sama sedang tidak kosong. Mungkin bila saat ini hati saya tengah kosong, dan hati kamu pun kosong, kita akan bisa saling mengisi.”

“Kamu begitu menyukaiku rupanya?”

Percakapan selalu seperti ini. Dia menggunakan kata ‘saya’ dan saya menggunakan kata ‘aku’ ketika kami tengah bercakap-cakap.

“Saya menyukaimu,”

“Tapi tidak cukup menyukaiku ketika kam masih enggan menyingkirkan dia di hati kamu dan membiarkan aku masuk,”

“Mungkin ini soal waktu. Tentang siapa yang lebih dulu masuk. Tentang saya harus ikhlas dan tentang saya harus bertanggung jawab atas apa yang saya pilih dahulu.”

“Kamu berkata seperti itu, malah semakin membuat aku ingin mendapatkanmu.”

Dia tersenyum. Lalu aku kembali menambahkan, “tapi jangan sedih begitu. Kamu gak perlu menyesal untuk tetap mempertahankannya. Kamu jangan terlalu terpesona sama aku, karena sebenarnya kalau kita sampai pacaranpun hubungan kita aku yakin tak akan sebaik ini. Aku bukan perempuan yang cocok untuk dijadikan pacar.”

Mendengar itu dia mengusap kepala saya.

Tentang hati yang tak kosong. Kamu yang tak bisa mengosongkan pacarmu dari hatimu, juga tentang saya yang tak juga rela mengosongkan hati dari almarhum pacar saya.

Tentang waktu. Tentang siapa yang lebih dulu masuk. Saya percaya takdir. Memang takdir kitalah untuk bertemu sekarang. Memang takdir kitalah untuk bersama tanpa bisa saling memiliki.

 

empty_heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s