Saya Seorang Pahlawan Dulunya

Kalaulah saya percaya ada kehidupan setelah kematian (reinkarnasi), pastilah saya akan mengira kalau saya ini seorang pahlawan pembela negara yang telah mati syahid pada kehidupan sebelumnya.

Suatu ketika sebelum pengumuman penempatan tugas kerja saya dapat, plus masih dag-dig-dug nunggu SK keluar, adik saya pernah berujar, “Kak berdoa gih, biar dapet penempatan di Banda Aceh.”

“Kakak malu,” jawab saya singkat.

Adik saya terbahak, “malu sama siapa?”

“Allah” jawab saya juga singkat.

Dia diam. Saya ikutan diam. Tak lama. Hanya beberapa jenak sebelum saya kembali melanjutkan.

“Lia kan tau gimana susahnya kemarin kakak pas diklat, gimana kakak sampai nangis-nangis dan stress, saat itu kakak berdoa sama Allah supaya kakak diluluskan dan gak ngecewain Mami yang udah keburu senang kakak diterima kerja di BUMN.”

Adik saya diam mendengarkan.

“Allah akhirnya mendengar doa kakak, Ia meluluskan kakak. Alhamdulillah.”

Adik saya masih diam, tapi kali ini dengan mimic muka yang sudah paham perihal ucapan saya.

“Permintaan kakak ke Allah itu banyak kali udah, Lia. Dan dari semua yang kakak minta hampir semua kakak dapatkan. Makanya untuk hal sesepele penempatan kakak udah malu meminta lagi.”

Iya. Memang sebelum penempatan ini saya gak lagi menengadahkan tangan meminta penempatan di Banda Aceh. Saya hanya meminta agar Tuhan memberikan saya tempat yang layak dan tempat yang Tuhan pastinya telah tau kalau itu yang terbaik bagi saya. Kepasrahan saya ini hanya karena saya merasa telah menerima terlalu banyak dari Allah akan apa yang terjadi di hidup saya. Dan bagi manusia seperti saya, saya malu meminta banyak yang juga dikabulkan banyak tapi masih kurang dalam ibadah.

Saat di Surabaya beberapa bulan lalu dan tengah stress mengikuti diklat tetiba otak saya melayang sejenak ke sebuah buku yang saya simpan dalam sebuah kardus di kamar saya di rumah orang tua saya di Banda Aceh. Dalam buku itu saya tulis mimpi saya. Saya tulis target hidup saya, yang mana menjelaskan pada usia keberapa saya harus mendapatkan apa.

Seketika saya takjub. Saya takjub akan kekuatan mimpi dan doa yang terjadi pada hidup saya.

Meskipun saya tengah di Surabaya dan buku itu telah lama tak saya lihat lagi, tapi saya ingat akan tulisan saya yang mendikte saya agar  mempunyai pekerjaan tetap (dengan gaji yang juga saya sebutkan nominalnya) pada usia saya 25 tahun.

Lihat sekarang, usia saya belum genap 25 tahun. Pekerjaan tetap telah saya dapatkan. Gajinya pun diatas yang saya harapkan. Disebut apa ini kalau bukan kemurahhatian Sang Pencipta kepada saya si tukang mimpi?

Kalau diingat-ingat lagi, banyak mimpi saya yang sudah terwujud, baik hal kecil maupun hal besar. Sebut saja impian saya yang pengen menjadi guru yang pernah saya ulas dalam kisah ini. Selain itu saya juga pernah bertekad kalau saya harus mendapatkan pekerjaan yang membuat saya pergi ke luar Aceh. Pergi melihat kota lain di negeri Indonesia ini. Dalihnya harus pekerjaan, karena Ayah saya tipikal orangtua yang gak mengizinkan anaknya pergi tanpa keluarga seenak jidatnya. Akhirnya tahun lalu saya berhasil pergi ke Jakarta secara mandiri untuk sebuah pekerjaan, lalu saya juga dapat melihat kota Surabaya (yang biasanya lihat di TV doang) pada awal tahun ini juga karena pekerjaan. Mungkin terlihat sepele mimpi ini, tapi bagi gadis rumahan dengan ekonomi biasa saja yang tinggal di propinsi ujung Indonesia yang bukan kota besar sungguhlah dapat pergi melihat kota besar itu luar biasa. Apalagi karena sebuah pekerjaan, itu terkesan lebih berkelas buat orang kayak saya.

Pernah ke Jakarta dan hidup di sana merupakan batu loncatan bagi saya. Karena berhasil pulang dengan selamat dan terlihat sentosa karena begitu pulang badan lebih gemukan, membuat orangtua saya percaya dan yakin kalau saya sudah lebih dewasa dan mandiri juga bisa menjaga diri sendiri. Berdasarkan hal tersebut, peluang saya semakin besar untuk meraih mimpi saya. Keliling Indonesia. Sekarang orangtua saya tidak lagi terlalu khawatir ketika anaknya harus pergi merantau demi suatu hal yang saya sebut mimpi atau ambisi.

Dan kini saya di Bireuen, kembali tinggal terpisah dengan orangtua dan keluarga saya. Saya hidup di kabupaten yang berbeda dengan mereka. Dan saya tengah menikmati kehidupan saya yang menurut saya keren ini.

Betapa tidak, akhirnya saya bisa hidup sendiri dan dengan biaya sendiri pula. Impian saya untuk bisa terbebas dan terlepas dari orangtua saya akhirnya terkabul. Maklum, selama ini saya hidup dalam pengekangan Ayah saya yang banyak melarang saya, jangankan untuk main-main liburan ke luar kota bersama temen, keluar jalan-jalan malam aja gak dikasih. Dan untunglah saya tipikal orang pemberontak berotak dingin. Saya tak membangkang dengan aturan Ayah saya, alih-alih berontak saya menunggu sampai saatnya tiba saya bisa menentukan langkah saya sendiri yang entah kemana ingin saya ayunkan. Kesabaran saya berbuah hasil, kini kedua orangtua saya menganggap saya sudah layak untuk menentukan pilihan saya sendiri. Mereka kini hanya berdoa agar setiap langkah yang saya ayunkan mendapatkan perlindungan dari-Nya.

Dua paragraph terakhir tulisan ini membuat saya bener-bener ngerasa kalaulah benar reinkarnasi itu ada, saya memang yakin saya ini seorang pahlawan di kehidupan sebelumnya. Kenapa?

Saya katakan saya tak berani meminta pada Allah untuk ditempatkan di Banda Aceh, maka saya mendapatkan Bireuen. Bireuen memang bukan kota impian penempatan saya, tapi bukankah melalui Bireuen saya akhirnya berhasil mewujudkan mimpi saya (lagi dan lagi)?

Iya, tentang keinginan saya untuk dapat hidup sendiri dan mandiri.

Ah… Allah benar-benar begitu murah hati terhadap saya.

Advertisements

3 thoughts on “Saya Seorang Pahlawan Dulunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s