Gagal Menjadi Perempuan Aceh

Boleh dibilang saya ini sedikit menyesali lahir sebagai orang Aceh asli (bukan campuran) tapi selalu tidak ditebak sebagai orang Aceh. Saya iri dengan wajah-wajah perempuan yang menurut saya keliatan banget Aceh-nya. Hidung mancung, mata besar kecoklatan, alis tebal dan kulit yang berpigmen bagus. Tidak seperti saya yang memiliki hidung pesek, alis tipis dan kulit pucat kemerahan. Iya kalau lama di matahari kulit saya akan memerah dan itu terasa pedih sekali. Ini dikarenakan kulit saya yang kekurangan pigmen. Untuk semua bentuk fisik itulah saya merasa menjadi orang Aceh yang gagal.

*melenguh*

Tebak orang selalu salah terhadap apa suku saya yang sebenarnya. Sama orang Jakarta saya dibilang orang Medan, sama orang sunda saya dituduh orang Palembang, sama orang Jawa saya dituduh orang Malaysia dan bahkan sama orang Aceh saya dituduh sebagai orang Padang.

Bagi telinga melayu (orang padang, Palembang dan medan) yang memang akrab mendengar kosakata dan logat saya yang secara garis besar sama, yaitu melayu. Mereka sering menuduh saya bukan orang Aceh. Menurut mereka gaya bahasa dan cara berbicara saya kurang terkesan Aceh. Saya memang jarang berbicara bahasa Aceh tapi bukan berarti tak bisa. Karena jarang itulah maka logat Aceh saya bagi orang Aceh sendiri menjadi kurang terasa.

Lahir dengan warna kulit pucat kemerahan gini dan hidung kaya kembang (sepatu) membuat saya makin diragukan ke-Aceh-annya.

Bos saya ketika masih OJT di Banda Aceh berkomentar kalau saya ini gak mirip orang Aceh pada umumnya. Baik dari segi wajah dan alunan bahasa saya. Lalu bapak di kantor saya yang sering makan siang sama saya malah mengira saya orang Padang. Setelah saya berbicara bahasa Aceh barulah beliau yakin saya orang Aceh. Meskipun katanya bahasa Aceh saya kurang ‘ngena’.

Ketika saya di Surabaya yang paling aneh lagi. Jawa dan Sumatera sudah tentu jauh logat bicaranya. Orang Jawa pasti ngerasa adanya perbedaan logat itu. kami terlalu melayu dan mendayu bagi orang Jawa. Hal ini pernah diucapkan oleh Almarhum pacar saya, menurut dia cara saya berbicara terlalu mengalun dan mendayu.

Balik lagi tentang pembahasan Surabaya. Ketika itu saya tengah berbelanja oleh-oleh di sebuah pusat perbelanjaan. Dan oleh si bapak penjual baju batik itu dia langsung main tembak aja ketika berkata, “Udah lama di Indonesia ya?”

Saya yang tengah mencari dompet di dalam tas takjub dengan pertanyaan yang luar biasa itu.

“Eh … iya.” Dalam hati saya menyambung, hampir 25 tahun saya hidup di Indonesi, Pak.

“Pantes udah pinter nawarnya,” ucap sang bapak masih sotoy.

Sebelum saya sempat berkata dia melanjutkan, “Dari Malaysia, kan?”

Saya dan teman saya lalu berpandangan dan kami saling tersenyum penuh arti.

Saya membalas percakapannya, “kalau saya udah pinter nawar harusnya bapak ngasihnya lebih murah lagi. Gak segini.”

“itu udah murah, kok. Apalagi buat oleh-oleh”

Nah loh… ketahuan, kan. Klise banget kan? Selalu pedagang itu ya begitu. Setiap kali ada wisatawan baik lokal maupun mancanegara (yang mana saya termasuk keduanya saat itu, saya yakin saya ini produk local tapi si bapak yakin saya ini dariluar negeri) selalu saja harga dinaikkan jauh dari harga sebenarnya.

Dan ya…padahal saya udah bersusah payah berusaha berbicara dan berlogat sedikit Jawa saat membeli itu. Berharap dapat sedikit mengelabui. Tapi lidah yang terbiasa melayu dan telinga yang terbiasa Jawa tak bisa dibohongi oleh bualan belajar logat Jawa yang baru dilakukan sebulan dua bulan.

Selesai membeli saya mendiskusikan hal ini kepada temen saya. tentang mengapa si Bapak penjual harus berpikir sejauh itu. kenapa ia tak berpikir kalau kami dari Sumatera.

Lalu temen saya memberi sebuah argumentasi. Menurutnya ini karena kostum yang kami kenakan. Saat itu saya memakai rok dan jilbab yang menutupi hingga dada. Kostum yang mungkin lebih terkesan dari negeri Jiran. Saya sih setuju saja, secara setahu saya orang-orang Malaysia kerap memakai rok atau gamis begitulah.

Sekarang saya di Bireun. Karena begitu buta akan kota ini dan lagi saya yang tak terbiasa bahasa Aceh, saya kembali diragukan ke-Aceh-an-nya. Mereka pikir saya ini adalah pendatang luar Aceh ketika saya kerap bertanya sama ojek dimana tempat membeli sesuatu atau tempat yang saya ingin tuju.

Mulai sekarang saya bertekad untuk terbiasa melafalkan bahasa Aceh. Bukan hanya mendengarkan. Karena selama ini saya hanya sering melakukan percakapan dua bahasa.  Si pembicara berbahasa Aceh saya menjawab dengan bahasa Indonesia.

Dan ya… apa saya perlu pasang sanggul palsu agar mirip Cut Nyak Dhien?

rok

ini dia kostum saya saat dikira penduduk negeri Jiran. Pose ini diambil di asrama balai diklat Surabaya ketika bulan 3-5 lalu saya mengikuti pendidikan, diambil sebelum pergi ke pasar beli oleh2. Ini juga saat saya udah gemukan. naik 7 kilo, Men. Mantap bener.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Gagal Menjadi Perempuan Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s