Nada Pembawa Galau

Damn. Sebuah lagu memang sebuat tool yang paling ampuh melumpuhkan saya dalam labirin bertajuk kenangan.

Playlist mp3 henpon saya yang disetel dengan shuffle mode tiba-tiba mengantarkan kedua indera telinga saya ke sebuah lagu. Lagu yang kerap saya putar dulu kala saya di Jakarta. Tahun 2012 lalu. Saat itu saya kangen sama Ibu saya, dan pas ketemu lagu Maher Zein yang berjudul Number One For Me, saya langsung jatuh hati sama lagu ini. Pada pendengaran pertama saya bahkan sempat menitikkan air mata.

Lagu.

Lagu yang saya sebutkan tadi gak ada hubungan antara liriknya dengan kegalauan saya yang tiba-tib ini. Galau ini terjadi karena lagu ini adalah lagu yang sering saya putar ketika saya di Jakarta dulu. Alhasil memori tentang Jakarta serta merta menyeruak masuk ke dalam otak saya meskipun kini letak saya telah jauh dari kota Jakarta. Bahkan sekarang saya sudah hijrah lagi ke sebuah kota lain yang bukan kota tempat saya tumbuh besar.

Lagu ini. Nada demi nada. Lirik demi lirik mampu membuat saya kembali masuk ke kenangan tahun lalu. Bahkan saya bisa merasai aroma pagi ketika saya buru-buru berangkat ke kantor karena saya sering telat bangun. Saya bisa mengingat ketukan langkah kaki saya di tangga kostan. Saya bisa mendengar klakson berisik pagi hari ketika jalanan penuh orang yang hendak ngantor. Dan dari semua itu, ingatan ini mengantarkan saya ke sosok seseorang.

 

Tentu saja orang itu adalah pacar saya yang telah meninggal.

Damn. Lagi-lagi dia masih diingatan. Lagi-lagi saya terjebak kenangan. Lagi-lagi orang pasti akan meragukan ke-move-on-an saya.

Lagu tersebut bukan lagu yang mengisahkan tentang kami. Akan tetapi kala kisah saya dan almarhum pacar saya itu terajut lagu itu kerap memasuki gendang telinga saya.

Jakarta, mungkin adalah kota yang pernah sangat saya sukai. Abaikan macet dan kejamnya hidup di sana. Saya mencintai kota tersebut karena saya bertemu cinta saya di sana.

Namun lalu, Jakarta menjadi kota yang saya takuti. Saya bahkan berharap tak akan pernah lagi ke sana. Takut semua hal remeh temeh dari Jakarta akan membuat saya galau dan mewek jelek kayak nenek-nenek.

Jangankan untuk berada di Jakartanya, ketika beberapa bulan lalu saya harus transit di Bandara Soekarno Hatta hati saya udah dag dig dug. Dan ruang tunggunya bikin saya gelisah. Gimana tidak. Di ruang tunggu itulah saya pernah gundah gulana akibat harus LDR ama almarhum pacar saya. saat itu saya balik ke Aceh dan dia harus tinggal di Jawa Tengah.

Lalu..

Bahkan kini LDR kami makin jauh. Tak bisa dijamah dengan tekonologi super canggih buatan manusia manapun.

Lagu. Saya mungkin harus berhati-hati kini dengan playlist saya.

Aaah.. ini rumit. Lebaran nanti saya sudah berjanji pada keluarga juga pada diri saya sendiri kalau saya siap menerima orang baru. Dan tiba-tiba saya merasa nista malam ini saya malah galau lagi teringat almarhum.

Ya, perpisahan saya dan dia pasti akan abadi di ingatan saya.

 

 

Entah sampai kapan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s