Kenapa Menikah Terlalu Cepat?

Saat baru lulus kuliah undangan pernikahan teman-teman kuliah seangkatan dengan saya akhirnya marak dimulai. Bila yang menikah adalah teman perempuan maka wajar-wajar saja karena toh usia 22-23 memang sudah selayaknya menikah, tapi ternyata undangan tersebut ada juga yang berasal dari teman kuliah saya yang berjenis kelamin laki-laki. Yap. Mereka menikah di usia 23 juga.

Saya punya dua pikiran ketika mendapat undangan dari teman lelaki yang menikah di usia 23-an.

Pertama, kagum. Iya, saya kagum dalam usia semuda itu mereka sudah berani mengambil keputusan besar untuk seumur hidup. Berani bertindak dewasa. Berani mempertaruhkan hidup untuk perempuan yang dipilihnya. Berani untuk kemudian menjadi sosok kepala keluarga yang mempunyai tanggung jawab yang besar. Singkat cerita, telah berani menjadi imam. Pemimpin.

Maka saya berikan standing applaus untuk teman-teman lelaki saya yang telah menikah di usia muda, di saat di luar sana banyak lelaki yang sudah berumur 30-an masih juga suka mem-pehape-kan anak perempuan orang.

Pikiran kedua adalah, ‘kok bisa yak?’ dengan ekspresi sinis.

Iyap. Saya sinis. Saya malah menaruh curiga atas pernikahan macam apa yang akan dia jalani kelak. Umur masih terlalu muda. masa depan cerah masih akan terbentang luas dengan banyak pilihan, bagaimana kelak bila teman saya ini menemukan godaan?

Baiklah, jangan sebut godaan, tapi sebut saja ‘akhirnya menemukan sosok yang sesungguhnya diidamkan”

Bagaimana kelak bila dia akhirnya merasa menikah terlalu cepat, padahal, bila ia mau menunggu 2- 3 tahun lagi, maka ia akan bertemu dengan perempuan yang tepat?

Lalu, pernikahan di usia yang terlalu muda (usia 23 bagi lelaki) itu bukankah akhirnya hanya omong kosong?

Iya, bagi kamu yang membaca ini dan sudah menikah, bagaimana bila saat ini akhirnya kamu menemukan perempuan yang tepat, akankah kamu menyesal telah menikah terlalu cepat?

 

Udah lama gak ngeblog sekalinya malah nulis geje gini onion-emoticons-set-2-14

4 thoughts on “Kenapa Menikah Terlalu Cepat?

  1. Geje tingkat langit ke 7 nih, gw lg nyiapin wat nikah nih.. Ngerasa belum punya apa2, tp sang wanÍta dengan tulus berucap..” Yg penting niat mas, sama sÝarat sahnya”, nah lho? Tetep deh saya bilang tunggu dulu, c… emang bukan maksud maÙ cari yg lain, melainkan mengumpulkan kesiapan hingga mantabb, langsung bilang Ibunya nanti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s