Teriakan dari Balai Diklat

Apakah kalian masih berkunjung kemari kala rumah saya tampak tak berpenghuni? Ibarat kata, lampu terasnya aja gak hidup, apalagi isi dalam rumahnya. Sepi tak ada aktivitas.

Banyak sebenarnya yang mau saya tulis. Pengalaman ketika saya Latihan Militer belum semua saya ceritakan. Tentang harunya saya menyanyikan lagu Padamu Negeri juga belum saya tuangkan. Atau tentang kelakar dan candaan temen-temen diklat yang berasal dari seantero Nusantara. Semua tak sempat saya tuliskan karena waktu saya yang terbatas.

Gak meminta perpanjangan waktu misalnya menjadi 30 jam sehari, karena itu artinya saya akan lebih banyak lagi beraktivitas sementara tubuh saya letihnya bukan main.

Gak pernah saya bayangkan sebelumnya diklat ini bener-bener menyita fisik, otak bahkan mental saya. Di sini fisik harus kuat, otak harus encer, mental harus tahan banting. Seharusnya.

Saya sudah sebulan lebih di Surabaya. Sudah sebulan pas di balai diklat. Fisik sudah tak terurus. Otak sudah begitu lelah dan stress. Mental naik turun, kadang down membuat saya ingin berteriak histeris, kadang ingin tenang mengalahkan keadaan.

Hasilnya?

Capek.

Capek.

Capek.

Capek.

Belajar dari pukul 7.30 sampai 17.45. kalau ada pelajaran tambahan, maka akan ada kelas dari jam 19.00 sampai 21.00, seperti yang sudah 3 hari ini saya lalui. Kalau sudah begitu, jangan tanya berapa kuap yang sudah tercipta, bagaimana pegal tulang punggung dan bagaimana penatnya isi otak ini.

Bangun pagi pukul 4 dan baru lelap pukul 9 malam dengan aktivitas padat yang menggila.

Gila. Ini gila.

Makanya saya gak berharap waktu bisa diperpanjang dalam sehari, karena itu artinya bukan waktu istirahat yang bertambah melainkan aktivitas yang makin ditambah.

Apakah saya mengeluh?

Iya.

Iya.

Iya.

Saya manusia. Sekuat apa saya mencoba baik-baik saja dan tertawa seperti tak ada beban pikiran, tapi sesungguhnya saya capek.

Beberapa hari lalu ada waktu di mana saya pengen banget teriak sekencang mungkin. Pengen banget nangis sekuat tenaga. Pengen banget lari dari kenyataan ini. Pengen keluar dari sini.

Lalu akhirnya saya menelepon ibu saya. Menangis sejadi-jadinya. Mengeluh sebisa-bisanya. Tentang saya yang gagal di ujian praktek. Tentang saraf punggung saya yang kejepit yang membuat tubuh saya pernah kaku tak bisa bergerak. Tentang bosannya saya di asrama. Tentang inginnya saya bermain-main. Tentang semua yang ada di balai diklat ini yang membuat sumpek hati dan otak saya.

Menangis. Menangis.

Dan saat itu saya benar-benar merasa lemah.

Sampai saya menyesal.

Menyesal karena mengeluh pada ibu saya. membuatnya khawatir.

Selama ini saya adalah anak mandiri yang cenderung bisa menyelesaikan masalah tanpa nangis pada Ibu saya. Saya juga tak pernah gagal dalam ujian apapun. Fisik saya tak pernah bermasalah serius. Tapi apa, nyatanya semua kacau. Otak, mental dan fisik saya rusak. Lalu ibu saya pun jadi syok dan khawatir ketika mengetahui anaknya menjadi begitu hancur di pulau seberang.

Jadilah ibu saya sakit. Dan lalu saya menjadi nangis menjadi-jadi lagi.

Sekarang mental saya mungkin masa bodoh. Selama belum gila ajalah. Sekarang fisik saya tak lagi saya manjakan. Bosan sudah saya minum obat-obatan itu. Sekarang otak saya harus saya paksa. Paksa bekerja dengan lebih keras dan lebih banyak di waktu yang singkat.

Tulisan ini emang gak penting banget. Saya sedang down. Saya Cuma butuh pelampiasan. Saya butuh bercerita tanpa ada yang menghakimi dan tatapan penuh prihatin pada saya.

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Teriakan dari Balai Diklat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s