Sudah Setahun

Bulan ini, setahun yang lalu. Ada kamu ada aku. Dalam sebuah temu yang bermula malu-malu. Siapa sangka setelahnya ternyata canda tawa yang berderai di antara waktu kebersamaan kita membuat binary senyum mengisi hati kita. Hati kita yang merona merah jambu.

 

Tanggal yang sama, setahun telah terlewati. Ada rasa dalam hati. Dalam setiap pertemuan yang membuat kita sering memproklamirkan janji. Siapa sangka ternyata hati kita bertaut begitu lekat. Ingin selalu dekat dalam detak detik yang bergerak cepat. Agar kebersamaan kita terkungkung dalam sebuah tirai yang selalu kita harap sebagai sebuah hal bernama jodoh.

 

Setahun telah berlalu. Masih kuingat pertemuan pertama kita. Mungkin aku curang karena mengingatnya bukan murni dari ingatanku, melainkan dari contekan tulisan dalam blogku setahun lalu yang kuceritakan tentang bagaimana pertama kali aku bertemu kamu. Tentang keceriaan yang coba kamu selipkan di antara kepedihanku. Tentang rasa pedulimu. Tentang kamu yang akan selalu kuingat.

 

Kamu apa kabar?

Semoga selalu tenang dan Tuhan mengampuni dosamu.

Setahun sejak perjumpaan pertama kita, aku sudah berubah, kerjaanku berbeda, teman-temanku makin banyak, kuliahku sudah berjalan lagi, dan kini saat aku menulis ini aku tengah berada di kota Surabaya.

Beberapa bulan sejak kepergianmu masih sesekali aku merindukanmu dan berharap kepalaku bisa kusandarkan pada pundakmu, seperti kerap yang kulakukan di tahun lalu sepulang kerja.

Beberapa bulan sejak kepergianmu telah kulalui banyak hari dan aku begitu merindukan bagaimana aku bisa menceritakan setiap detailnya padamu.

Beberapa bulan sejak kepergianmu aku kembali memasang poto kita bersama sebagai wallpaper di handphoneku. Hal ini mengundang berbagai reaksi. Ada yang menyuruhku mengganti poto tersebut di ponsel sekaligus di hatiku. Menyuruhku move-on. Kala yang melihatnya secara tak sengaja ada teman-teman baruku di lingkungan kerjaku, mereka begitu rebut meminta informasi siapakah lelaki yang turut serta di poto tersebut yang telah membuatku menyungingkan senyum begitu lebar. Dan untuk semua reaksi yang kulakukan hanyalah tersenyum.

Karena mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu kalau kamu telah tiada. Mereka tidak tahu kalau kamu masih ada.

Bukan tak ingin melanjutkan hidup dan terpenjara dengan memori indah bersamamu. Kamu tentu tahu aku kuat dan terus mengharapkan hidupku menjadi lebih baik.

Hanya saja…

Masih hanya saja…

Aku masih merindukanmu.

 

 

Kamu penguat.

Kamu penyemangat.

Kamu.

Kamu.

Masih kamu.

 

Kala kerjaanku terasa penat, menjenuhkan dan melelahkan aku bisa kembali tersenyum dan bersemangat hanya dengan memandang gambarmu dalam poto yang kita buat bersama.

Kala aku begitu lelah dengan rangkaian pelatihan ini aku mampu bangkit dengan mengingat memori yang telah kita buat.

 

Aku merindukanmu.

Hanya merindukanmu, karena aku berharap kamu tenang di sana. Tenang dan damai. Tenang dan selalu kupanjatkan doa agar segala salahmu diampuni-Nya, agar segala ibadahmu diterima-Nya.

 

Sudah setahun.

Setahun lalu saat kita pertama bertemu.

Sudah setahun berlalu.

 

 

 

  Surabaya, 3 Maret 2013

6 thoughts on “Sudah Setahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s