Terjebak Kenangan

Tentu saja masih terbayang jelas dalam ingatanku tentang pertemuan pertama kita. Tentang kaku dan kikuknya kita. Tentang canggung dan rasa malu. Tentang cerita-cerita kita.

Masih aku ingat dengan pasti akan semua perhatianmu yang kamu berikan padaku ketika tanda-tanda suatu rasa menyergap dirimu. Aku saat itu bukan tidak tahu, hanya mencoba untuk seperti tidak mengetahui apa-apa dan seolah buta.

Nyaman. Itu yang selalu aku katakana padamu. Tentang betapa aku takut suatu rasa bisa merusak kebersamaan kita. Tentang keinginan memiliki bisa membuat kandas rasa nyaman.

Aku mengatakannya ketakutanku.

Mengingat semua hal tentang perjalanan kita sedari awal bertemu di sebuah terminal hingga perpisahan kita di sebuah teras sambil memakan es krim adalah hal yang mudah bagiku. Setiap detilnya bisa kuingat dengan jelas. Setiap pertemuan demi pertemuan bisa kurangkai bagaikan adegan film yang mengisahkan dua insan mabuk cinta.

Namun, bayang wajahmu kian hari kian memudar. Layaknya sebuah pukulan keras bagiku yang memberitahu, aku hanya akan bisa terus memilikimu dalam sebuah dunia bernama kenangan. Dalam dunia nyata kamu telah tiada. Memudarnya wajahmu dalam ingatanku, pertanda waktu bertindak kejam padaku. Mengingatkanku terus kalau kamu telah tiada. Lalu meninggalkan aku larut gila dalam kenangan bersamamu.

2 thoughts on “Terjebak Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s