Soal Tampang yang Nomer Sekian Sekian Sekian Sekian

“Tapi abang tuh pendek,” keluh perempun berjilbab kuning, ketika ketiga temannya bertanya dengan antusias siapakah kini lelaki yang tengah dekat dengannya.

“Tapi orangnya baik, kan?” tanya si perempuan berkerudung hitam berusaha menyemangati perempuan berjilbab kuning tadi.

“Baik banget malah, udah gitu, aku ngerasa nyambung banget sama dia.”

“Nah, apa lagi? Inget ya, kita tuh milih pasangan sekarang ini bukan untuk saat ini aja. Kita harus mikir 20 tahun ke depan. Bahkan lebih. Ketika anak-anak kita udah besar-besar dan tentu aja kita gak mau kesepian,” jelas si perempuan berkerudung hitam panjang.

Tentu benar. Di usia seperti ini (emang seperti apa yak?) a.k.a usia tepat menikah, yang kita jadikan patokan untuk menjadi pasangan kita bukanlah soal tampang. Untuk sekarang tampang berada di urutan sekian-sekian setelah ini dan itu. Jadi bila nanti yang bersanding di pelamin bersama kita bertampang rupawan ngalahin Nicholas Saputra, itu namanya bonus.

Mungkin nanti pasti ada yang nyeletuk gini, “ya ampun, ceweknya cantik amat kok iya dapet lakik item gitu.”

Atau, “itu perempuan ayu kok ya suaminya bantet gitu yak?”

Kita bukan lagi anak SMA yang bangga punya pacar ganteng, jangkung plus ketua osis. Kita sekarang bukan lagi cewek ingusan berseragam abu-abu. Kita adalah perempuan yang siap menjadi wanita. Yang mulai melihat hal-hal lain selain semua hal dibalik keelokan fisik. Maka biarkan saja ketika ada yang nyeletuk menghina kita dan pasangan kita kelak, biarkan saja dibilang ‘bodoh banget milih pasangan’, karena menurut saya inilah yang dikatakan pintar.

Kenapa? Karena seperti kata perempuan berkerudung hitam tadi. Kita memilih pasangan kini bukanlah untuk setahun dua tahun ke depan, tetapi untuk menjadi teman kita hingga ajal menjemput salah satu dari kita.

Nanti, ketika usia perkawinan sudah mencapai belasan tahun, yang namanya cinta itu telah tersamarkan bahkan mungkin terasa hambar ketika segala perhatian mulai tercurahkan seluruhnya untuk masa depan anak-anak kita. Pada tahap ini bukan cinta yang melekatkan kebersamaan, namun komunikasi yang lancar dan tetap terjaga yang lebih dominan. Maka itu carilah pasangan yang nyambung dan punya tujuan hidup yang sejalan dan serasi. Yang akhirnya nanti, ketika anak-anak sudah dewasa dan kulit telah keriput dan rupa tampan dan cantik telah tak tersisa, kita dan pasangan kita masihlah mampu bersama menjalani hari menunggu ajal. Saling menemani kala anak-anak telah sibuk sendiri.

Itulah kenapa saat kita telah ‘klik’ terhadap satu orang dan pas, juga mampu saling mengisi satu sama lain, dialah yang kita pilih ketimbang lelaki tampan nan rupawan tapi tak sedikitpun ada rasa kecocokan di sana.

Mungkin kamu akan mengatakan saya sok tahu ketika menulis tentang ini. Tak mengapa. Saya memanglah belum berpengalaman soal menikah karena memang saya belum menikah. Tapi hal ini saya ketahui dari pengamatan. Contoh dekat saja, pengamatan saya terhadap orang tua saya.

Saya sering mendengar tentang rencana-rencana mereka (orang tua saya) ketika nanti kami semua anak-anaknya meninggalkan mereka satu persatu. Tentang hidup berdua damai. Atau tentang kelakar Ayah saya, yang takut kehilangan Ibu saya dan berkata bahwa nanti, ketika kami semua sudah menikah, hanya Ibu sayalah temannya melihat senja berdua sebelum menunaikan shalat magrib berjamaah.

Atau duluuuuuuu sekali, ketika saya masih bocah ingusan. Ketika pertengkaran ibu dan ayah saya kerap terjadi, ketika saya berpikir cinta mereka telah habis. Lalu saya heran kenapa mereka masih bertahan dalam sebuah ikatan. Belasan tahun kemudian barulah saya tahu alasannya.

Mungkin iya cinta mereka telah habis, tapi mereka punya tujuan yang sama tentang melanggengkan perkawinan. Mungkin iya cinta mereka telah habis, tapi keinginan mereka adalah tak ingin merasakan kesepian sendiri ketika mereka telah renta kelak. Maka, nanti, ketika anak-anaknya telah sibuk dengan dunia sendiri mereka tetap mempunyai tempat untuk bercerita atau bernostalgia tentang masa muda mereka. Dan, pada saat-saat itu cinta mungkin kembali timbul. Kembali ada. Kembali karena beban-beban dan tanggung jawab mereka telah lepas. Kembali ada karena mereka kini hanya berdua tanpa riweh tentang uang sekolah anak atau bayar listrik yang nunggak.

Mungkin orang tua saya belumlah renta. Tapi sesekali saya sering melihat kedua orangtua saya berkelakar berdua dan lalu tertawa. Ah iya, saya ingin juga melihat hal serupa nanti. Ketika keriput mereka semakin banyak.

Kala itu semoga saya juga sudah menemukan seseorang. Seseorang yang tak hanya saya sebut suami. Tapi lebih dari itu, teman seperjalanan menuju Surga-Nya. Teman hingga menua menunggu ajal.

Advertisements

17 thoughts on “Soal Tampang yang Nomer Sekian Sekian Sekian Sekian

  1. semakin bijak, memang seperti kata Rasulullah SAW, yang utama yang dinnya bagus, yang lain2 bonus (rejeki tambahan) syukur-syukur…… syukur-syukur…. mudah2an banyak syukurnya …..:D

    1. Iya. dan tadi kata dosen saya, kalau mau menjadikan seseorang sebagai panutan, lihatlah, di mana ia shalat shubuh 🙂
      mungkin begitu juga saya kelak memilih pasangan, seseorang yang mau bangun di shubuh buta untuk berjamaah di masjid. aamiin 🙂

  2. Hani dulu mungkin punya kriteria fisik masalah mencari pasangan, waktu SMA sukanya nyari yang ganteng-ganteng

    sekarang saat usia menikah *26* nggak ada lagi cerita nyari pacar dengan kriteria fisik yang rupawan, yang penting bisa diliat dua belah mata sudah cukup

    kayak waktu pertama kenal Mister Acan, awalnya tu ya kurang sreg karena fisiknya nggak begitu ‘menggoda’, tinggi sih tapi…..

    karena Hani nggak mau terlalu cepat mengambil keputusan, pedekate dia dijalanin aja, eh sekarang malah Hani yang lengket terus sama dia, soalnya dia baik dan sopan banget orangnya. Merasa aman dan nyaman kalo udah deket dia.

  3. Tulisan yang matang… Dulu jg waktu masih TK pernah nangis liat ortu adu mulut… Tapi baru paham juga bahwa cintanya mungkin tersamar, tp kasih dan sayangnya serta komitmen untuk terus saling belajar memahami yang tetap terjaga.

    Bahkan saat Bapak sudah pulang, justru melihat Ibu yang semakin cinta sama beliau. Jadi sdikit tahu..hubungan cinta yang ‘dewasa’ dan bermuara pada cintaNYA mungkin yang seperti itu.. 🙂

    Terharu sama tulisan ini dan ebuseet komen saya panjang amaaat. Mau komen malah jadi curcolan kelas teri inii.. :lol.

  4. Cinta tak memandang fisik memang keren untuk dilakukan. Yaa, saya sebagai anak muda memang masih selalu melihat fisiknya dulu, baru hatinya. Gimana pun tampang adalah hal yang pertama kali kita lihat kalau kenalan sama orang, semoga saya diampuni :-/

    1. yaaah.. kamu kan masih muda ya, jadi ya liat-liat fisiku dulu bolehlah,
      tapi percayalah, kalau akhirnya cinta udah dateng, fisik itu memang tak lagi perlu untuk diutamakan.
      *berasa udah tua banget 😀

  5. Saya juga mengalami itu. Ketika semua teman2 saya berkomentar ttg fisik pacar saya yg kurang rupawan. Sungguh, awalnya saya sedih sekali. Tapi saya bahagia dan nyaman kalau bersama dia. Ahirnya saya kuatkan hati untuk tetap melanjutkan hubungan dg pacar saya itu tanpa memperdulikan komentar2 negatif mereka. Saya heran, knpa sbagian besar orang hanya memandang fisik itu nomer 1 dibandingkan segalanya. Padahal saya yakin sekarang bahwa Allah menciptakan mahluknya dg kekurangan dan kelebihan masing2. Betul kan teman2? 🙂

    1. tetaplah pada pendirian dan apa yang kamu yakini, karena orang memang bisa berkomentar sesuka hati mereka sebanyak yang mreka mau, tetapi yang mnejalani adalah kita. kita yang tau apa yang terjadi sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s