Imajinasi: Be an Anchor

Apa yang membuat saya duduk manis di depan televisi setiap pukul 5 sore?

Menonton berita jawabannya.

Sejak kecil saya suka nonton berita. Wah, sedari kecil ternyata sosok Intan sudahlah tampak sisi inteleknya ya?

Jangan salah menduga.

Saya menonton berita. Menonton. Lebih tepatnya menonton penyiar/anchor yang tengah siaran membawakan berita. Menyimak isi berita adalah perkara lain, apakah nanti telinga saya mau mendengar atau malah akhirnya muak karena pemberitaan variasinya selalu itu-itu saja.

Sebut saja Putra Nababan. Berkat ketampanan, aura cerdas, dan gaya bicaranya yang tegas, membuat saya mencintai Seputar Indonesia, selain dia, idola saya adalah Isyana Bagoes Oka, selain cantik, saya mukanya itu memanglah sangat pantas untuk menjadi seorang anchor. Lalu ada Najwa Shihab yang wow banget. Selain mereka sih, kesukaan saya terhadap anchor berita sih biasa saja, malah ada di salah satu TV swasta yang para anchornya kebanyakan hanya terlihat cantik semata. Menurut saya mereka lebih cocok menjadi pemain sinetron atau bintang iklan ketimbang anchor. Menurut saya loh ini.

Ada lagi satu penyiar TV swasta lain, yang malah amat saya benci, selain karena sudahlah tua, suaranya juga bikin saya gak โ€˜enakโ€™ dengernya. Biasanya beliau siaran malam. Namanya? Gak baik disebutkan.

Kebiasaan memelototi anchor berita sudah saya lakoni sejak kecil. Dulu anchor pertama yang saya inget adalah seorang perempuan berambut keriting yang membawakan berita pada jam setengah tujuh malam. Namanya saya lupa. Dia tidak cantik. Tapi kharismanya dapet. Sejak itu saya jatuh hati sama dunia penyiaran berita. Dan, menjadi seorang anchor adalah salah satu cita-cita terpendam dari sekian banyak cita-cita terpendam saya yang lain. Mungkin tidak tepat juga disebut cita-cita, mungkin ini hanya sekedar imajinasi. Betapa saya selalu membayangkan sayalah yang ada di dalam kotak kaca tersebut, membacakan berita, dengan blazer rapi dan sorot mata cerdas. Terlihat cantik dan pintar dalam sekali pandang.

Ah iya, itu salah satu imajinasi saya.

 

 

4 thoughts on “Imajinasi: Be an Anchor

  1. Kayaknya yang kamu nggak sukai itu malah aku suka deh… Lucu kalau buat aku nTan.. ๐Ÿ˜€

    Nggak ikutan pencarian bakat penyiar berita TV? Lagi banyak dibuka tuh. Kayaknya bakal roadshow juga ke Aceh.๐Ÿ˜€

  2. Aku suka banget untuk pembawa berita di Liputan 6 dulu, yaitu si Rosiana Sillalahi. dia pernah meraih Panasonic Global Award, she’s smart. she’s beautifull *menurutku*

    tetapi, dia dipindahkan ke Global tv, dengan acara Rossy yang sekarang sudah tidak ada. Rossy sendiri yang membuat aku kagum terhadap anak-anak (maaf) autis sebelum kenal sama mbak silly dulu.

    Rossy setiap berbicara membuat saya tertegun. dan kepikiran kapan saya bisa jadi kayak beliau, ya.๐Ÿ˜ *bangun ndue, bangun*

    1. ah ya, dia cantik dan pintar juga, tapi aku tidak terlalu memmafvoritkannya, meskipun gak masuk dalam daftar anchor yang tidak kusukai juga. dia masuk kategori ‘aman’ bagi penilaianku.
      *emang aku siapah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s