Pasangan Penulis

Friends With Money. Judul sebuah film. Pertama kali saya tonton beberapa tahun lalu, tidak begitu lama juga, karena seingat saya saat itu saya masihlah kuliah. Kali kedua saya nonton, tadi malam. Ditayangkan di sebuah station tv.

Ada kesan saat saya menonton film yang diperankan oleh bintang kesukaan saya, Jennifer Aniston ini.

Ok, begini, film itu berkisah tentang 4 sahabat (ok saya selalu suka film sejenis ini, tentang persahabatan lalu di mana tetap terdapat konflik masing-masing tokoh, sebut saja seperti film Sisterhood of The Travelling Hotpants, atau yang lebih terkenal Sex and the City). Empat sahabat itu mempunyai masalah masing-masing, tapi yang kelihatan banget yang bernasib sial adalah Olivia, yang diperankan oleh Jennifer Aniston. Dia miskin, belum menikah, tak punya uang, bekerja sebagai pembantu dan selalu meminta sampel kosmetik di counter produk alih-alih membeli kosmetik perawatan wajahnya, maklum dia tak punya uang yang begitu banyak untuk ia habiskan  hanya membeli sebuah krim malam.

Saat pertama kali saya menonton film ini dahulu, ada ketakutan dalam diri saya yang akhirnya membuat saya bertanya sendiri, bagaimana kelak bila aku menjadi Olivia?

Well, dengan dulunya saya yang sangat amat skeptis soal cinta, sebenarnya wujud Olivia yang tak kunjung menikah itu membuat saya tergelitik. Ya, saya takut nanti, puluhan tahun akan datang, saya masihlah seorang single dan harus iri melihat teman-teman saya mempunyai kehidupan keluarga yang menyenangkan. Ya, saya takut menjadi Olivia pada bagian itu.

Hem…

Malam itu saya berdoa, jangan jadikan saya seperti Olivia, Tuhan.

Kisah lain.

Christine, sahabat Olivia, berkeluarga dan berprofesi sebagai penulis. Kisah hidupnya juga menggelitik saya. Ada adegan yang tak bisa saya lupakan bahkan saya masih mengingatnya beberapa hari lalu, sebelum saya menonton ulang film tersebut di TV. Adegan itu ialah saat di mana Cristine sedang bekerja bersama suaminya di sebuah ruang kerja. Dan tahu apa yang sedang mereka kerjakan?

Menulis naskah sepertinya. Entahlah itu naskah apa.

Sejak itu saya membayangkan, enak kali yak mempunyai suami yang sama-sama penulis lalu menulis bersama.

Beberapa tahun berlalu, dan saya mendapatkan seorang pacar penulis. Adegan film tersebut kembali berulang-ulang dalam benak saya sampai akhirnya saya mengutarakan keinginan saya menulis novel bersama pacar saya. Ia mengiyakan. Tapi yah, masalah teknis menjadi kendala hingga sebaris kalimat pun belum jadi sampai sekarang.

Lalu, saya mengangankan, kelak, setelah buku pertama kami jadi (buku nikah maksudnya, hehehe) maka, akan ada buku-buku lain yang tentunya akan kami tulis bersama. Seperti Christine dan suaminya itu (belakangan mereka akhirnya bercerai sih)

Well, lalu kini bukan soal masalah teknis. Ini soal ketentuan-Nya, yang akhirnya buku-buku itu tak pernah ada. Lenyap bahkan sebelum sebaris kalimat lahir.

Tapi yang selalu saya tahu adalah, meskipun mimpi saya dan dia telah lenyap. Mimpi saya masihlah sama. ingin mempunyai pasangan seorang penulis, minimal penulis blog, dan kelak, adegan seperti yang Cristine dan suaminya lakukan di ruang kerja -saling berhadapan dengan laptop masing-masing menyusun aksara membuat buku- bisa juga terjadi pada saya dan pasangan saya kelak.

Ohya, kasih selamat dulu nih buat teman blogger saya, Mifta Chaliq yang baru saja menikah, guess what? Ia menikahi seorang penulis. How lucky she is🙂

12 thoughts on “Pasangan Penulis

  1. Dulu aku punya pacar seorang penulis (sekarang mantan yah), awalnya menyenangkan bisa nulis bareng dan bertukar ide khayalan fiksi. Lama-lama… eh ga usab diceritain deh ntar merusak mimpi orang. hahahahaha…

    Kalau sekarang, malah bersyukur punya pacar logis tanpa embel2 penulis. It’s so romantic when he said “Kalau udah kembali dari dunia khayalmu, kabarin aku, ya”. Then he wait..

    *ih, jadi curcol* :)))

    1. Hey, how lucky you are
      pacar kamu sekarang pengertian, biasanya saya malah dapet tanggapan, “apaan sih, nulis mulu, kayak gak ada kerjaan lain aja”, dari orang yang pernah PDKT ama saya, jadinya PDKT-nya saya anggap ‘gak usah dilanjutin’, karena dia gak suka saya nulis.

      Jadi, kamu keren. Pacar kamu mau menunggu dan membiarkan kamu ‘berkhayal’🙂

  2. sayah gak mau yang penulis…sayah mau yang hobi jalan2 kayak sayah jadi bisa berdua kemana-mana… #sama aja yakkk!😛

    1. nah itu, saya juga mau yang kayak gtu, kalau dirincikan sih ne, jadi banyak,
      yang penulis, suka main game, dan hobi travelling😀
      sekarang sih saya susah dapet ijin travelling dari ortu, tapi entar kalau udah nikah kan jadi tanggung jawab suami, pasti diijinin, makanya berharap dapet yang hobi jalan juga😀

  3. siapa pun pasanganmu kelak Ntan, dia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini bisa mendapatkan perempuan yang kuat seperti kamu. Biar kata kamu mewek terus karena dia diambil oleh-Nya, tapi kamu masih kuat untuk terus hidup.

    Pernah dengar lagunya Kelly yang ‘what doesnt kill you make you stronger’ dong ya?

    bukti kamu itu kuat adalah kamu masih menulis di blog ini, masih hidup bersama kami di dunia.

    Hani menjadi orang yang beruntung bisa menemukanmu dihirukp-pikuknya blogosphere ini *benar nggak istilahnya*

    *dituliskan dengan mata berkaca-kaca tapi saya tetap tersenyum*

    1. makasih Hani, aku juga tetep kuat karena begitu banyak yang mendukung dan terus menyemangati aku, termasuk kamu. Terima kasih.

      aku memang harus tetap hidup. dan menghidupi hidup aku, Han. Aku sedih, tapi insyallah aku tidaklah sampai ‘mati’ dalam kesedihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s