Mau yang Happy Ending

Seperti biasa, setiap kali saya makan siang saya temukan Mami tengah menonton TV. Apa saja Mami tonton, tapi kali ini pilihan Mami adalah FTV. Saya ikut menemani Mami membawa sepiring nasi makan siang saya. FTV itu sudah mencapai klimaks, akhirnya saya menonton hanya 20 menit terakhir saja.

FTV itu gak berakhir dengan happy ending layaknya kisah lainnya. Sang tokoh utama wanita harus meneteskan air mata begitu banyak, karena sang lelaki meninggal akibat kecelakaan sepeda motor, yang mana lelaki tersebut belum sempat juga mengatakan cintanya pada sang wanita.

Hanya sebuah lukisanlah yang menjadi saksi bisu kalau ternyata sang lelaki punya perasaan yang sama seperti si wanita. Namun, tetap saja, lelaki itu meninggal tak bisa dimiliki oleh si wanita.

“Nanti juga pasti hidup,” celoteh Mami. Saya hanya diam.

“Idup kan , Tan?” Mami bertanya meminta dukungan saya.

“Gak tahu sih, Mi.”

“Iduplah, kan kuburannya gak dikasih nampak,” saya terkekeh geli mendengar alasan Mami.

Ternyata. Beneran si lelaki pelukis itu mati.

“Mati, Mi, ternyata. Beneran mati.” Saya memberi tahu Mami.

“Jeh, kok mati?”

“Mami pasti gak suka kan cerita kayak gini?”

“Iya, Mami maunya yang jelas-jelas aja, apalagi kalau jelas akhirnya kisahnya seneng.”

Kisah sad ending atau malah question ending pasti akan membuat Mami saya murka. Bagi Mami suatu cerita itu haruslah berakhir bahagia dengan senyum dan tawa sang tokoh utama di akhir scene. Cerita seperti FTV barusan yang kami tonton itu jelas membuat Mami kesal.

Lalu saya masuk ke kamar. Berpikir.

 

Mungkin itulah juga kenapa Mami selalu saja meragukan kematian almarhum pacar saya. Selalu saja beranggapan kalau almarhum pacar saya masihlah hidup hanya saja sekarang ia sedang ingin sendiri dan ingin mematikan cintanya pada saya.

Sudah berulang kali saya jelaskan fakta-fakta tentang Ibunya, tantenya, kakaknya, adiknya bahkan ayah almarhum pacar saya yang memang semuanya menunjukkan bukti kalau pacar saya memanglah telah tiada. Tapi setiap kali ada kesempatan, setiap kali pula Mami berusaha menyangsikannya.

Kini saya tahu alasannya.

Mami ternyata membenci cerita sad ending.

Apalagi kalau itu terjadi pada putrinya. Tentu saja melihat putrinya menangis dan memeluk erut dirinya pada hari dimana kabar berita kematian itu terdengar membuat Mami mungkin sedikit kesal. Bagaimana bisa beliau yang biasanya hanya menonton sinetron kini malah dihadapi kenyataan dengan kisah putrinya yang nyaris mirip sinetron. Kalau Mami saja bisa begitu kesal dengan kisah sad ending sinetron/FTV kenapa malah sekarang putrinya yang harus sad ending.

 

Lalu akhirnya saya paham benar-benar kini. Mami bukan meragukan kematian pacar saya, tetapi lebih berharap kalau ini tidaklah nyata, agar kisah saya bukanlah kisah sad ending.

Tapi Mami salah, hidup saya bukanlah cerita, naskah FTV ataupun sinetron beratas-ratus episode yang selalu ia gemari. Kini memang saya sad tetapi ini belumlah ending. Toh saat ini saya belum tamat. Masih bisa menulis bahkan di sini (meskipun menjadi jarang belakangan).

 

 

9 thoughts on “Mau yang Happy Ending

  1. Hidup emang bukan sinetron ya tan… Meski kita sebenarnya adalah pemeran di dunia nyata.

    Saya suka tulisan kamu yang begini tan,
    Dan (sialnya) saya masih blom bisa nulis tentang yang nyata saya alami sehari2… Ga tau caranya!
    Ajarinnnnnnnnnnnn…..

    1. Ih mbak gak tahu sih, saya ini masih perlu banyak belajar bikin fiksi, sering dikomentari kalau saya ini masih kurang bagus dalam menulis😐
      apalagi untuk buat konflik, saya gak jago :((
      ehiya, makasih ya udah mampir mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s