Percaya Keajaiban

“Kamu percaya keajaiban?” tanya saya pada seorang teman ketika kami menyusuri koridor shelter Cempaka Mas yang akan membawa kami ke bus tujuan PGC.

“Keajaiban seperti apa?” tanya teman saya tersebut.

“Sederhana saja, seperti barusan, Kak Asmah bilang bus dari arah Tanjung Priok ke PGC itu Cuma muncul satu jam sekali. Aku percaya keajaiban itu ada. Aku berharap keajaiban akhirnya memunculkan bus itu lebih cepat dari satu jam seperti yang Kak Asmah katakan.”

Sudah 30 menit kami menunggu bus TransJakarta di Shelter tersebut. Memang bus di situ jarang muncul dan kalaupun muncul pasti penuh sesak, paling juga entar yang dapet masuk 2-5 orang saja.

Selama 30 menit itu saya dan dua orang teman saya bercerita dan berbagi tawa demi mengusir kebosanan dan rasa lelah menunggu. Dan beberapa menit kemudian bus datang. Kami mengancang-ancang diri agar berhasil masuk ke dalam kerumunan penuh sesak di dalam bus.

Berhasil.

Sesampainya di dalam bus yang penuh dan aroma berbagai macam ‘parfum’ manusia saya melihat jam saya. Kira-kira kami menunggu 40 menit. Tuh kan, keajaiban ada.

Cerita lain.

Sepulang dari merantau tekad saya cuma satu, mengurus beasiswa kuliah ke luar negeri. Syaratnya nilai toefl.

Nilai toefl saya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh dari yang diharapkan. Siyalnya saya gak belajar padahal sudah sejak 4 bulan sebelum pulang saya berencana memasukkan aplikasi beasiswa. Saya lalai dan saya terlalu sibuk juga selama merantau (halagh).

Pulang ke kampung halaman. Jadwal test toefl dan deadline beasiswa hanya sebulan lagi. Saya pontang-panting belajar CUMA sebulan aja demi menaikkan skor toefl yang masih tertinggal 100. Sok paten. Tapi itulaaaah..

Mengikuti test tersebut merogoh kocek yang lumayan bagi jobless kayak saya, tapi akhirnya saya percaya saja.

Seperti biasa, percaya kepada keajaiban. Saya usaha. Saya berdoa. Lalu tinggal menunggu keajaiban yang telah Tuhan rencanakan buat saya. Sesimpel itu. Dan kabar baiknya adalah, selama saya percaya pada yang namanya keajaiban saya gak pernah menyerah, meski sekecil apapun peluang tersebut. Sesulit apapun itu untuk diraih. Optimis. Karena semua hal di dunia ini bisa diusahakan selama kita masih terus bersemangat dan percaya akan ketetapan Tuhan.

“Apa semua keajaiban yang kamu harapkan itu terkabul?” tanya teman saya ketika kami sudah di dalam bus dan akhirnya dia (mungkin ) sepertinya agak sedikit percaya.

“Tentu aja gak,” jawab saya sambil tersenyum. “Banyak keajaiban yang aku harapin dan tidak terkabul. Lulus kuliah pada tahun 2010 contoh kecilnya. Aku udah usaha sangat maksimal, meminta keajaiban luar biasa, lalu hanya perkara masalah sepele saja aku batal wisuda tahun itu dan harus tertunda sampai 3 bulan kemudian.

Seminggu setelah mengikuti ujian ITP saya mendapatkan hasil skor ITP Toefl saya. Skor toefl saya jauuuuuuh dari yang diharapkan. Malah menurun dari skor terakhir yang saya lakukan 2 tahun lalu.

Tidak apa-apa. Sudah usaha dan tidak menyerah itu saja. Semoga lain kali berhasil.

Lagian bila dilihat-lihat juga kan salah saya juga, gak belajar dengan maksimal😀

“Jadi kalau emang keajaiban itu gak selalu terbukti, kenapa juga kamu masih selalu percaya sama keajaiban?” teman saya kembali bertanya sementara teman saya satunya lagi sedari tadi sibuk sendiri dan tidak mengikuti obrolan kami ini.

“Dalam keajaiban ada harapan. Dan harapan kan yang membuat seseorang tetap hidup? Tetap merasa punya tujuan dan alasan buat hidup?”

“Eh iya ya..”

Seperti harapan saya kali ini. Kali saya gagal ini. Saya berharap kelak keajaiban membuat saya berhenti merasa gagal dan akhirnya saya mendapatkan apa yang saya harapkan atas usaha dan doa saya.

Meskipun peluangnya kecil. Meskipun semua orang mengatakan mustahil. Karena saya percaya keajaiban itu ada.

Sama seperti jadwal bus yang hanya lewat satu jam sekali. Gak ada yang mutlak di dunia ini. Semuanya bisa berubah, dan di situlah celah keajaiban muncul membuktikan salah satu keberadaan-Nya.

 

 

14 thoughts on “Percaya Keajaiban

      1. Hihihihihi. Jepang dah. Insya Allah. Hunting.
        Gara-gara kemarin ada temen mantan satu departemen hima yang tiba2 buat status, “Now at Incheon International Airport”, jadi pengen belajar di luar negeri. Bukan korea sih, tapi Jepang. Semoga ada jodoh *eh maksudnya rejeki bisa beli sendal disana. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s