Ujung-ujungnya Kerja di Bank

Udah banyak bank di Aceh yang saya datangi dengan keperluan untuk transfer ini itulah atau malah mengisi saldo rekening hanya supaya rekening saya gak mati. Dari sejumlah bank-bank yang saya datangi itu, hampir setiap kali saya pasti mengenali salah satu tellernya. Dan juga kebetulan sekali, setiap kali saya memang dilayani sama teller yang saya kenal itu. Sambil bertransaksi jadinya kami pun berbasi-basi sedikit.

Teller yang saya kenal itu adalah teman saya. Setiap kali saya selesai bertransaksi dengan para teller yang saya kenali itu, dalam pikiran saya Cuma satu hal yang terbersit, kuliahnya jurusan apa, eh ujung-ujungnya kerja di bank juga.

Sebutlah jurusan Hukum, Teknik Sipil, Mipa, Fkip, Sastra, bahkan ada jurusan Arsitek yang siapapun tau kuliahnya itu gak gampang dan belum lagi ditambah aksi begadang dari Senin sampe Senin lagi, dan dengan rutinitas kuliah yang gak gampang gitu, dengan segala tugas yang banyak itu, belum lagi dengan penelitian skripsi yang nauzubillah bikin sakit otaknya, kenapa malah akhirnya mengabaikan ilmu dan milih bekerja di bank?

Idealisme berperang dengan kebutuhan (uang).

Oke. Saya gak bisa bantah hal itu, tapi ya, kalau ujung-ujungnya memang kita harus berperang melawan idealism dan cita-cita sendiri kenapa harus memilih jurusan yang susah pas kuliah. Kenapa gak kayak saya aja, milih berkuliah di Fakultas Ekonomi yang kata orang cenderung santai. Iya, dibandingkan dengan jurusan Eksakta, Jurusan di Fakultas Ekonomi jauh lebih santai. Gak juga mudah bila kamu hanya berencana bermain di kampus.

Seorang sahabat saya pada semester 3, mengikuti SPMB lagi. Pindah dari jurusan Akuntasi ke Jurusan Arsitek yang memang telah ia cita-citakan sejak masih menjadi siswa menengah. Dari dia, saya tahu gimana capeknya kuliah di jurusan tersebut. Dan maka dari itu, saya dan dua sahabat saya tak henti-hentinya menyemangati dia dan juga kadang menyindir dia agar ia tetap berpegang pada cita-citanya. Karena apa? Karena kebanyakan orang jurusan arsitek yang tak kuat menghadapi ritme perkuliahan di jurusan tersebut pindah haluan ke ekonomi. Terbalik dengan sahabat saya ini, dari Ekonomi ke Arsitek.

Setelah lulus pun saya selalu mewanti-wanti, agar dia jangan pernah sekalipun tergiur cara singkat mendapatkan pekerjaan, yaitu menjadi pegawai bank. Bukan apa-apa, sayang aja sama perjuangan dia semasa kuliah kalau akhirnya kariernya hanya berakhir menjadi teller. Teringat akan omongan saya, dia pun menjadi sekuat hati menahan diri gak mengikuti saran temennya yang lain untuk melamar di bank. Saya senang, karena ia berjuang untuk cita-citanya. Dan, akhirnya ia mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Ini baru keren.

Untuk para fresh graduate lain yang akhirnya memilih kerja di bank sih, gak bisa saya salahkn juga sepenuhnya. Soalnya lahan pekerjaan di Aceh terbata banget. Dan bank merupakan satu-satunya lahan empuk bagi para fresh graduate. Meskipun akhirnya mereka harus merelakan ilmu yang mereka pelajari selama 4-6 tahun terbuang percuma dan harus mempelajari ilmu dasar akuntansi perbankan secara kilat demi menjadi seorang pegawai bank yang bermula di teller.

Miris.

Ironis.

Seperti salah satu dialog yang diucapkan Ranchodas Chancad pada film 3 Idiot, β€œAwalnya dia seorang Insinyur, lalu MBA, dan bekerja di Amerika pada sebuah bank. Jika hanya untuk bekerja di bank kenapa harus menjadi insinyur dulu?”

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Ujung-ujungnya Kerja di Bank

  1. Mau nge-like tulisan ini sepuluh kali ga bisa ya? mantep pake buanget ini… Idealisme yang juga kadang harus berbenturan dengan tuntutan orang sekitar dan iming2 menggiurkan sebuah makhluk bernama uang… πŸ™‚ πŸ™‚ *kecup Intan* πŸ™‚

  2. Ini caranya reblog kaya di tumblr piye caranya? ini wordpress, aku blogspot aaaaakkkk aku mau tulisan ini ada di blog-ku biar dibaca sama adek2 follower, intan…kamu ini selalu mampu menangkap apa yang ada disekelilingmu, pdhal aku cuma nyimpen wacana ini untuk anakku kelak.uh

    *ciumin intan*

  3. sehabis lulus dan di wisuda, kampus saya ngasih pembekalan untuk para pressgraduate dengan menghadirkan narasumber alumnus yang telah sukses di dunia kerja. dia cantik, menarik, alumni kedokteran gigi, merintis karir dan ternyata sukses sebagai bankwati hingga meraih posisi penting di bank.

    dari dokter, banting setir ke bank.

    sayang sih, tapi ya wong dia bener juga kok. karena dia pengen SUKSES, maka jadilah dia seperti sekarang dengan ribuan proses yang telah dilalui. salah satu prosesnya ya kuliah di dokter gigi.

    apapun prosesnya, yang penting hasil akhirnya SUKSES.

    andaikan saya menarik, ipk gede, dan pandai ngitung duit, mungkin saya juga sudah di bank menemani si tante di atas :p

    -kalo udah lulus biasanya mulai muncul transisi idealisme.

    1. well, saya setuju dengan kalimat terakhir kamu. menyoal tarnsisi idealisme. yah, idealisme itu hanya berlaku saat kita masih menjadi mahasiswa (kebanyakan seperti itu). maka itu, ketika yang diprioritaskan kemudian adalah uang a.k.a kebutuhan hidup, maka idealisme tak lagi bisa diagung-agungkan.

      terima kasih atas komentarnya πŸ™‚
      opini selalu membuahkan pro dan kontra πŸ˜€

  4. ini mungkin yah yang bikin indonesia gak bisa maju he … buat mas bro dan mba bro yg terlanjur tersedot dan menyasarkan diri ke dunia perbankan selamat menyangkarkan mimpi idealisme

  5. Tapi saya pernah denger ucapan guru kimia saya pas masih di SMA: soal kenapa bank itu lebih banyak menyasar alumnus teknik ketimbang ekonomi itu karena logika alumnus teknik dianggap lebih jalan. Pas belajar ilmu2 MIPA di sekolah itu ‘kan salah satu yang penting adalah value ilmunya, sebagai penuntun logika.

    1. ah iya itu bener emang πŸ˜€
      dan beberapa bulan lalu saya baru tahu dan lihat langsung fakta itu ketika saya tengah mengikuti pendidikan di kantor baru saya.
      anak-anak jurusan IPA emang lebih cepet memahami pelajaran baru πŸ™‚

  6. bner bangett. aku suka bgt sm tulisan ini. kadang idealis itu penting. kuliah susah2 keluar duit banyak buat jadi engineer kok ujung2 nya ngebank. eman-eman nak…

  7. Hai kak! Salam kenal. Aku semacam dpt pencerahan nemuin postingan ini hahah aku mahasiswi Teknik Industri dan sempet tergiur track buat jd bankir mengingat idealisme vs kebutuhan itu tp katanya kalo dari teknik itu diposisikan sbg analyst (dan aku gak mudeng, would you mine to explain?hehehe).
    Ohya, aku justru duluuu apapun jurusannya asal jangan Teknik dan Ekonomi, sbnrnya TI ini last choice, di swasta ketika aku lagi galau2 nunggu kedokteran di negri.
    Doakan aku teguh sampai berkarir kak, makasih sblmnya *salim* =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s