Berpura-pura

Salah satu sahabatku mengatakan hal serupa seperti yang pernah Ibuku ucapkan beberapa hari lalu,

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak meninggal? Bagaimana kalau ia hanya berpura-pura?”

Deg.

Sesungguhnya inilah yang aku harapkan. Ia sama sekali tidak meninggal dan tengah membohongiku di seberang sana.

“Kasih aku alasan yang masuk akal, kenapa dia harus bohong?”

Jawabannya yang sahabatku berikan sama persis seperti yang Ibuku pernah sampaikan, sampai-sampai aku mengira mereka adalah kembar terpisah beda generasi.

“Mungkin sakitnya terlalu parah, memalukan, dan tak akan sembuh dalam waktu dekat, jadi dia ingin melepaskan kamu, agar kamu gak terus terikat dengannya, agar kamu tak membuang waktumu menunggunya sia-sia.”

Hidupmu memang terlalu drama, sayang. Bahkan akhirnya orang-orang menciptakan skenario lanjutan untuk kisah hidupmu, layaknya sinetron kejar tayang yang tiap malam ditonton Ibuku.

Begini saja, bila memang kamu menipuku, bila memang tangisan Ibumu yang kudengar adalah palsu, bila memang amarah ayahmu adalah bohong, bila memang segala bentuk kesedihan yang ditunjukkan kakakmu adalah fiksi, maka sudahlah, aku terima diriku dibohongi. Sejatinya aku memang tak melihat ketika kamu dikafani dan dikuburkan.

Bila ternyata kamu masih bernafas di dunia ini, maka kamu pastilah masih mengikuti segala ketikan harianku di sini, maka dari situ kamu tahu bagaimana terpuruknya aku karena kepergianmu.

Dan bila memang benar kamu hanya membohongiku, aku malah bersyukur, karena toh kamu masih hidup. Itulah hal yang selama ini aku harapkan setiap kali aku membuka mataku di pagi hari. Dan bila nanti akhirnya kamu muncul lagi di hadapanku dengan cengiran khasmu, aku tak bisa pastikan hal apa yang akan aku lakukan, antara berlari memelukmu atau memburumu cepat lalu menamparmu. Aku tak tahu. Tapi yang aku tahu, aku pasti memaafkanmu, seperti dulu-dulu. Dan bila kamu bertanya apakah cintaku padamu telah mati bersama kematian fiktifmu, jangan tanya aku, karena aku masih tak tahu bagaimana sistem kerja hatiku.

Kalau saja memang benar adanya kamu masih bernafas, itulah hal yang selama ini aku harapkan setiap kali aku membuka mataku di pagi hari.

Tapi sudahlah, lebih aku aku percaya saja dengan tangisan Ibumu. Karena cerita kita terlalu nyata kalau untuk dipermainkan dengan adegan berpura-pura mati seperti sinetron. Konyol. Karena toh, semua orang akhirnya sadar, perkara kematian bukan candaan.

Medan, 9 September 2012

4 thoughts on “Berpura-pura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s