Sesak

Malam ini dadaku sesak, sayang. Amat sesak mengingat kamu benar-benar meninggalkanku kali ini tanpa aba-aba.

Kali ini kita terpisah bukan soal dua ribuan kilometer antara Banda Aceh dan Jawa Tengah, melainkan antara dunia fana dan dunia kekal yang kini telah kamu tempuh duluan.

Sesak, sayang. Dadaku penuh sesak.

Saat kabar kepergianmu dikabarkan oleh saudaramu aku merasa seketika itu lemas menghantamku. Aku luluh tak berdaya.

Bohong. Ini pasti bohong. Ini harus bohong. Iya, tantemu sempat kutuduh sedang berbohong.

Beberapa jam setelahnya kuhabiskan membanjiri wajahku dengan air mata. Tiada henti. Kupaksa berhenti tapi air mata ini tak mau berhenti.

Kamu pasti tahu kebiasan burukku bila sedang ada masalah, kan?

Iya, aku tak mampu memejamkan mata ini padahal migraine menyerangku tiada ampun. Menangis membuat kepalaku sakit, membuatku mual. Alhasil malam itu aku tak bisa tidur. Kuhabiskan waktu berurai air mata dan bolak balik merasa mual dan muntah.

Aku paksa diriku terlelap tapi tak bisa. Aku hilang akal. Lalu aku berharap ini semua hanya candaan semata. Aku berharap esok pagi ketika aku bangun aku masih mendapati ponselku berdering pertanda sms selamat pagimu masuk.

Aku tak tahu pasti jam berapa akhirnya aku tertidur. Entah di angka 4 atau 5.

Kamu pasti tau aku ini kebo banget. Males bangun pagi apalagi sedang nganggur gini, tapi lalu aku terbangun di jam 6 dan ingatanku langsung terlayang bahwa kamu sudah tiada.

Baiklah. Ini hanya bercanda. Bercanda, kan? Iya kan, sayang?

Aku masih menyapamu pagi itu. Seperti biasa. Berharap ada balasan darimu. Sangat berharap. Berharap semalam itu aku hanya sedang bermimpi buruk.

Tak ada balasan.

Lama.

Lalu aku menghubungi nomormu. Adikmu yang mengangkat. Mengatakan kalau jenazahmu akan dikuburkan.

Adikmu pasti bercanda. Lagi, aku menuduh adikmu tengah bercanda. Lagi, aku bertanya berulang kali apakah ini kenyataan atau bukan.

Tapi inilah kenyataannya.

 

Kamu tahu, kamu pergi terlalu cepat. Kamu pergi tanpa aba-aba. Baru saja malam itu kamu mengirimiku sms dan kita bercerita sebentar. Tapi lalu kenapa esoknya kamu langsung pergi?

Apa kamu pikir kepergianmu gak membuatku terpuruk. Sangat. Sangat. Sangat karena aku bahkan tak sempat melihat wajahmu terakhir kalinya. Terakhir kali kita bertemu saat kita akan berpisah. Kamu ke Jawa aku ke Aceh, saat kita makan es krim di teras kost-anku. Kamu bilang, kamu sedih mengetahui saat itu adalah saat terakhir kita bertemu, tapi lalu aku memastikan bahwa kita akan bertemu lagi, kan? Lalu kenapa sms darimu tidak kamu tulis β€˜iya’, kenapa hanya sebuah emot senyum semata. Kenapa kita tidak bertemu dulu sekali lagi?

 

Malam ini aku sesak. Mengetahui kamu benar-benar telah tiada. Suaramu mustahil bisa kudengar lagi. Smsmu tak mungkin terlayangkan lagi di ponselku. Kedatanganmu ke Aceh seperti janjimu tak bisa kamu penuhi.

Aku sesak.

Malam ini aku sesak.

Ketika tadi pagi lagi-lagi kudapati diriku terbangun lebih awal dan menatap nelangsa ke layar ponselku. Tidak ada kamu.

Malam ini aku sesak. Ternyata tak ada seorangpun yang mengabariku kalau ini cuma bercanda. Kamu tahu, saat ini aku bahkan rela ditipu mentah-mentah oleh kamu dan keluargamu. Biar saja kalian tertawa melihat aku menangis cengeng tak karuan. Biar, asal ada yang mengabariku kalau ini hanya gurauan semata.

 

Malam ini aku sesak. Aku tahu tugasmu di dunia ini telah selesai. Aku tahu aku harus ikhlas melepas kepergianmu. Aku tahu ini yang terbaik bagimu. Tapi maukan kamu mengerti saat ini inilah yang kuperlukan. Menangisimu sampai kering air mataku. Mengoceh tentangmu di blog curhatanku. Mengenangmu habis-habisan. Bercerita tentangmu kepada keluargaku, sahabatku. Memberitahu mereka, bahwa, betapa aku menyayangimu, betapa aku bangga padamu, betapa kamulah pacar terhebatku, betapa setianya kamu, betapa kamulah yang teramat masih aku harap menjadi pendampingku kelak, mewujudkan mimpi kita.

 

Kamu tahu, dadaku malam ini begitu sesak. Mungkin tidak sesesak dadamu akibat penyakit yang kamu derita yang datang tiba-tiba. Tapi mengertilah kamu, dadaku sesak, terasa ada bongkahan keras di dalam sana yang aku tak tahu harus berada di sana berapa lama.

 

Sayang, biarkan aku menangis untuk saat ini. Ini bukan mudah. Aku tetap mendoakanmu, berharap kamu di sana tenang dan damai. Berharap kamu beristirahat dengan tenang. Hal yang teramat penting di dunia ini sudah kamu wujudkan bukan? istirahatlah sekarang, sayang. Perjuanganmu di dunia telah usai. Telah kamu menangkan. Istirahatlah, dan biarkan aku mengenangmu di sini. Agar kenangan tentangmu tak menguap lalu hilang perlahan-lahan oleh waktu. Biarkan aku menggoreskan kisah tentangmu di sini. Kamu istirahat saja. Aku pasti bisa bangkit lagi, hanya saja aku belum tahu kapan.

 

Untuk cinta yang kamu berikan. Terima kasih.

 

Advertisements

13 thoughts on “Sesak

  1. Intaann, Big Hug :*
    Tahukah kamu, kami yg membacanyapun ikutan sesak dan begitu terenyuh ketika membacanya:)

    Kamu pasti bisa bangkit, sayang!

  2. Ah intan, maafkan aku. ga tau kenapa aku merasa ikut kehilangan, sudah 4 atau 5 postinganmu yang ga aku baca. tetiba sore ini aku pengen aja gitu maen ke sini, eh dapet berita ini. Sabar ya tan, semoga ini yang terbaik buat mas mu. *hug*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s