Hujan (Tak Ada) di Malam Minggu, Engkau Tak Datang Padaku

“Ini malam Minggu ternyata, pantes acara TV gak ada yang menarik. Pantes bosan.” Pernyataan dari anak perempuan saya barusan. Saya menanggapinya hanya dengan tertawa.

Terbayang ketika saya masih SMP, SMA, hingga Kuliah dulu, sebagai anak perempuannya, orangtua saya memberlakukan aturan gak boleh keluar malam termasuk malam Minggu. Bila ada acara yang mendesak dan saya pengen banget keluar malam terutama Malam minggu saya harus punya alas an kuat dan meminta ijin jauh-jauh hari. Aturan ini mulai hilang ketika saya sudah bekerja, urusan pulang malem, keluar malam, atau bermalam mingguan sudah tak terlalu dikekang lagi oleh orangtua. Adik perempuan saya lumayan enak, sejak dia SMA, orang tua saya tak mengekang dia seketat saya dulu hanya saja tetep gak boleh berkeliaran terlalu sering pada malam hari.

Jaman-jaman sekolah dulu saya menghabiskan malam minggu dengan membabat beberapa novel dan komik yang sengaja saya sewa sepulang sekolah di sabtu harinya. Stock buat malam minggu atau hari minggu. Bila ada teman lelaki (bukan pacar) yang datang ke rumah pada malam minggu saya biasanya memintanya untuk datang di malam senin, dengan alasan saya gak mau dikira itu pacar saya oleh keluarga saya. Konyol sih.

Malam minggu gak special bagi saya. Biasa saja. Bukan yang saya nanti bukan pula yang saya benci, hanya saja, memang benar, pada malam minggu acara di TV cenderung gak menarik.

Malam ini terasa beda. Saya tau ini malam minggu dan saya -katakanlah- galau. Iya, saya yang 5 bulan terakhir ini biasanya selalu bermalam minggu dengan pacar kini tidak bisa. Bukan hanya soal jarak dua ribuan lebih kilometer yang kini membentengi kami, tapi lebih dari itu, kencan via handphone ataupun chating tak bias kami lakukan kini. Kondisi kesehatannya yang sedang memburuk membuat malam minggu saya selain galau karena tak diapelin (iya lebay) juga menjadi miris. Membayangkan orang yang saya sayangi kini tengah menahan sakit tanpa bisa saya temani.

Hanya sms berbunyi, “kamu yang sabar ya” atau “cepet sembuh ya, Yong” saja yang saya rasa percuma terlayangkan ke ponselnya. Saya tau, sms saya tak berarti apa-apa, tapi cuma itu yang mampu saya lakukan kini.

 

“Kenapa kalau malam Minggu acaranya gak ada yang enak, kak?” Tanya adik saya.

“Yaah.. mungkin karena orang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar ketimbang menonton TV,” Jawab saya sekenanya sambil khayal saya mengenang ke moment silam.

 

Kamu, percaya saja, nanti akan ada malam minggu lain yang bakal kita lewati berdua lagi.

 

4 thoughts on “Hujan (Tak Ada) di Malam Minggu, Engkau Tak Datang Padaku

  1. Subhanallaah Intan.. Air mataku menderas. Bahkan di saat seperti ini, Intan masih tetap tegar…. Menuliskan kisah pedih, tak bisa menemaninya saat sakit, tp tetap menghibur…

    Turut berduka cita sedalam2nya ya sayang.. Semoga Mas Pacar mendapat tempat terbaik di sisiNYA.. Tegar, kuat ya Tan.. Allah bersamamu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s