Mimpi

Saat itu perjalanan dari Jakarta ke Bogor dengan Commuter Line. Saya dan dia duduk bersisian. Dalam diam kedua pasang mata kami tertuju melihat sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia tepat duduk di depan kami. Sang Bunda tengah menyuapi buah hatinya, yang mana si buah hati duduk menggemaskan di pangkuan Ayahnya. Sejurus kemudian, dia yang saya sebut sebagai pacar berkata,

“Nanti kita kayak gitu juga, ada seorang anak kecil tampan yang duduk di tengah kita,” Ucapnya sembari menggeser duduknya memberi jarak antara saya dan dia lalu menyeolah-olahkan kalau ada seorang balita di antara kami dengan gerakan tangannya.

Saya terhentak. Kaget mengetahui kalau sedari tadi saya dan dia melihat dan memikirkan hal yang sama. Saya masih diam. Tidak menanggapi ucapannya. Bukan. Lebih tepatnya, tidak berani menanggapi.

“Kalau anaknya perempuan, dia akan cantik seperti kamu, tapi hidungnya harus kayak aku. Alisnya juga harus tebal kayak alisku,” dia masih mengoceh. Saya lagi-lagi diam dan hanya mampu tersenyum. Lalu pandangan saya kembali mengarah ke bocah lelaki di depan kami. Imut menggemaskan dan malu-malu ketika  saya pandangi. Saya melihat ke sebelah saya, dia, lelaki yang tengah saya sayangi ini masih menatap bocah lelaki itu sambil tersenyum. Lalu seperti biasa, jemari kami saling bertautan.

 

Berimajinasi tentang membangun sebuah keluarga? Bukan saya orangnya. Setiap kali yang memulai imajinasi itu adalah pacar saya baik yang telah jadi mantan atau yang masih menjadi pacar (semoga sampai jadi suami).

Mereka pernah mengajak saya berimajinasi bagaimana kelak nantinya bila kami akhirnya menjadi keluarga. Ya seperti sepenggalan kisah saya dan pacar di atas. Itu dia yang memulai. Saya gak pernah berani berimajinasi sedemikian rupa. Karena apa? Entahlah, berharap hal-hal indah seperti itu akan terjadi, saya belum cukup berani. Takut bermimpi terlalu muluk lalu lagi-lagi hanya berupa mimpi.

 

Lalu dia membuat saya terbiasa. Membuat saya menjadi akrab dengan yang namanya memimpikan membangun sebuah keluarga. Berkelakar tentang jumlah anak yang kami miliki, perihal pembagian tugas rumah tangga, segala tetek bengek yang boleh dan tidak boleh dilakukan bila telah bersama nanti. Ya, dia seseorang yang saat ini menjadi pacar saya dan saya berharap menjadi lelaki terakhir di hidup saya membiasakan saya dengan imajinasi tentang itu.

Lalu, saya pun mulai menggambarkan sebuah keluarga dalam benak saya yang isinya adalah dia sebagai ayah dari anak-anak saya. Seseorang yang setiap pagi akan mengecup kening saya.

Lalu saya seperti kalap. Serakah. Maruk.

Saya ingin mewujudkannya segera. Secepat mungkin.

Sebagian karena tak ingin ini hanya berakhir sebagai sebuah mimpi kosong lagi.

Sebagian karena takut kehilangan dia yang amat sangat saya harapkan menjadi suami saya kelak.

Sebagian karena rasa tak sabar saya ingin menyandang gelar istri.

Suatu malam dia mengeluhkan betapa stressnya ia menghadapi dunia. Betapa semuanya membuat tenaga dan pikirannya berpacu dengan waktu. Lalu ia merasa lelah. Lelah akan segala yang dia kejar. Dan lalu saya merasa tertampar.

Harusnya saya sadar, usianya masih muda. Gairah anak muda masih tercetak rapi di roman mukanya.

Selain itu, masih banyak perintilan hidupnya yang juga minta diperhatikan. Dan itu bukan tentang saya. Itu semua tentang angannya, jalan hidupnya, kesenangannya, tawanya, masa lalunya, dan bahagianya.

Saya merasa egois. Lagi. Saya yang egois.

Tanpa memikirkan tentang segala macam hal-hal tentang dirinya, saya ngotot minta mimpi saya dia wujudkan.

Padahal, perintilan hidupnya itulah pelengkap hidupnya. Yang membuat ia tertawa. Yang membuat ia bahagia. Dan saya terlalu egois meminta mimpi saya diutamakan.

 

Usianya masih muda.

Terlalu dini untuk dipaksa.

Mimpi saya bisa menyusul.

Nanti.

Percaya saja, kelak dia akan mewujudkannya.

Kini, saya meminta dengan amat agar diri saya mampu bersabar.

Karena sungguh. Sekali-sekali saya ingin bisa membahagiakannya.

Membasuh peluhnya.

Menciptakan segaris senyum dari kedua bibirnya

Dan mimpi itu..

Biarlah tersimpan rapi

Sampai nanti tiba saatnya untuk diwujudkan

Mimpi saya dan dia.

 

 

 

Jakarta, 2 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s