Sempurna

Aku tau kutakkan bisa

Menjadi seperti yang kau minta

Namun selama nafas berhembus

Aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta

(Chrisye- Seperti yang Kau Minta)

 

Saya paling sebel dengan yang namanya obsesi lelaki. Okeh, untuk urusan karir dan uang sih, lelaki boleh berobsesi seperti apa aja, tapi untuk menaklukkan seorang wanita yang menjadi obsesinya, saya seringnya mendapati diri saya murka.

Gegara perempuan tersebut cantik, atau gegara perempuan itu masih ‘murni’ alias belum pernah pacaran, gegara perempuan itu kelewat mandiri, atau gegara perempuan itu gak percaya cinta, hal-hal seperti itulah yang (biasanya) membuat lelaki menjadi tertantang untuk mendapatkan si perempuan. Obsesi.

Bolehlah setelah perempuan pujaan didapatkan maka lelaki itu akan puas, tapi nyatanya tidak, karena obsesi berbeda dengan keinginannya. Obsesi hanya ingin menunjukkan betapa dia mampu menaklukkan manapun, sedangkan perkara keinginannya adalah menyangkut perempuan mana yang menjadi tipe kekasih hatinya.

Bisa jadi, pujaan tipikal yang bisa menjadi kekasihnya adalah perempuan keibuan, baik hati, tidak manja, pintar dengan bodi aduhai. Lalu perempuan yang dia dapatkan sebagai hasil obsesinya berbeda banyak.

Sempurna. Akhirnya menjadi satu kata yang gak akan pernah menjadi label perempuan buruan obsesinya. Okeh. Banyak yang bilang kesempurnaan itu gak ada. Saya gak setuju. Sempurna itu ada, hanya saja kesempurnaan itu gak mutlak, sempurna itu relatif dan tergantung dari siapa yang menilai kesempurnaan itu sendiri.

Lelaki yang punya tipe-tipe tertentu untuk orang yang bisa menjadi kekasih hatinya memiliki taraf kesempurnaan berupa hal-hal yang memang ia suka ada di perempuan itu. Semisal, sifatnya yang keibuan, bodinya yang montok, kecerdasannya, dan dia yang pintar bergaul. Sedangkan perempuan hasil obsesinya gak mempunyai itu, akibatnya, menurut si lelaki, perempuan itu gak sempurna. Jauh dari kata sempurna.

Hubungan yang sia-sia menurut saya, karena si perempuan seusaha apapun dia berubah pasti gak juga akan mencapai taraf sempurna keinginan pasangan, toh diri dia yang asli jauh dari hal itu. Si lelaki, sampai kapanpun akan terus membandingkan, dan tentunya gak akan pernah puas dengan apa yang ada di diri perempuan yang pernah menjadi obsesinya.

Alangkah baiknya obsesi itu yang sejalan dengan keinginan. Jangan hanya ingin menunjukkan kehebatan atau apapunlah. Obsesi, keinginan dan cinta, buat ketiga hal ini sejalan, agar rasa kecewa itu gak ada.

Selama kamu masih menilai bahwa orang lainlah yang mampu membuat hatimu bergetar, maka pasanganmu yang sekarang bukanlah jodohmu.

(Mungkin Mario Teguh)

 

One thought on “Sempurna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s