Masyitah vs Nabila

“Nanti anak adek kasih nama Masyitah ya,” titah Mami pada suatu ketika yang serta merta saya tolak.

“Anak abang namanya Nabila,” lanjut Mami tanpa mengacuhkan keberatan saya.

3 tahun telah berlalu sejak percakapan itu terjadi, lalu pada suatu malam di ruang keluarga Mami kembali mengutarakan niatnya dahulu.

“Tan, nama anak adek nanti Masyitah ya,” ulang Mami.

“Gak mau. Kenapa harus Masyitah? Kenapa nama anak adek Masyitah dan anak abang Nabila?” saya keberatan.

Bukan tanpa alasan saya keberatan Mami ingin memberikan nama Masyitah untuk anak saya sedangkan Nabila untuk anak Abang saya. Saya punya teman bernama Masyitah, si temen ini centilnya nauzubillah, cantik sih, tapi manja dan mentelnya gak tanggung-tanggung. Meski tak masuk akal tetap saja bayangan saya tentang seorang perempuan bernama Masyitah gak enakin, karena selain si temen itu saya gak punya kenalan lain yang bernama sama.

Lain halnya dengan nama Nabila, dalam bayangan saya langsung kebayang Nabila Syakieb. Cantik. Saya langsung merasa sifat pilih kasih ibu saya muncul lagi, meski sekali lagi dengan alasan tak masuk akal, saya menganggap nama Masyitah itu anaknya mentel, sedangkan Nabila Syakieb cantik.

“Pokoknya namanya harus Masyitah. Mami suka nama itu. Bagus namanya,” keukeuh Mami

“Iya. Cantik emang, tapi kenapa harus anak adek? Kenapa gak tukeran aja sama nama anak abang. Anak abang Masyitah, adek Nabila,”saya bersikeras.

“Gak bisa ditukar. Mami maunya kayak gitu. Lia nanti kalau anak Kak Intan lahir setelah Mami meninggal tolong ingatin Kakak supaya ngasih nama itu ya?” Mami malah memberi amanah kepada adik saya yang langsung dengan semangat 45 dia iyakan.

“Aduh, Mi. Gak pake wasiat-wasiat gitulah,”

“Pokoknya harus,”

Beberapa hari kemudian. Masih di ruang keluarga. Mami meminta pendapat abang tentang niatnya memberi nama anak saya Masyitah dan nama anak abang saya Nabila.

“Abang gak mau nama Nabila,”tetiba abang saya juga protes

“Temen abang ada namanya Nabila, dan dia gendut kali,” hahaha… ternyata abang saya punya pemikiran image seperti saya juga.

“Adek juga gak mau nama Masyitah, bang. Temen adek yang namanya Masyitah anaknya mentel,” saya juga ikutan.

“Ya udah, kalian tukeran aja kalau gitu nama anaknya,” Mami mengalah.

“Lah, kemarin adek minta tuker kenapa Mami gak kasih? Sekarang saat abang minta Mami enteng kali ngasihnya?” saya protes adik dan abang saya tertawa

See, sekali lagi. Mami saya tuh gampang banget meluluskan apapun permintaan abang saya.

So, jadinya nama anak saya Nabila dan anak abang Masyitah.

Bukan berarti saya sedang hamil lantas Mami membahas hal ini. Ini percakapan sambungan yang bermula terjadi pada tahun 2009. Ini tentang cita-cita Mami. Dan tentang saya yang menolak nama Masyitah tetapi juga gak setuju nama Nabila diberika kepada putrid saya.

“Kalau anak adek laki semua gimana?” saya bertanya tetiba ngeri kalau anak lelaki saya tetep bernama itu.

“Nanti kita pikirkan lagi,” jawab Mami enteng, melegakan sekaligus bikin penasaran dan kuatir part 2.

3 thoughts on “Masyitah vs Nabila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s