Saat Saya Konyol

Saya memang seperti kanak-kanak, layaknya bocah berseragam putih biru merajut sesuatu yang saya anggap cinta dengan pacar saya. Saya bertingkah bodoh yang amat sangat tolol karena pertengkaran selalu diakhiri dengan kata ‘kita udahan aja yak’.
Sejatinya sayalah dulu orang yang selalu heran kenapa begitu mudah kata putus terucap dari bibirnya. Ya, dulunya di awal-awal hubungan dia sering memutuskan saya. saya selalu bertanya, ‘apa iya setiap bertengkar kita mesti putus?’ hal sepele gak selayaknya diakhiri dengan ‘putus’, harusnya setiap orang yang telah memutuskan bersama saling mengenal satu sama lain dengan istilah pacaran, kata ‘putus’ itu hanya layak bergaung kala restu orang tua menjadi penentu, kala landasan kepercayaan tak bisa disatukan atau masalah pendirian yang tak bisa saling di mix-and-match kan lagi. Ya, intinya hanya perihal hal-hal berat. Kalau hanya perkara cecemburuan, perkara salah paham, perkara apapunlah yang kita tahu itu sepele bukannya gak pantas ya untuk pasangan dengan umur lewat dari angka 20 gampang bilang putus?
Tapi belakangan saya lakukan. Sudah tiga kali bahkan.
Pertama saya lakukan seminggu menjelang saya balik ke Aceh. Yang kedua beberapa hari setelah di Aceh, dan yang ketiga seminggu setelah di Aceh. Ababil banget ya saya?
Ragu. Mungkin itulah penyebabnya. Hubungan saya dan dia masih labil sebenarnya. Kami gampan rebut. Dan kami baru bisa berdamai kala kami bertemu. Menurut dia, pribadi sya langsung berubah menyenangkan bila bertemu langsung. Gegara alesan dia inilah, saya jadi khawatir. Kami berantem lalu gak bisa ketemu, (Aceh-Jawa Tengah bukan kayak Cawang-Cileungsi), saya khawatir gak bisa kembali menyenangkan. Saya juga khawatir karena jarak yang jauh dia jadi gak merasa butuh untuk baikan dan segala macam bentuk pikiran jelek hasil cipta karya saya sendiri yang berkecamuk dalam diri saya akhirnya saya minta putus.
Dia mengiyakan.
Dan lalu saya mencak-mencak.
Setelah meragu saya minta pembuktian.
Buktinya ia tak merasa rugi saya putusin.
Jadinya ketebak.

Saya galau dan nyesal.

Sebel sih karena betapa saya amat sangat menganggap dia berarti, untuk itulah setiap kali dulunya dia minta putus sekuat hati saya pertahankan. Tapi giliran saya ngambek, minta putus langsung di acc.

Gondok.
Jengkel.
Langsung merasa saya gak berarti bagi dia.

Ya, begitulah saya. bersikap konyol dan kekanak-kanakan. Terbukti saya juga perempuan, terbukti saya masih punya hati. Dan saat ini hati ini rentan banget. Takut hancur berantakan bila tak selalu dijaga dan diarahkan dia.
Ya. Saya amat sangat butuh diyakinkan untuk sekarang ini. Karena menjalin hubungan jarak jauh itu berat. Dan bisa dibilang inilah pertama kali yang nyata saya rasakan.
Keraguan saya berpusat pada kekhawatiran, akankah saya akan memudar di hatinya setiap harinya saat kami menyadari jarak ini begitu mengganggu. Begitu nyata. Begitu jauh.
Lalu kami menyadari, kami akhirnya terbiasa sendiri. Apalagi saat ini komunikasi via telepon dan sms tak selancar dulu. Kondisi yang membuat semuanya jadi begini.
Rumit.

Advertisements

4 thoughts on “Saat Saya Konyol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s