(Jangan) Menua Sendirian

Suatu ketika saya pernah bertanya, “Kelak, ketika kita telah menikah dan menua renta bersama, mendingan aku yang lebih dulu meninggal atau kamu?”

Kamu terdiam. Setelah beberapa jeda kamu hanya mampu berkata, “bingung milihnya.”

Saya palingkan tatapan saya dari kamu dan saya menjawab mantap, “Aku ingin kamu yang lebih dulu meninggal.”

Bukan karena saya ini egois ingin menghirup sejuknya embun pagi lebih lama dari kamu, bukan pula karena saya serakah ingin menikmati senja melankolis lebih banyak dari kamu. Semua ini hanya karena saya takut kamu sendirian sendiri.

“Perempuan itu lebih mampu bertahan sendiri daripada lelaki. Lelaki kurang bisa mengurus dirinya sendiri,” masihkah kamu ingat kalau kalimat tersebutlah yang saya utarakan sebagai alasan kenapa saya ingin kamulah yang lebih dulu menemui-Nya.

Saya gak mau kamu sendirian. Mengurus dirimu sendiri. Pun nanti anak dan cucu kita telah besar dan bisa mengurusmu, saya tetaplah ingin terus berada di sampingmu sampai matamu tak terbuka lagi di suatu pagi. Saya tetap ingin menjadi satu-satunya orang yang mengurus dirimu, membuatkanmu teh pagi hari, berjalan bersama menikmati hawa sejuk pagi hari. Dan saya tak ingin membiarkan kamu sendiri.

Saya tau umur itu Tuhan yang mengatur, tetapi seperti yang saya harapkan dan inginkan, saya ingin mengantar kepergianmu. Bukan sebaliknya. Karena biarkan saya tetap bisa melihat paras wajahmu dibalik rabunnya mata saya. Mengelus wajahmu dengan tangan keriput saya. Mendekap erat tubuhmu untuk terakhir kalinya hingga untaian rambut saya yang beruban mengganggu wajahmu. Karena saya tak ingin membiarkanmu sendirian.

Advertisements

5 thoughts on “(Jangan) Menua Sendirian

  1. serem ah. belum juga kawin udah ditanya siapa mati duluan.

    kalau nggak sanggup suatu hari nanti ditinggalkan atau meninggalkan, lebih baik ngga usah kawin sekalian. jadi dari awal nggak akan risau memikirkan akhirnya seperti apa.

    saya pernah denger joke dari radio, ceritanya tentang seorang suami yg tengah menanti ajal berpesan pada istrinya,
    “istriku, setelah kepergianku, aku ingin kau menikah dengan Burhan.” si istri kaget mendengarnya.
    “bukankah Burhan itu musuh yang paling kau benci bang?” tanya si istri keheranan.
    “iya sayangku, aku ingin Burhan merasakan juga penderitaan yang aku alami selama 25 tahun bersamamu.”

    1. aih.. jangan serius gtu dunk
      saya kan cuma berandai2
      tapi yah saya memang ingin siapapun pasangan saya kelak, saya berharap dia duluanlah yang mati
      *kejem* :))

      eh iya..
      itu joke tolong jangan diaplikasikan di dunia nyata yak –“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s