Mendekatlah

Hai, kamu. Ini sudah hari ke sepuluh kita tak bertatap muka. Ke depannya, akan ada puluhan bahkan ratusan hari dimana aku tak bisa lagi menjawil hidungmu. Kamu tak bisa lagi semena-mena memencet hidungku yang kamu bilang bulat.

Aku senang kala kamu bilang kata ‘kangen’. Kutukanku berhasil. Lalu maaf atas kebohonganku yang tidak balas mengatakan kata ‘kangen’ juga kepadamu. Ah, harusnya kamu tahu, bahkan sebelum kita berpisah pada siang hari 10 hari lalu aku sudah lebih dulu kangen kepadamu. Tidakkah kau ingat berapa kali mulutku riwil akan gundahnya hatiku berpisah dengan kamu?

Saat itu kita sedang menyantap eskrim bersama di teras kostanku. Kita sama-sama sedang kere. Tak ada tempat yang bisa kita kunjungi. Saat itu kamu akan bertolak ke Jawa dan lusanya aku balik ke Aceh. Kamu ingat saat aku merajuk karena kamu tidak mengantarkanku ke bandara seperti yang dilakukan kekasih temanku? Ah.. aku memang kecewa. Teramat kecewa. Karena aku amat sangat ingin dapat melihat wajahmu sebelum aku terbang bersama sayap besi besar itu. Tapi aku paham. Aku maklum. Aku mengerti kondisimu. Kondisi kita tidak sedang baik-baik saja. Kita sedang dalam masalah. Tapi aku senang, karena meskipun masalah-masalah kita membebani otak kita, aku dan kamu, tetap bisa menikmati es krim di siang terik itu dan bercanda berdua.

 

Hei, kamu. Kamu harus tabah. Harus sabar. Kamu hanya sedang diuji. Kamu sedang dibawa oleh-Nya agar mendekat kepada-Nya. Tidakkah kamu melihat tanda itu?

Ayolah. Dekatkan dirimu padanya. Sembahlah Ia yang telah memberimu kehidupan. Sujudlah padanya karena Ia masih memberimu nafas harapan. Berdoalah pada-Nya, mintalah apapun yang kamu butuhkan. Dekatkan jarakmu dengan jarak-Nya. Kemudian kamu akan rasakan, bahwa ini hanyalah cobaan kecilmu di hidupmu yang panjang.

Tegakkan kembali punggungmu, sayang. Binarkan kembali cahaya matamu yang penuh semangat. Terus berusaha untuk mewujudkan apapun keinginanmu. Jatuh itu biasa, tapi aku tahu kamu akan menjadi luar biasa karena kamu mampu bangkit.

 

Maaf, karena aku tak berdiri di sampingmu dan memberikan pundakku padamu untuk kamu sandarkan kepalamu dan menyeka kelelahanmu. Tapi seperti yang kamu tahu, aku tak melupakan rapalan-rapalan doa untukmu. Aku selalu mendukungmu di sini. Dan aku juga sedang berusaha di sini, sama seperti kamu. Agar kelak mimpi kita tak Cuma omongan belaka. Agar apa-apa yan pernah kita corat-coretkan melalui tulisan kita menjelma menjadi sebuah kenyataan.

Sekali lagi, dekatkan dirimu pada-Nya, sayang. Merendahlah kamu. Mohon ampunan kepada-Nya agar segala urusan duniamu lancar. Karena, kita hanyalah hamba yang tak berdaya atas apapun kehendak-Nya. Lapangkanlah hatimu. Lalu kelak kamu akan melihat, keajaiban-Nya menerangi harimu.

 

Mendekatlah, sayang.

 

Advertisements

4 thoughts on “Mendekatlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s