Gelar (Bukan) Buat Gaya

“Saran aku, kamu lanjut aja kuliah profesi akuntan kamu, Tan” Ucap salah seorang rekan kerja saya setibanya saya di kantor kemarin pagi.

“Mungkin kamu gak tau, tapi dengan gelar Ak nanti di belakang nama kamu, akan banyak manfaat yang kamu rasakan. Dan itu sungguh bisa menjual.” Dia lanjut menyarankan saya.

“Lah, jadi kamu pikir, kemarin aku ngambil program profesi buat apa? Buat gegayaan aja?” saya bertanya, gak nyolot gak juga tersinggung. Hanya menegaskan.

“Iya. Aku pikir kamu buat gaya aja.”

“Ya ela… kalau buat begayaan masa iya aku mau buang-buang duit sepuluh juta.”

 

“Aku tau gunanya ngambil profesi itu buat apa. Bukan buat begaya bukan pula karena gengsi. Tapi karena aku emang tau manfaatnya apa. Tapi ya karena kemarin udah ninggalin kuliah dan kerja di Jakarta, sekarang aku mikir lagi buat lanjutin Ak-nya. Maksudnya mikir kapan dan dimana. Karena kok ya, aku kecewa ngambil program Ak di Aceh. Ak pasti akan jadi gelar di belakang nama aku. Pasti. Tapi aku belum tau kapan,” Saya menjelaskan panjang lebar sembari mikir, duit darimana kalau saya maksa ngejar lanjut kuliah tepat setelah saya pulang ke Aceh bulan Juni nanti.

 

Note: Gelar Ak adalah gelar untuk kuliah pogram profesi Akuntan. Jadi, entar kalau saya lulus kuliah ini nama saya menjadi, Intan Khuratul Aini SE, Ak.

 

Saya memang gak terlihat sebagai perempuan cerdas. Gak juga ulet. Apalagi optimis. Banyak yang menilai saya banyak terlihat mainnya daripada fokus sama cita-cita. Ya, gak salah. Saya memang sudah sejak SMA disepelekan karena melihat gaya saya yang seperti gak ada seriusnya. Karena itu, saya gak marah juga saat satu lagi temen saya nilai saya seperti ini. Toh kami gak dekat-dekat banget sebelumnya. Kami dekat hanya semenjak di Jakarta, dan dia pun belum begitu memahami saya seperti sahabat-sahabat saya. Tapi ketika dia menilai saya pernah kuliah profesi Ak hanya buat gegayaan saya pengen ketawa. Sumpah.

 

Gegayaan? Kalau buat gegayaan, kenapa juga saya mesti rela setengah gaji saya, saya tabung buat biaya kuliah saya dulu. Iya, saya membiayai kuliah saya sendiri. Dan setau saya, temen saya ini beruntung dibiayai oleh orangtuanya untuk melanjutkan kuliah.

Iya sih, kuliah itu saya tinggalkan saat masih berjalan satu bulan. Karena saya melihat ada kesempatan lain di Jakarta ini buat melancarkan misi masa depan saya. Kesempatan itu adalah menjadi auditor di KAP di Jakarta.

Kuliah yang saya tinggalkan dan kerjaan kontrak di Jakarta ini relevan. Sama-sama mendidik saya menjadi auditor. Tapi karena kuliah bisa kapan saja, makanya saya tinggalkan dulu kuliah.

 

Kembali lagi. Buat gegayaan?

Ya, kalau ortu saya kaya raya, mungkin iya saya bergelar demi gegayaan dan gengsi. Tinggal minta uang sama Mami terus kuliah gitu-gitu aja demi majang gelar banyak-banyak di belakang nama.

 

Buat gegayaan?

Aduh. Sedari dulu saya gak pernah mikir kuliah mendapatkan gelar hanya demi sebuah gengsi. Kenapa saya kuliah, karena saya suka kuliah. Kenapa saya kuliah, karena saya tau manfaatnya bagi karir saya. Kenapa saya kuliah, ya ini demi cita-cita saya. Apa cita-cita saya? sudahlah, percuma saja saya katakan. Banyak yang gak akan percaya. Toh memang penampilan dan gaya saya slengek-an gini. Dan di sini saya sadar kok, dibandingkan yang lain di kantor, pasti saya yang dinilai paling sepele, karena memang saya terlalu santai.

Saya memang santai. Tapi bukan berarti saya menyepelekan cita-cita saya. Kalau saya terlihat tak ulet di sini, ya itu karena ‘sesuatu’-lah yang hanya saya dan Tuhan yang tau.

5 thoughts on “Gelar (Bukan) Buat Gaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s