Masihkah Kamu Ingat?

Masih ingat kala aku berpura-pura merajuk dan tak berucap sepatah katapun padamu di sepanjang jalan di malam itu? Bahkan tawaran makan malam yang kamu ajukanpun aku abaikan.

Saat itu kamu berkomentar betapa mulutku tak berhenti bicara dan kamu menyuruhku diam. Demi aksi pura-pura ngambek, aku bertahan tak bersuara. Kamu tahu rasanya? Tersiksa, sayang. Iya. Tersiksa. Bagaimana bisa perempuan bawel sepertiku seenaknya saja kamu suruh tutup mulut.

 

Kamu ingat kala itu juga hujan tiba-tiba saja datang langsung dengan deras dan kita berlarian menuju halte terdekat demi melindungi diri dari guyuran air? Saat itu aku masih juga diam dan masih juga berpura-pura ngambek.

Dalam kebisuan kita aku menikmati suasana yag semesta ciptakan untuk kita. Lihat. Semesta memberikan kita suatu momen romantis pada kita dua anak manusia yang jauh dari kata romantis.

Duduk bersebelahan denganmu dalam diam ditemani guyuran hujan adalah momen langka yang indah. Duduk di halte berdua dan lalu imajinasiku membuat adegan dimana kala itu dunia hanya milik kita. Bahwa sepasang paruh baya di sebelah kita tidak ada. Bahwa tukang ojek di belakang kita tidak ada. Bahwa yang ada di halte itu hanya kita berdua. Dalam diam bergenggam tangan.

Aku menolehkan pandanganku padamu. Menerka apa yang tengah kamu pikirkan dalam hening kita di tengah suara hujan ini. Kudapati roman mukamu begitu tenang seolah tengah menyenyawakan dirimu dengan suasana.

 

Ya. Saat itu ada kamu, aku dan gemuruh suara hujan. Ah. Pernahkah aku katakan padamu kalau aku menyukai hujan? Ya aku menyukai hujan. Teramat sangat. Dan sejak di Jakarta baru saat bersamamu itulah aku kembali bisa larut dalam suasana syahdu hujan yang memang teramat kusuka.

 

Kamu ingat ketika aku terus menatap lekat wajahmu dalam temaram cahaya dalam taksi? Aku amat menikmati pancaran matamu padaku. Menerka-nerka sampai kapan kiranya aku dapati pandangan itu menjadi milikku.

 

Aku melihatmu jauh ke dalam matamu. Merasakan betapa pancaran mata itu begitu menyanyangiku. Menerka-nerka akankah pandangan mata itu hanya untukku sampai kita mati nantinya atau tidak. Lucunya ketika itu kamu bertanya, iyakah aku mampu melihat roman muka dalam minimnya cahaya dalam taksi. Geli aku terkekeh. Aku menjawab, ‘tentu saja terlihat’ dan aku kembali merekam wajahmu dalam ingatanku. Kupandangi lama. Kupandangi lekat. Kusimpan dalam otakku. Agar kelak, ketika aku kembali ke kampung halamanku wajahmu tetap kuingat kala ku merindukanmu.

8 thoughts on “Masihkah Kamu Ingat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s