Sebentar Lagi Saya Pulang

Sudah 4 bulan lebih saya di Jakarta, itu artinya gak sampai sebulan lagi waktu saya menikmati oksigen di kota Jakarta. Banyak yang menduga-duga kalau saya dan temen-temen saya yang datang dari Aceh untuk kerja di Jakarta ini akan segera pulang sebelum kontrak berakhir dengan alasan gak mampu survive. Kenyataannya? Lihat saja, meski dengan susah dan gak jarang menahan geram dan air mata toh kami mampu bertahan dan hidup jauh dari kata nyaman.

 

Terkadang ketika tengah melamun, saya masih gak menyangka kalau akhirnya saya bisa juga keluar dari jangkauan awas kedua orang tua saya. Akhirnya kesampaian juga keinginan saya untuk tinggal jauh dari orang tua saya. Untuk terbebas dari repetan ayah saya. untuk terhindar dari berantem-berantem sama abang saya. untuk mandiri dan bebas menentukan apa saja sendiri. Ya itu ingin saya.

Gak percaya?

Wajar. Karena betapa di awal-awal kepindahan (sementara) saya ke Jakarta beberapa bulan lalu, saya tampak banyak sekali merengek minta pulang dan gak tahan hidup susah di sini. Nyatanya, semakin banyak rengekan semakin mampu saya tinggal di sini. Dan kini, malah bisa dibilang saya telah betah tinggal di sini. Tapi rasa ingin pulang tetap ada. Rasa ingin pulang itu bukan karena letih hidup sendiri jauh dari kata nyaman. Rasa ingin pulang itu karena saya kangen berada di tengah-tengah keluarga saya dan asyik bercanda dan berantem dengan saudara-saudara saya. Rasa ingin pulang itu juga karena saya ingin kembali bisa ngopi-ngopi sama dua sahabat saya. Rasa ingin pulang itu juga karena saya ingin bisa kembali malam mingguan bersama tiga sahabat perempuan saya bergosip bertukar cerita karena sudah semakin jarang ketemu akibat kesibukan yang berbeda. Tetapi tetep ada satu alasan saya enggan pulang ke Tanah Rencong. Alasan ini menyangkut hati (halagh). Tapi sayangnya, satu-satunya orang yang menjadi alasan saya tetep di sini malah nyuruh saya pulang (siyal). Bahkan dia nyante aja mengetahui kepulangan saya hanya tinggal hitungan hari (siyal kuadrat).

 

Pernah juga ada suatu saat, kala saya tengah bengong berdiri di dalam bus transjakarta saya dapati diri saya seolah gak percaya kalau kini saya itu di Jakarta. Ternyata anak manja kayak saya mampu juga hidup jauh dari keluarga. Ternyata saya yang selalu dilarang keras oleh orang tua saya untuk pergi ke luar kota tanpa didampingi oleh anggota keluarga bisa dengan mudahnya dapet ijin ngekost di Jakarta selama 5 bulan. Ya saya masih gak percaya ketika Ibu saya nyuruh saya ambil kerjaan ini dan ketika ayah saya manut kalem ajah.

Akhirnya sebentar lagi segala kesusahan saya di sini berakhir. Saya bisa kembali ke pelukan nyaman Ibu saya. Saya kembali ke kehidupan saya semula. Saya kembali bisa makan ikan keumamah buatan Ibu saya.

 

Ya. Sebentar lagi saya pulang.

Advertisements

7 thoughts on “Sebentar Lagi Saya Pulang

    1. iya pulang. kerja di sini? kayaknya untuk sekarang milih balik ke aceh aja dulu. entah nanti lah. tapi seenggaknya aku udah tau Jakarta itu gimana kalau entar aku balik lagi mengais rejeki di sini.

      Pacar? ah.. dia mah biarin aja dia-nya aja gak peduli ๐Ÿ˜›

  1. Kak Intan mau pulang….????

    Alhamdulillah, sesuatu banget ya ๐Ÿ˜€ Bhahahaha. Pulang sudah, biar ada yang pijitin kakinya kalo sakit kayak tulisan di blog tempo ari ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s