Kamu, Lelaki Sial

Saya harap kamu menyadari bahwa kamu sungguhlah termasuk jajaran lelaki malang.

 

Boleh saya mengatakan kata ‘sial’? Kasar ya? Hem.. ah.. saya memanglah perempuan seperti itu. Perempuan yang jauh dari kata lemah lembut. Iya. Saya perempuan kasar yang bila bicara selalu dengan nada yang tinggi, yang selalu orang pikir saya sedang marah-marah.

Baiklah. Saya katakan kamu sial. Boleh saya tertawa? Iya saya sedang menertawakan kamu. Maaf, saya tidak bisa berhenti tertawa. Saya gak sopan? Aah.. apalagi ini. Saya memang barbar.

Saya lanjutkan ya. Kamu adalah lelaki yang malang. Ah, tidak. Sial. Sungguh sial. Ya, saya memilih kata sial untuk saya padu padankan denganmu.

Kamu mengelak? Marah saya katakan seperti itu? Aah.. bagaimana bisa kamu pungkiri kalau kamu ini memang lelaki sial?

Begini saja, akan saya ingatkan kamu kalau kamu ini memanglah lelaki maha malang yang pantas dibilang sial. Kamu ingat, kamu menawarkan saya cinta. Iya cinta. Kamu menawarkan cinta pada perempuan berhati kw. Seolah-olah kamu lupa kalau saya baru saja dicampakkan. Ah iya, saya beri kamu tahu. Saya bahkan dicampakkan oleh dua lelaki, dan mereka mencampakkan saya tanpa berat hati yang mendalam. Lalu kamu malah susah payah menggapai saya untuk kamu berikan sebuah cinta. Aah.. dimana otakmu?

 

Kamu meyayangi saya. Itu katamu. Udah terlalu sering saya lihat roman muka kusutmu menghadapi polah saya. Kata kamu saya menyebalkan. Iya saya memang menyebalkan maka dari itu saya dicampakkan.

Kamu mencintai saya. Itu katamu. Lalu saya pun ingin menjalani kisah cinta bersamamu. Berharap kamu adalah lelaki super sabar yang sanggup menghadapi polah saya yang keterlaluan. Bagaimana tidak, seperti katamu, saya ini gak romantis, gak perhatian, cuek, bahkan untuk mengatakan ‘aku sayang kamu’ aja itu mesti meninggalkan gengsi saya di puncak Monas. Iya, kamu paham betul bagaimana saya masih mengutamakan gengsi saya ketimbang kamu.

Kamu menyayangi saya. Itu rasamu. Kamu selalu ragu apakah saya telah jatuh sayang padamu atau belum, karena tak sekalipun saya tampak peduli pada hidup dan harimu. Saya tetap tentang saya. Saya tetap apa-apa yang ada di kepala saya. Kamu tetaplah menerka-nerka apakah kamu telah punya lapak di hati saya.

Kamu mencintai saya. Itu katamu. Betapa mudahnya kamu menyebut kata ‘cinta’ pada orang yang tak percaya cinta. Lebih tepatnya kepada orang yang gak percaya cinta itu ada untuk hidupnya. Bukan karena baru saja dicampakkan. Jauh, sebelum mengenal hubungan asmara, saya adalah perempuan yang memandang sinis pada cinta.

 

Kamu mulai jengah karena saya memaki-maki kamu. Jangan berhenti membaca tulisan ini. Karena hujatan saya untuk kamu masih banyak.

 

Kamu mengira saya bak malaikat yang menyelamatkan hidupmu, kan? Kamu tau, bahkan malaikat penjaga saya meninggalkan saya ketika tau betapa saya ini sungguh nista. Saya menyelamatkan kamu? Sejatinya saya lah setan berbulu malaikat. Iya.

 

Bagaimana bisa kamu mencintai perempuan dengan sikap amburadul yang hanya menyusahkan hatimu? Apakah otakmu sudah kamu gadaikan? Apakah patah hatimu dulu begitu sakit hingga perempuan seperti saya pun kamu anggap mampu menawarkan lukamu?

 

Kamu, lelaki yang sungguh sial.

Iya. Sial. Mencintai perempuan seperti saya sungguh omong kosong.

Sikap saya yang mana yang patut kamu banggakan? Atau bentuk fisik saya yang mana yang kamu sukai?

Apa iya, perempuan dengan perut buncit yang selalu dikira sedang hamil 3 bulan itu bisa disebut seksi?

Apa iya, hidung pesek saya ini bisa mendulang wajah saya menjadi cantik?

Apa iya, tubuh kurus saya ini dikatakan menggoda?

Apalagi?

Bagian mana dari diri saya lagi yang harus saya katakan hingga seluruh dunia tau betapa buruknya saya, hingga mereka bisa berteriak di telinga kamu mengatakan ‘kamu mencintai perempuan yang salah”?

Bagian mana? Kurang cukup saya membuka aib saya?

Kurang?

 

Atau kamu berdalih inilah apa-apa yang disebut cinta?

Tentang penerimaan yang absurd namun nyata?

 

Jawab.

Jawab.

Saya minta kamu jawab.

 

 

Dan tolong katakan iya.

Katakan iya.

Katakan iya, inilah yang disebut cinta. Katakanlah saat ini saya sedang mengirup aroma cinta. Katakan iya pada perempuan berhati kw yang tak percaya cinta ini. Katakan pada saya, bahwa satu cinta memang telah Tuhan ciptakan untuk saya. Katakan, untuk perempuan seperti saya pun cinta itu ada.

 

Dan cinta itu kamu yang tawarkan.

 

Dan, bila kamu jawab iya.

Maka itulah cinta yang selama ini saya inginkan.

 

 

2 thoughts on “Kamu, Lelaki Sial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s