Menyerah Saja

“Kita menyerah saja yuk,” Ajak saya setelah benar-benar capek menghadapi semua hal urusan cecintaan ini. Betapa tidak, menyatukan perbedaan di antara kami itu sulit sekali.

“Gak,” Ucapnya bersikeras.

“Apa kamu gak capek pacaran-putus lalu pacaran dan putus lagi?” Saya bertanya.

“Capek sih. Tapi ini layak untuk diperjuangkan. Kamu, orang yang tepat untuk aku cintai”

 

Saya diam. Semilir angin sore memainkan jilbab merah jambu saya. Iya. Hari ini saya memakai warna kalem khas perempuan. Tidak memakai hitam. Sore ini cuaca bagus. Anginnya juga mengademkan.

Saya tarik nafas saya lalu saya pandangi wajah lelaki yang duduk di sebelah saya ini.

 

“Kamu tau. Aku bosan pacaran-putus-pacaran-putus. Iya, aku emang perempuan yang gak repot-repot mesti nembak. Aku tinggal anteng aja nunggu pernyataan cinta lelaki. Tapi aku capek. Aku capek beadaptasi lagi dengan orang baru lalu putus dan pacaran lagi yang skemanya melulu hanya begitu”

 

“Aku juga capek kayak gitu, Tan. Makanya aku gak mau kita putus. Lebih baik kita perjuangkan ini,” lelaki ini mulai bersikeras. Seperti biasa. Sama seperti pertama kali dia berusaha menawarkan cintanya untuk saya.

 

“Sudahlah, kita menyerah saja,” tawar saya gak mau kalah.

Senyap seketika. Hanya desau angin syahdu membalas pernyataan saya barusan. saya hadapkan tubuh saya menghadapnya.

“Kita menyerah saja, yak? Menyerah untuk ngeyel berharap akan ada cinta yang lebih bagus di luar sana untuk kita. Menyerah untuk berharap kalau kita bisa menemukan orang lain yang lebih baik dari kita sekarang,”

 

Saya genggam tangannya dan mata saya lurus menatapnya yang mulai kebingungan.

“Ya kita menyerah saja. Kamu jadikan aku yang terakhir untuk kamu, begitu juga dengan aku. Aku terima kamu yang begitu, kamu terima aku yang begini. Menyerah untuk mencari yang terbaik. Mari kita menjadi baik untuk menciptakan kebahagian kita bersama,” saya akhiri kalimat itu dengan senyuman.

 

Saya lihat wajahnya. Saya lihat ia hendak tersenyum.

“Kamu tuh, yaaaaa,” dia kehilangan kata-kata dan tangannya menjitak kepala saya pelan.

 

Ya.. angin kembali memainkan jibab merah jambu saya. Merah jambu. Warna ini serasa pas mewakili hati kami yang tengah merah jambu ini.

 

=======================================================

Romeo, take me somewhere we can be alone
I’ll be waiting, all there’s left to do is run
You’ll be the prince and I’ll be the princess
It’s a love story, baby, just say yes

Romeo, save me, they’re trying to tell me how to feel
This love is difficult, but it’s real
Don’t be afraid, we’ll make it out of this mess
It’s a love story, baby, just say yes

(Love Story- Taylor Swift)
 

Advertisements

One thought on “Menyerah Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s