Menuntut Persamaan Gender di Warteg

Kali ini untuk pertama kalinya saya menuntut persamaan hak.

Iya. Persamaan hak gender.

Begini ceritanya. Sebagai anak kost rantauan onion-emoticons-set-5-20 dan hidup kere onion-emoticons-set-6-84, kenyataan ada penemuan bernama warteg itu adalah suatu hal yang amat patut diacungi jempol. Ya, gimana gak, dengan modal paling sebesar 10 ribu saja saya bisa memuaskan nafsu makan liar saya plus menunya juga ala rumahan. Sungguh hebat, bukan? onion-emoticons-set-6-34

 

Nah, tetapi nih yak, selama hampir 4 bulan saya ngewarteg kala akhir bulan menjerat saya memperhatikan suatu fenomena yang amat menyebalkan bagi saya.

 

Apa itu? onion-emoticons-set-6-81

 

Begini. Di sini tuh ada istilah nasinya boleh setengah boleh penuh. Sebagai manusia pecinta makan gak mungkin donk saya pesen nasi setengah. Saya selalu pesen penuh. Berbeda dengan teman-teman saya yang keseringan pesen nasinya setengah aja. Okeh ini sih inpoh gak penting aja sih sebenarnya.

 

Begini. Saya perhatikan, si mbak warteg ini milih-milih ketika memberikan porsi nasi. Kalau untuk kaum lelaki porsinya lebih banyak dari porsi bila perempuan yang pesen. Padahal pesennya sama-sama satu porsi. Saya jengkel donk ketika mendapati hanya karena saya perempuan nafsu makan saya gak dihargai. Gak disamakan dengan lelaki. Bila dibandingkan dengan porsi lelaki, saya hanya seperti setengahnya porsi lelaki padahal kami sama-sama memesan satu porsi. onion-emoticons-set-6-102

Hedeeeeeeeeeeeuh..

Dunia (warteg) tidak adil, Jendral! onion-emoticons-set-6-10

 

Jadinya, sebagai perempuan, saya hanya bisa memandang iri pada porsi membludak di piring pelanggan lelaki. Saya dipandang sebelah mata hanya karena saya perempuan dan kurus pula. Pasti si mbak warteg mikirnya makannya saya dikit. Beuh. Suatu penghinaan ini.  onion-emoticons-set-5-65

 

Advertisements

11 thoughts on “Menuntut Persamaan Gender di Warteg

  1. aaaaah postingan ini sungguh mewakili aspirasiku, aku paling sebel jika sudah bilang satu porsi tetep aja dikasih setengah, sungguh tega sekali mbak2 warteg itu 😦

    1. Huooo..
      baiklah, suhu.
      lain kali akan saya praktekkan cara itu

      eniwei, kamu ini tukang gali yak?
      gali apa?
      gali lobang tutup lobang?
      atau gali kubur?
      #ditendang dari lapak sendiri 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s