Cinta Dalam Akuntansi

Kan saya sudah bilang, cinta kamu harus lebih banyak dari cinta saya.

 

“Aku sayang kamu,” Ucapmu suatu ketika.

“Ya, aku tau. Tapi apakah sayang kamu banyak?” saya menantangnya.

“Kamu gimana? Apakah kamu sayang yang banyak sama aku?” dia balik tanya

“Kan aku udah pernah bilang, sayang kamu tuh harus lebih banyak ketimbang rasa sayang aku. Ibaratnya nih ya, kamu ngasih aku rasa sayang bernilai 100 aku ngasih kamu 70.”

“Curang. Aku ngasih kamu 100. Kamu ngasih aku 150 donk.”

“Lah, aku kan Sarjana Ekonomi. Menurut paham kapitalis raihlah untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya”

“Gak bisa. aku ngasih 100. Kamu ngasih 150,” dia keukeh

“Gak. 70 itu udah harga mati deh. Harga pas. Gak pake tawar-menawar lagi. Itu untungnya juga udah kecil aku ambil,” saya gak mau kalah.

 

Keras kepala. Egois. Ngotot. Itulah saya. kamu harus terbiasa.

Moody. Menyebalkan. Manja. Itulah saya. Saya yang sama yang minta kamu mencintai saya dengan banyak tapi saya menyayangi kamu lebih sedikit.

Suatu hari kamu berkata bahwa yang kamu inginkan adalah rasa sayang timbal balik. Bukan sebelah pihak.

Hem.. begini saja. Saya ini Sarjana Ekonomi dengan background Akuntansi. Maaf kalau sifat konservatisme saya masih melekat kuat. Dan maaf juga kalau saya suka berspekulasi menyoal hubungan kita. Tapi begini saja, karena hubungan ini saya rasa amat material dan prospek ke depannya bagus, maka sudah sepatutnya kita bikin neraca cinta kita balance.

Bila kelak, ketika diaudit maka kita dapati neraca yang gak balance dan mungkin tingkat rugi yang signifikan, ada baiknya kita melihat ulang jurnal periode tahun lalu. Agar laporan cinta tahun berjalan menampilkan nilai yang sebenarnya. Semoga kelak saat auditor cinta mengaudit laporan kita dia akan memberikan opini Wajar dan lalu barulah bisa kita ajukan proposal kebahagian pada pemegang saham hidup kita agar merestui hubungan ini dunia akhirat dengan janji going concern.

 

Bagaimana kamu setuju?

Eh iya, kamu jangan lupa soal modal yang besar. Modal dengan label harta. Karena cuma dengan cinta kita gak bisa hidup, sayang.

Satu hal lagi, bila nanti laba yang kita hasilkan, jangan lupa ada zakat yang harus dipenuhi di dalamnya, dan juga ada pajak sebagai bukti kita warga negara yang baik.

 

 

Salam sayang dari Sarjana Akuntansi🙂

 

10 thoughts on “Cinta Dalam Akuntansi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s