Di Balik Uang

Para Junior Auditor dari Aceh yang memiliki kontrak kerja 5 bulan di Jakarta udah pada ditanyain sama Big Boss apakah kami bersedia lanjut bekerja sama dengan beliau sebagai karyawan tetap atau tidak. Kebanyakan udah pada memutuskan untuk pulang, termasuk saya. Ya.. meskipun sih, saya emang gak kebagian jatah tanya, khusus buat saya, kayaknya emang udah niat banget si Big Boss pulangkan. Huehehehehe..

 

Ada seorang dari kami yang amat memikat si Bos karena dia memiliki gelar Akuntan yang kami semua belum miliki. Gelar itu adalah nilai jual tinggi sebagai auditor. Si Boss pengen temen saya ini menjadi karyawannya. Singkat cerita kalaupun si temen saya mau gabung sama si boss dia pengen pulang dulu ke Aceh begitu kontrak sudah selesai barang 2 minggu atau sebulan untuk bertemu dengan keluarganya di Aceh. Si boss gak suka, katanya itu hanya bentuk pemborosan buang-buang uang karena toh tiket Jakarta-Banda Aceh itu mahal. Bukan 50 ribu.

 

Nah, bagian terakhirlah yang ingin saya bahas.

Buang-buang uang. Aah.. si boss kayak orang gak punya kampung deh. Gak ngerti dia mungkin rasa kangen pada keluarga itu gimana.

Bagi sebagian orang mungkin nih ya aksi melepaskan kangen itu bukanlah suatu yang bisa dikatakan sebagai ‘buang-buang uang’. Mungkin nih yak, menghabiskan uang sekita sejutaan lebih buat tiket pulang ke Banda Aceh untuk bertemu keluarga itu bukanlah suatu hal yang patut diperhitungkan sedemikian rupa. Dan ya, mungkin saja, si bos gak ngerti betapa dari bulan pertama kami di Jakarta kami sudah begitu merindukan kampung halaman kami, bumi Aceh tercinta.

 

Terkadang juga dari kita gak begitu maruk dengan yang namanya uang lembur bila badan kita udah terasa capek banget. Kadang kala kita lebih memilih pulang dengan waktu normal lalu dapat beristirahat di rumah dengan nyaman ketimbang memikirkan bulan depan uang gaji bertambah beberapa ratus ribu karena adanya lembur.

 

Kadang juga kita lebih baik dipotong gajinya ketimbang memaksakan diri masuk ke kantor kala sakit menyerang diri. Mungkin beristirahat dan tidak memikirkan pekerjaan untuk memulihkan kondisi suatu langkah yang bijak ketimbang takut gaji dipotong.

 

Ya, selalu saja ada alasan lain selain sibuk memikirkan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Selalu saja ada hal lain yang lebih berarti dari uang. Dan hal yang berarti itu berbeda-beda bagi setiap orang.

 

 

14 thoughts on “Di Balik Uang

  1. Nah… itu terkadang yang sering dilupakan orang…. Pulang kampung setelah sekian lama merantau itu selalu punya sensasi yang berbeda… Dan nggak ada nominal apa pun yang bisa menggantikannya…

    Betewe, mau pamer nih… pertengahan bulan depan aku mau pulang ke Medan…. Enam bulan di tanah Maluku bikin kangen juga sama suasana Medan…😉😉

    Intan kapan pulang???? *ngangekin*😀

  2. Itu namanya intangible utility *mnk ad istilah itu?* Suatu kepuasan yang g bisa diukur dgn itung2an pasti *sepertinya g ad istilah itu*

    Si bos g punya kampung halaman kali. Ah, sy pun pahami bgmn rindu akan kota halaman sy.

    Kota halaman.

    Tmpatnya kk msh kampung halaman y? ;))

    Btw, sy jg ud kangen liat kk pulang🙂 Aku mau jalan-jalan ke jakardaaaahhhh :(( :((

    1. Iya. tempat saya masih kampung. mall-nya pun cuma satu lantainya cuman 3. gramedia pun belum masuk😐

      kamu mau saya pulang?
      ngusir?
      ngusir?

      kapan main ke jekardah? gantian donk😀
      *siap2 ngebully part 2

  3. Saia juga rela tan menukar gaji saya selama sebulan dengan pulang ke kampung halaman bberapa hari saja. Tp apa daya kantor bukan punya moyang kita, dan saia terikat aturan disanaa :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s